Home / Pemuda / Cerpen / Kutemukan Suaramu dalam Shalatku

Kutemukan Suaramu dalam Shalatku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (quran-the-truth.blogspot.com)
Ilustrasi. (quran-the-truth.blogspot.com)

dakwatuna.com – Aku mengenalmu melalui kumandang azan yang kaulantunkan dari balik hijab sana. Tanpa pernah kutahu siapa dirimu itu. Aku mengagumimu, hanya lewat suara yang mengalun merdu itu. Tanpa peduli seperti apa rupamu, siapa namamu. Aku hanya mengagumimu. Itu saja.

Suatu hari, ketika terik matahari menusuk tulang, kembali kutangkap suaramu. Namun, kali ini, kau tak melantunkan azan seperti biasanya. Kau justru bertakbir dan melafalkan surat al-Fatihah dengan syahdu. Aku yang baru tiba di mushola dalam keadaan kegerahan tak karuan, langsung terduduk dan membisu. Menyimak bacaanmu yang entah bagaimana bisa seindah itu. Dan lagi, harus kuakui bahwa aku mengagumimu.

Terkadang, aku pun dihantui rasa penasaran tentang dirimu. Ingin sekali rasanya bertanya pada para perempuan berkerudung panjang yang biasa berlama-lama di mushola ini, barangkali di antara mereka ada yang mengenal suaramu. Sayangnya, aku tak seberani itu. Aku masih menjadi penikmat suaramu. Mendengarmu pun sudah lebih dari cukup bagiku.

Memasuki bulan kelima sejak aku menjadi pengagum suaramu, aku mulai merasa kehilangan. Tak ada lagi lantunan kumandang azan dengan suara khas yang telah kuhafal itu. Kutunggu dalam waktu shalat Zuhur dan Asar, dimana biasanya kudapati suaramu hadir sebagai pengisi imam dari balik hijab sana. Namun kenyataannya, kau tidak ada. hingga akhirnya kusadari, mungkin aku takkan pernah lagi mendapati suara itu hadir menyinggahi telingaku untuk kemudian memenuhi ruang hatiku.

Mungkin, tidak ada lagi.

***

“Dik, maaf ini terlalu mendadak. Bahkan kita pun belum terlalu saling mengenal.”

Aku masih tertunduk dalam gaun pengantinku yang serba putih itu. Lelaki jangkung berjanggut tipis itu duduk di sisiku. Mencoba mengamati wajahku yang masih menor dengan berbagai lapisan kosmetik.

“Kamu beres-beres dulu, ya. Biar aku mandi di luar saja.”

Ia bergegas mengambil pakaian dari lemari dan keluar kamar. Meninggalkanku dalam kebimbangan yang tak bisa kuterjemahkan.

Betapa jahatnya diriku ini. Menerima lamaran seorang laki-laki yang tak lain merupakan anak dari rekan kerja ibuku. Rupanya mereka telah lama mengatur perjodohan antara aku dan Mas Gandhi ini. Padahal, aku sendiri tak memiliki perasaan apa-apa kepadanya.

Kami baru bertemu dua kali sebelum hari pernikahan ini. Itu pun aku memilih cuek tak memperhatikannya. Aku hanya berusaha bersikap santun di hadapan keluargaku dan keluarga besarnya. Ya, hanya itu.

Apakah aku jahat?

Aku masih mengingat dengan jelas seperti apa suara yang kukagumi itu. Suara yang bahkan sudah tak kudengar selama tiga tahun lamanya. Lantunan ayat-ayat-Nya yang paling indah dibanding dengan bacaan murotal siapa pun. Aku masih… Masih sangat mengagumi suara itu, hingga kini aku telah menjadi istri seseorang.

Lelaki itu masuk ketika aku sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Aku pun terkesiap dan langsung menutup rambutku dengan handuk sekenanya. Masih begitu kaku dengan kehadiran laki-laki di dalam kamarku sendiri.

“Maaf, Dik. Tidak maksud membuatmu kaget,” ujarnya sambil tersenyum.

“I-iya… Maaf, Mas.”

Aku menyingkirkan handuk yang bertengger di kepalaku dan bergegas dengan kesibukan lainnya. Aku menyiapkan sajadah serta mengenakan mukena untuk salat.

“Jama’ah, ya?”

Tanpa menunggu jawabanku, ia telah menggelar sajadah di sisiku dengan jarak yang lebih maju ke depan.

Saat lantunan iqamah-nya tertangkap oleh indera pendengaranku, hatiku seketika bergetar. Ketika takbir menggema, kemudian disusul dengan bacaan surat al-Fatihah dan ar-Rahman, mataku tak mampu membendung ekspresi getaran hatiku ini. Airmata tumpah dalam salatku.

Aku mengenal betul suara ini. Suara yang telah kukagumi tanpa kukenal siapa pemiliknya.

Suara ini jelas adalah milik imam salatku, suamiku, Mas Gandhiku.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 8,52 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fadlillah Octa Noviari
Mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Seorang peramu aksara yang masih terus belajar untuk dapat meracik buah pikiran menjadi serangkaian aksara yang bermanfaat.
  • Adwa Qaisara Azalea

    nangis

  • Azhar

    tulisan yang bagus untuk dibaca.. semoga wanita sekarang masih ada yang seperti itu…

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan