Home / Narasi Islam / Sosial / Poduktif Selama Perjalanan, Mengapa Tidak?

Poduktif Selama Perjalanan, Mengapa Tidak?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Beberapa orang tengah asyik membaca Al-Qur'an di sebuah metro (kereta bawah tanah) Kairo, Mesir. (inet)
Ilustrasi – Beberapa orang tengah asyik membaca Al-Qur’an di sebuah metro (kereta bawah tanah) Kairo, Mesir. (inet)

dakwatuna.com – Di tengah hiruk-pikuk kampanye dan sarana transportasi yang digunakan para jurkam saat ini, saya tertarik untuk melihat bagaimana visi dari parpol dalam bidang transportasi. Sayangnya, sejauh ini saya tidak menemukan visi dan program yang jelas dari website resmi partai maupun dari wacana yang dilemparkan oleh para politisinya di media, selain hujatan atas kemacetan dan rencana pembangunan jalan dan jembatan baru untuk mengatasinya. Padahal, berbagai penelitian telah menyimpulkan bahwa penambahan jumlah jalan malahan semakin memicu bertambahnya jumlah kendaraan yang berujung kepada semakin meningkatnya kemacetan.

Di sisi lain, isu angkutan umum masal malahan mandeg dan tidak fokus. Padahal, penggunaan angkutan umum masal sangat berpotensi untuk mengatasi kemacetan, mengurangi pencemaran dan memperlancar pergerakan orang dan barang. Selain itu, salah satu keuntungan dari penggunaan angkutan umum yang nyaman adalah adanya kesempatan untuk memenfaatkan waktu selama dalam perjalanan tersebut untuk kegiatan-kegiatan positif seperti membaca, menulis dokumen, negosiasi bisnis dan lain sebagainya.

Terkait dengan pemanfaatan waktu perjalanan di angkutan umum, menarik sekali berita yang dimuat di berbagai media sekitar tanggal 17 April 2013 lalu (antara lain di Detik.com, Okezone.com, Republika.co.id dan Inilah.com) mengenai sebuah rapat penting strategi pemenangan pemilu oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dilaksanakan di atas kereta api dalam perjalanan menuju Semarang. Yang menarik bagi saya, bukan partai politiknya atau hasil rapatnya, melainkan mengenai bagaimana pemanfaatan waktu perjalanan yang sangat positif dari orang-orang di partai politik tersebut.

Trend penggunaan waktu perjalanan secara positif seperti ini sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan ahli transportasi di negara-negara maju. Tidak saja karena kegiatan tersebut bermanfaat, namun juga karena pada beberapa hal memungkinkan terjadinya perubahan kebijakan di masa yang akan datang.

Dalam kebanyakan penghitungan keuntungan suatu proyek transportasi, penghematan waktu perjalanan menjadi komponen yang sangat penting. Hal ini didasarkan pada teori bahwa waktu perjalanan adalah waktu yang terbuang. Waktu adalah bagian dari sumber daya yang harus dikorbankan untuk bisa sampai ke tempat tujuan dan melakukan aktifitas di tempat tersebut. Makanya tidak heran, bagi sebagian orang, lebih baik membayar lebih mahal asal bisa sampai di tempat tujuan dengan lebih cepat.

Namun belakangan, teori tersebut mulai dipertanyakan. Pada kenyataannya, waktu perjalanan bukanlah waktu terbuang. Waktu tersebut bisa dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan positif. Apalagi saat ini keberadaaan berbagai alat teknologi informasi dan komunikasi seperti jaringan internet melalui saluran 3G atau 4G, Wi-Fi, laptop, computer tablet, e-book reader, smartphone dan sebagainya sudah menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Dengan dukungan teknologi tersebut, mengubah waktu perjalanan menjadi waktu yang produktif sangat dimungkinkan. Setidaknya, waktu perjalanan akan terasa lebih menyenangkan.

Pengalaman Negara Maju dan Relevansinya dengan Indonesia

Penelitian yang Penulis lakukan di Inggris, menunjukkan bahwa mayoritas pengguna kereta api memanfaatkan waktu perjalanannya dengan membaca buku, bekerja dengan komputer, membaca/menulis e-mail. Ada juga yang mengaku menikmati pemandangan atau mendengarkan musik, namun jumlahnya tidak banyak. Seorang manajer di sebuah perusahaan besar di Inggris mengaku selalu menggunakan kereta untuk perjalanan bisnisnya karena selama perjalanan tetap bisa menyelesaikan pekerjaan kantornya. Dengan demikian, sekembalinya dari perjalanan, pekerjaan kantor tidak menumpuk.

Hal ini menunjukkan betapa tingginya pemanfaatan waktu bagi masyarakat Inggris. Bagi sebagian kalangan, waktu perjalanan adalah waktu yang sangat produktif karena bisa berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan tanpa gangguan dari sejawat seperti jika melakukan pekerjaan di kantor. Bagi sebagian yang lain, waktu perjalanan dianggap sebagai “sebuah hadiah” dimana orang yang melakukan perjalanan mendapatkan tambahan waktu yang bisa dimanfaatkan untuk diri sendiri, terbebas dari rutinitas (baik rutinitas kantor maupun rutinitas rumah tangga) atau yang lebih dikenal dengan sebutan me time.

Salah satu dampak positif turunannya adalah beralihnya pelaku perjalanan dari penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum yang tentunya sangat relevan dengan kondisi di Indonesia. Dimana hampir semua kota-kota besar di Indonesia sudah mengalami tingkat kemacetan yang sangat parah. Jika sebagian pengguna angkutan pribadi berpindah ke angkutan umum, maka tingkat kemacetan bisa ditekan.

Di Indonesia, kebanyakan pengguna angkutan umum adalah pengguna captive yang tidak punya pilihan lain selain angkutan umum. Orang lebih cenderung menggunakan kendaraan pribadi karena layanan angkutan umum masih belum sesuai harapan. Kebanyakan masih melewatkan waktu perjalanan di angkutan umum dengan berbincang-bincang atau sibuk dengan media sosial. Diakui, bahwa aktifitas ini cukup membantu mengurangi kebosanan selama perjalanan, namun sebenarnya masih banyak alternatif kegiatan lain yang lebih produktif yang bisa dilakukan terutama bagi pengguna kereta api dan bus.

Pemanfaatan waktu perjalanan ini akan lebih efektif jika kondisi dan layanan angkutan umum sangat baik. Ada banyak ruang bagi pemerintah dan operator untuk mendorong dan memfasilitasi pemanfaatan waktu perjalanan ini. Ruangan kendaraan haruslah dikondisikan seperti layaknya ruangan kerja. Ruangan mestinya bebas asap rokok dan bebas dari gangguan baik yang berasal dari sesama penumpang maupun gangguan dari pihak lain seperti pengamen, pedagang dan peminta-minta. Pemerintah juga mesti bisa melakukan pencegahan dan penangkalan terhadap kemungkinan terjadinya tindak kejahatan di angkutan umum seperti penodongan dan pencopetan. Hal ini pada akhirnya, akan membuat orang cenderung menggunakan angkutan umum terutama untuk perjalanan yang cukup jauh. Waktu perjalanan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain yang lebih produktif.

Adalah suatu kemajuan yang sangat berarti ketika ada sebuah organisasi yang memulai mengkampanyekan pemanfaatan waktu perjalanan ini dengan melaksanakan sebuah rapat penting selama perjalanan. Lebih bermakna lagi karena aktifitas ini dimulai oleh sebuah partai politik yang notabene adalah bagian dari pembuat kebijakan. Dalam ajaran Islam, waktu perjalanan merupakan waktu yang sangat istimewa dimana doa yang dilantunkan oleh pelaku perjalanan (musafir) adalah maqbul (terkabulkan doanya, red).  Semoga ke depannya, masyarakat Indonesia lebih bisa memanfaatkan waktu perjalanan dengan kegiatan yang lebih positif.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Yosritzal, PhD
Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Andalas, Alumni Transport Operations Research Group, Newcastle University, Inggris. Bidang keahlian penulis adalah Psycho-transport dan travel behaviour (perilaku pelaku perjalanan); public transport (angkutan umum), dan transportation planning and modelling (pemodelan transportasi).

Lihat Juga

Pilkada DKI

Tak Usung Kader Sendiri, Ini Pertimbangan PKS Usung Anies-Sandi