Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Senyum Perjuangan Rasulullah

Senyum Perjuangan Rasulullah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tahukah engkau, bahwa perjuangan dakwah itu berat? Perjuangan yang mengorbankan banyak hal. Seperti harta, pikiran, perasaan bahkan waktu. Memang itulah keniscayaan dakwah. Karena Allah pun menjadikan musuh kepada setiap insan yang berjuang di jalan dakwah. Sehingga penghalang risalah dakwah, akan selalu hadir pada setiap lini kehidupan.

Tapi, apakah engkau memperhatikan bagaimana rasul membaca situasi genting dalam panggung dakwah? Bagaimana rasul merespon pahit getir jalan dakwah? Disinilah seni dalam berdakwah itu bekerja. Akumulasi dari matangnya kepribadian, akhlak yang agung, hingga kebesaran jiwa rasul menjadikannya pribadi yang tangguh. Itulah jawaban sederhana, mengapa buah dari perjuangan rasul selalu bertumbuh dan tidak termakan oleh batasan zaman.

Ada salah satu seni dakwah rasul yang kita bisa perlajari, yaitu senyum perjuangan. Apakah rasul hanya tersenyum saat memenangkan peperangan saja? Tidak! Rasul juga masih tersenyum, bahkan ketika beliau dizhalimi. Bagaimana ia dilempari batu saat di Thaif. Bagaimana cercaan Abu Jahal dan Abu Lahab datang tiada henti. Dan tak lupa, perlakuan buruk penduduk kota Makkah yang selalu memojokkan rasul, hingga rasul harus hijrah ke Madinah.

Disinilah senyum perjuangan rasul terlihat. Rasul tidak pernah merasa dendam terhadap orang yang menzhaliminya.  Iya memaafkan, dan memperlihatkan senyum yang bersahabat. Bahkan kita bisa belajar dari peristiwa pembebasan kota Makkah. Yang membuat banyak prajurit musuh berbondong-bondong masuk Islam. Karena sebuah akhlak yang agung, yaitu memaafkan.

Itulah kedahsyatan senyum perjuangan. Tidak pernah berkecil hati, meskipun orang lain bertindak zhalim. Selalu hadir kata maaf, untuk setiap kesalahan yang orang lain perbuat. Sehingga wajar, jika kelapangan dada itu selalu tersemat kokoh dalam jiwanya. Apalagi yang bisa hadir di balik jiwa senyum para pejuang, selain kebahagiaan menikmati perjalanan dalam dakwah?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus