Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Guru Profesional Berkaratker Trainer

Menjadi Guru Profesional Berkaratker Trainer

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)

dakwatuna.com – Guru sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peran yang sangat sentral dalam mewujudkan siswa yang berkarakter. Selain dituntut untuk menyampaikan materi yang sulit menjadi materi menyenangkan dan membuat siswa belajar sepanjang masa, guru juga dituntut untuk menjadi ‘guru’ yang digugu dan ditiru dalam arti yang sebenarnya.

Guru juga harus bisa menanamkan moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Memberi penghargaan kepada yang berprestasi dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk.

Selanjutnya, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran dan juga dalam kehidupan nyata. Yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik. Sehingga akhlak mulia (karakter) dapat terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.

Guru profesional memang banyak di tanah air ini. Tetapi guru profesional berkarakter trainer jarang dimiliki oleh kebanyakan guru. Guru dipandang profesional hanya sebatas penghargaan yang diberikan oleh orang lain kepadanya karena memang pengalaman dan pengetahuannya yang baik di saat mengajar. Akan tetapi, guru profesional yang memiliki karakter trainer adalah luar biasa.

Guru yang berkarakter trainer berbeda dengan guru kebanyakan. Mereka memiliki tampilan dan resep yang lebih menantang. Seperti apa guru profesional berkarakter trainer?

Guru profesional berkarakter trainer  adalah seorang Motivator. Yakni trainer yang mampu memotivasi peserta didik untuk mau melewati proses berlatih dengan maksimal, mampu memotivasi untuk terus melanjutkan proses belajarnya.

Ia juga seorang Edukator. Seseorang yang mampu melakukan edukasi, bukan sekedar mengajarkan. Trainer harus mampu memberikan contoh yang baik sebagai role model perbaikan bagi peserta didik.

Ia juga Fasilitator. Orang yang mampu membantu trainee menemukan jalan yang efektif dan efisien bagi peserta didik untuk berubah menjadi lebih baik.

Selanjutnya, ia adalah seorang Inspirator. Yang mampu menjadi inspirasi dan memberi inspirasi, serta mendorong untuk menebar inspirasi kepada peserta didik.

Terakhir, dia adalah seorang Akselerator. Sosok yang mampu menyediakan sistem pembelajaran yang cepat dan mudah bagi peserta didik untuk pembelajaran dirinya agar terjadi perubahan yang diharapkan.

Guru yang berkarakter trainer ini, harus mampu melakukan hal ini.

Pertama, harus memperhatikan bobot pembicaraannya  terhadap peserta didik. Jika kata-katanya membekas dan kesan yang mendalam di dalam jiwa peserta didik, begitu pula kata-kata yang melukai: akan membekas pada diri peserta didik.

Guru yang berkarakter trainer selalu menunjukkan sikap respek dan menghargai peserta didik secara positif. Mana mungkin peserta didik akan memiliki kesan jika guru sibuk dengan dirinya sendiri? Dengan pulpennya, dengan papan tulisnya atau dengan buku paket yang dipegangnya? Ia hanya sekali saja menghadapkan wajahnya kepada peserta didik yang dibinanya. Bagaimana mungkin cara mengajar seperti itu akan berkesan, menggigit atau menyengat ke hati peserta didik? Sedangkan komunikasi wajah saja tidak ada. Seorang guru yang berkarakter trainer harus mengumpulkan berbagai kisah, ilustrasi, penggambaran dan pendekatan yang sekiranya akan mampu memberikan gigitan, cengkeraman, sengatan dan sentruman.

Kedua, guru profesional berkarakter trainer harus menyisipkan humor dalam proses belajar mengajar. Humor menciptakan kesenangan belajar penuh tawa yang akan meningkatkan keingintahuan siswa dan mendorong mereka lebih kreatif. Loomas dan Kolberg (1993) menyatakan bahwa sifat humoris guru dan kemampuan guru menggunakan berbagai sumber untuk menciptakan suasana yang humoris akan membuat siswa lebih kreatif.

Leih lanjut ia, menyatakan, jika kelas merupakan lingkungan yang hidup, kreatif dan penuh tawa, maka murid dari segala usia memiliki saluran keluar alamiah. Dimana keingintahuan mereka berkembang. Guru yang tidak memiliki jiwa humoris bisa merancang humor dari awal seperti karikatur, kartun, cerita singkat/anekdot humor, dan lain-lain.

Ketiga, guru profesional berkarakter trainer ketika mengajar telah merancang penampilan terbaik ketika tampil di hadapan peserta didik. Ia juga berpenampilan rapi disesuaikan dengan tempat dan situasi kita berada.

Keempat, guru profesional berkarakter trainer selalu memotivasi peserta didik untuk sukses. Motivasi ini sangat penting bagi peserta didik. Ketika guru akan mengajar, ia sudah menyisipkan kata-kata motivasi dosis tinggi dalam proses belajar mengajar. Kata-kata yang bisa disampaikan seperti: Kamu bisa, Mantap, Terus lakukan, Pantang menyerah,Yakinlah kita akan berhasil, Ayo semangat, dll. Selain dengan kata-kata, ada yang lebih ampuh seperti dengan gerakan non verbal seperti acungan jempol, dan gerakan tubuh yang bisa memberikan kesan positif kepada peserta didik.

Kelima, guru profesional berkarakter trainer harus mengaktifkan kedua belahan otak peserta didik yaitu otak kiri dan otak kanan. Peserta didik belajar baru sebentar sudah merasa jenuh tetapi ketika ia menonton film kartun tiga jam, tidak ada sedikitpun terlontar kata-kata mengeluh dari mulutnya.

Sekarang pertanyaannya, mengapa saat belajar otak anak merasa penuh sedangkan saat menonton film kartun otak mereka tidak pernah merasa penuh? Saat menonton film kartun, anak menggunakan kedua belah otaknya. Otak kanannya dipakai saat dia menikmati gambar, warna, dan berimajinasi. Sebaliknya, otak kirinya dipakai saat dia mendengarkan percakapan, membaca teks, dan mengikuti alur cerita. Di sisi lain, saat belajar, anak hanya menggunakan otak kirinya. Sebaiknya ketika guru mengajar, libatkanlah kedua belahan otak peserta didik dengan memberikan warna, gambar, musik, mind map, dan teknik mengingat/belajar.

Keenam, guru profesional berkarakter trainer harus memberikan sugesti yang positif kepada peserta didik. Secara etimologi, sugestif barasal dari bahasa Inggris suggestion yang artinya saran yang memberikan kesan. Dengan demikian, dapat diartikan sebagai bersifat memberikan saran yang meyakinkan atau memberikan kesan (Echols: 1993). Dalam Oxford Dictionary (1994) disebutkan bahwa sugesti adalah memberikan gagasan ke dalam pikiran bawah sadar seseorang, dengan cara menghubungkannya dengan gagasan yang lain.

Guru yang sugestif berarti guru yang memberikan gagasan ke dalam pikiran bawah sadar peserta didik. Dimana gagasan tersebut dapat diolah dan dihubungkan dengan gagasan lain, sehingga menimbulkan makna yang baru bagi peserta didik. Kenapa sugesti diperlukan? Sugesti diperlukan untuk mengarahkan peserta didik agar menemukan yang terbaik untuk hidupnya.

Peserta didik mempunyai perasaan negatif tentang belajar. Kenangan alam bawah sadar mereka mengatakan bahwa belajar adalah sebuah persoalan atau tindakan yang sulit. Jika mereka tidak menggantikan pikiran negatif ini dengan yang positif, maka pembelajaran selamanya akan terhalang. Asumsi negatif cenderung menciptakan pengalaman negatif.

Oleh karena itu, sugesti diperlukan -selain untuk menanamkan gagasan baru-, juga untuk menghilangkan asumsi negatif yang salama ini sudah tertanam di benak siswa. Sugesti yang kita berikan kepada siswa tidak boleh menimbulkan kesan bodoh, dangkal, tidak bisa dipercaya atau berlebih-lebihan. Tetapi harus jujur, realistis, apa adanya dan tidak bertele-tele. Guru yang mensugesti peserta didik adalah yang kata-katanya senantiasa menyejukkan dan penuh makna, mengubah dan menggugah, menguatkan tidak melemahkan, mengajak tidak mengejek, membangkitkan tidak menjatuhkan. Ia yakin bahwa peserta didik bukan tidak mampu belajar, melainkan tersumbat kemampuannya.

Ketujuh, guru profesional berkarakter trainer sebelum memulai pembelajaran memberikan brain gym.  Ini sangat baik dilakukan pada awal pembelajaran. Terlebih lagi apabila diiringi dengan lagu atau musik yang bersifat riang dan gembira. Brain gym juga bisa dilakukan untuk menyegarkan fisik dan pikiran murid setelah menjalani proses pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi yang mengakibatkan kelelahan pada otak.

Kedelapan, guru profesional berkarakter trainer dapat mengubah proses belajar menjadi sebuah pesta yang menyenangkan. Dia dapat mengubah cara berpikir seseorang dalam waktu yang singkat. Kehadirannya sangat dinantikan banyak orang, terutama siswa-siswanya yang merindukannya. Perubahan cara berpikir ini penting, karena seseorang akan berubah sikapnya apabila cara berpikirnya sudah berubah.

Guru yang mengubah cara berpikirnya, maka sikapnya akan berubah. Jika sikapnya berubah, maka nasibnya akan berubah. Jika nasibnya berubah, maka penghasilannya akan berubah.

Kesembilan, guru profesional berkarakter trainer merancang proses pembelajaran bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Karena bermain adalah cara yang paling alamiah bagi kita. Manusia mempelajari hal-hal yang baru. Kalau kita cermati, banyak sekali materi-materi yang membosankan dan sulit dipahami oleh siswa-siswa kita.

Fenomena yang terjadi, guru mengajar di depan kelas dengan banyak berbicara (teacher centre) menggunakan buku yang tidak menarik karena hanya terdiri dari tulisan berwarna hitam dengan latar belakang kertas warna putih. Lalu, bagaimana kita memberikan warna dan kehidupan pada materi yang tanpaknya kurang diminati murid? Sebenarnya cukup dengan sedikit pemikiran kreatif , maka seorang guru akan mampu membuat murid belajar dengan penuh antusias, cepat dan dengan tingkat pemahaman yang tinggi.

Kesepuluh, guru profesional berkarakter trainer selalu menjadikan musik sebagai iringan dalam proses belajar mengajarnya. Salah satu musik yang baik digunakan adalah musik Baroque karya Mozart.  Apakah kita harus selalu menggunakan musik klasik? Tentu tidak! Tetapi untuk tahap awal sebelum kita mahir dan  mengerti. Setelah itu, silahkan mencoba musik lain.

Musik yang dipakai dalam proses pembelajaran tidak sembarang musik, tapi  disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk memasukan informasi, gunakan musik dengan tempo 55-70 bit permenit. Untuk diskusi dan kerja kelompok, gunakan musik yang lebih aktif dengan tempo 100-140 bit per menit. Penggunaan musik harus disesuaikan dengan proses belajar. Seperti musik untuk membuka pembelajaran, memperbaiki dan meningkatkan semangat, membangkitkan energi untuk relaksasi, kegiatan fisik, praktik dan untuk menutup pembelajaran.

Menjadi guru profesional berkarakter trainer merupakan impian setiap guru. Guru berharap kehadirannya dapat mewarnai diri, hati dan pikiran anak didiknya dalam mengantarkan mereka menuju tangga kesuksesan.

Menjadi guru profesional berkarakter trainer tidak sebatas disenangi anak didik, ditunggu kehadirannya, didengar perkataannya, diteladani sikapnya. Namun jauh dari itu, guru yang melekat di hati dan pikiran anak didik. Selalu dibela, dicintai sepenuh hati. Bahkan nama dan jasanya dikenang sepanjang masa. Sekalipun sosoknya sudah berkalang tanah menghadapi Penguasa Jagad Raya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dasril, M.Pd
Guru SDN 10 Sapiran Kota Bukittinggi. Jl. Sertu kamaruddin kec. Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi asli sumpur Kudus Kec. Sumpur Kudus Kab. sijunjung. hobi membaca dan menulis serta mencari inspirasi dimana saja, kapan saja dengan siapa saja, dan mendidik dengan sepenuh hati dan sepenuh hari.

Lihat Juga

MA (kanan) dan ayahnya, Adnan Achmad (kiri). (Foto: tribunnews)

Siswa dan Orangtua yang Terlibat Pemukulan Guru di Makassar Jadi Tersangka