Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Peringatan Bagi Predator Rokok: Bagimu Rokokmu, Bagiku Prinsipku

Peringatan Bagi Predator Rokok: Bagimu Rokokmu, Bagiku Prinsipku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi Kandungan Rokok (tuberose.com)
Ilustrasi Kandungan Rokok (tuberose.com)

dakwatuna.com Ini adalah tulisan ketiga dari seri “Peringatan bagi predator rokok”. Sebelum saya memulai, izinkan saya menyampaikan hasrat di dalam hati saya kepada sahabat-sahabat pembaca rahimakumullah. Sungguh, saya tahu akan ada banyak pihak yang merasa tersindir, atau paling tidak tersentuh hatinya oleh rasa tidak suka, baik pada penulisnya atau pada tulisannya. Itu dikarenakan mungkin banyak hal yang bisa menyinggung perasaan. Maka, haturkanlah kemaafan pada diri saya. Semoga kita termasuk golongan yang disebut dalam Al-Qur’an, “…orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti hal-hal baik di dalamnya…”

Pada tulisan ini, mari kita tingkatkan kesadaran. Usia kita yang sedikit di kehidupan dunia ini hendaknya berguna untuk banyak hal positif. Tidak hanya habis dimakan ketidakbermanfaatan, bahkan mudharat. Untuk itu, mari kita jawab beberapa pertanyaan sederhana tentang rokok yang kerap mencuat dari lisan predatornya ini.

Satu, “Perihal rokok adalah masalah kecil, tidak perlulah dibesar-besarkan. Toh, masih ada banyak masalah besar yang layak kita pikirkan. Maka, kenapa kita tidak berfokus pada masalah besar itu saja?”

Untuk pertanyaan pertama ini, izinkanlah saya menghaturkan jawaban dengan tenang; bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah besar kalau kita tak mampu menyelesaikan masalah yang kita pandang kecil?

Saudaraku, mengutip istilah Ust Salim A. Fillah, ini adalah jawaban yang memerlukan jawaban. Ya, kita bisa kategorikan rokok itu dalam masalah kecil. Lantas bagaimana? Bukankah artinya aktivitas merokok itu tetap menjadi masalah kalaupun porsinya kecil? Inilah yang ingin saya sampaikan, hendaknya kita cetuskan semangat untuk menyelesaikan permasalahan dan persoalan yang ada di dalam kehidupan kita. Kelak, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua tindak-tanduk kita di dunia ini. Maka, kalau kita tidak membiasakan diri menyelesaikan masalah-masalah kecil, bagaimana bisa tumbuh kebijaksanaan untuk meyelesaikan masalah yang lebih besar?

Dua, “Aktivitas merokok adalah aktivitas pribadi. Tidak usah dipermasalahkan. Kalaupun berdosa, yang menanggung hanya pelaku saja. Tidak ada pihak lain yang dirugikan. Bukan begitu?”

Wah…, betapa beraninya manusia terhadap kata “dosa”, padahal tidak ada manusia yang mampu menanggung siksa Allah walau sekecil-kecilnya siksa. Dalam hal ini, mungkin memang benar bahwa hanya pelaku yang akan menanggung dosa akibat aktivitas merokok (kalau yakin aktivitas itu menyebabkan dosa). Namun, yang lain juga bisa terkena dosa. Sebabnya bukan karena mereka ikut merokok, tapi bisa karena mendiamkannya.

Ilustrasi lain; kalau Anda melihat seseorang mencuri uang rakyat (korupsi), Anda punya bukti tentang perilaku kejahatan ini, tetapi Anda tidak melaporkannya (mendiamkannya), itu berarti Anda berdosa juga. Kenapa? Karena akan ada begitu banyak kerugian yang muncul akibatnya.

Nah, begitu pula dalam hal rokok. Setahu saya, apabila kita melakukan sesuatu yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, maka kita sudah dikatakan berdosa. Kalaupun (merokok) belum ada label haramnya secara jelas. (Eh, bukankah yang lebih banyak mudharatnya memang menjadi keharaman? Bukankah keharaman itu hanya diletakkan kepada sesuatu yang banyak mudharatnya?)

Tiga, “Rasanya, kalau perdebatan tentang rokok ini diteruskan, akan ada begitu banyak pertentangan. Bisa-bisa, persaudaraan kita akan semakin memudar ikatannya. Hanya sebab sebatang rokok. Bagaimana ini?”

Izinkanlah saya mengajak untuk men-tadabburi kembali surat Al-‘Ashr yang kata Imam Syafi’i, “kalau saja manusia berpikir dalam-dalam tentangnya, maka cukuplah surat itu bagi mereka”.

Kita diperintahkan oleh Allah untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kesabaran. Ruh persaudaraan itu terbangun bukanlah saat kita tidak pernah ada konflik. Permasalahan itu adalah sesuatu yang pasti kehadirannya. Tugas kita bukan untuk mengesampingkan penyelesaiannya dengan alasan menjaga ukhuwah. Tetapi, tetap dalam prinsip; ingatkan yang salah untuk kembali pada kebaikan, ingatkan yang sudah benar untuk besabar.

Bagaimana hasil akhirnya adalah rahasia Allah. Yang jelas, Allah telah mempersiapkan kebaikan dan pahala bagi hamba-Nya yang tetap teguh memegang prinsip ini. Mujahadah itu dimulai dari hal yang kecil. Setidaknya, dalam hal ini, kita harus menunjukkan kesungguhan.

Harapannya, semoga kita terlepas dari tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat. Semoga Allah memudahkan diri kita untuk menerima hidayah. Semoga Allah tanamkan kesadaran dan kesabaran sekaligus di dalam hati kita. Allahumma Amiin.

Wallahu A’lam Bishshawwaab.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Orang-orang yang Dimurkai Allah