Home / Narasi Islam / Sosial / Cinta Timbul Karena Benci

Cinta Timbul Karena Benci

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Love, cinta...dakwatuna.com – Mafhum bagi kita bahwa setiap hal di dunia ini tercipta berpasangan. Sadar atau tidak, kita pasti akan mengiyakannya. Tua-muda, besar-kecil, panjang-pendek, pria-wanita, kaya-miskin, hitam-putih, benci-cinta dan sebagainya. Itulah hidup. Semua mengandung perbedaan bahkan kadang berlawanan tetapi tidak semuanya bertentangan bahkan bisa saling beriringan.

Sebut saja, pria-wanita. Dua makhluk yang sama-sama manusia tetapi dalam berbagai sisi tetap saja membawa perbedaan yang terkadang berlawanan. Hanya saja ketika keduanya dipasangkan bahkan melebur menjadi satu, timbullah suatu kebahagiaan. Kebahagiaan yang setiap orang di dunia ini pasti menginginkannya, melalui ikatan pernikahan yang suci. Sehingga timbullah suatu paduan cinta yang istimewa dari dua hal yang berbeda dan berlawanan.

Benci Bilang Cinta

Sama halnya dengan sikap benci dan cinta. Dua hal yang saling bertolakan dan berlawanan bahkan kalau diibaratkan adalah dua kutub yang saling menjauh. Kebencian terkadang bisa diartikan dengan luapan emosi yang melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, antipati terhadap sesorang, atau pun hal lainnya hingga terkadang muncullah sikap menghindari, menghilangkan atau merusak hal yang dibenci.

Suatu saat kita bisa benci dengan orang lain. Entah karena fisik ataupun karena karakternya. Tetapi perlu kita pahami, banyak kebenciaan kita di masa lalu terhadap sesuatu bisa jadi akan menjadikan kita mencintai hal tersebut. Kebencian menghadirkan semangat dan konsentrasi seseorang untuk melihat sisi negatif dari orang lain sehingga tanpa disadari kita menjadi orang yang selalu memperhatikan orang yang kita benci. Pada titik tertentu, akan terjadi luapan emosi dimana apa yang dilakukan adalah hal-hal yang sia-sia. Dan pada akhirnya, ketika dia menemukan sesuatu yang selama ini jauh dari prasangka kebenciannya timbullah setitik cerita cinta terhadap orang yang dibencinya.

Contoh sederhana, tidak sedikit orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Kemudian mereka mengkaji kelemahan dan kekurangan Islam. Bahkan secara terang-terangan menentang Islam. Pada akhirnya, tidak sedikit pula yang terjatuh dalam lubang cinta terhadap Islam. Sehingga mereka membalikkan sikapnya dari benci menjadi cinta dengan menjadi seorang muallaf bahkan menjadi pendakwah Islam.

Masih ingatkah kisah Umar bin Khaththab dan Abu Sufyan? Mereka berdua adalah sosok kafir pada awal dakwah Islam masuk ke Mekkah. Sehingga ketika Islam datang,  mereka sangat membenci Muhammad dan Islam yang dibawanya. Tetapi sejarah Islam mencatat, mereka berbalik dari benci menjadi sangat cinta terhadap Islam. Bahkan kecintaan dan peranan keduanya dalam perkembangan Islam pada berikutnya tidak bisa kita pungkiri. Dan saya selalu yakin, pada setiap zaman akan selalu ada kisah-kisah senada seperti halnya kebencian dan kecintaan Umar bin Khaththab dan Abu Sufyan terhadap Islam.

Kebencian karena Ketidaktahuan

Kalau ditelisik lebih mendalam, kebencian itu ternyata timbul karena ketidaktahuan atau ketidakmautahuan terhadap yang dibencinya. Seseorang yang tidak tahu dengan benar apa yang dibencinya atau bahkan tidak mau tahu dengan apa yang sebenarnya yang dibenci tentu akan menimbulkan suatu prasangka keburukan yang terus menerus.

Masih ingatkah kisah Rasulullah ketika datang ke Thaif untuk berdakwah? Kebencian masyarakat Thaif menimbulkan ketidaksukaan kepada Rasul bahkan ketika itu Rasulullah dilempari batu hingga berdarah. Malaikat Jibril yang diutus Allah datang dan menyampaikan kalaupun Rasul berkenan maka malaikat penjaga gunung akan diutus untuk menghimpitkan/mengangkat gunung dan ditimpakan pada masyarakat Thaif agar mereka binasa. Tetapi dengan tenang dan penuh kemurahan, Rasulullah pun mendoakan masyarakat Thaif, “Ya Allah, berikanlah petunjuk pada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Aku hanya berharap kepada Allah, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam, semoga kelak keturunan mereka akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah.” Lalu apa yang terjadi? Dalam perkembangannya keturunan masyarakat Thaif kemudian menjadi pemeluk Islam yang taat.

Oleh karena itu, sangat bijak sekiranya kita mampu melihat sesuatu bukan dari kacamata benci dan suka. Akan tetapi dari kacamata manfaat dan mudharat. Kalau dalam hidup ini kita bertemu sesuatu yang memang tak memberi manfaat bahkan menciptakan mudharat, maka jauhilah. Bencilah sesuatu yang harus dibenci dan cintailah sesuatu yang memang pantas dicintai. Sebab menyayangi sesuatu yang akan memunculkan mudharat, sama halnya kita membinasakan diri sendiri.

Benci dan Cintailah secara Adil

Benci dan cinta adalah sesuatu yang terlihat sangat berlawanan. Tetapi pada titik tertentu, apabila keduanya dipersatukan, hingga meleburlah benci menjadi cinta maka energi dahsyat tentang makna cinta yang sebenarnya tumbuh dari sana. Yang perlu diingat bahwa dalam hidup selalu saja kita menemukan keterbalikan.

Orang yang mulanya benci bisa jadi suatu saat akan cinta. Akan tetapi, cinta yang dialami oleh seseorang, suatu ketika bisa berubah menjadi benci yang tak terkira. Oleh karena itu, sepantasnyalah pula bagi kita untuk menaruh keduanya pada posisi yang tepat. Pada posisi dimana keduanya tidak mendominasi perasaan. Karena benci  berlebihan hanya akan menimbulkan kekacauan dan permusuhan. Begitu pula, cinta berlebihan hanya akan menimbulkan kekecewaan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 3,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tama Yudhistira
Seorang pengajar tinggal di Surakarta yang senantiasa belajar memaknai hidup dan menuliskannya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization