Home / Pemuda / Cerpen / Menantu Idaman

Menantu Idaman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: xdesktopwallpapers.com)
Ilustrasi. (Foto: xdesktopwallpapers.com)

dakwatuna.com“Pokoknya aku ndak mau menikah!”  Tangis Sri terdengar semakin kenceng. Dia merasa sebal sama bapaknya. Sudah beberapa lelaki datang untuk meminangnya tapi tak ada satupun yang direstui sama bapak. Padahal Sri sudah kepingin sekali nikah. Tapi boro-boro bisa cepat nikah, calon saja masih belum punya. Ya, itu gara-gara bapaknya Sri yang terlalu memilih.

“Wong yang mau nikah aku kok bapak yang ribut to Bu? Memangnya bapak pingin calon yang gimana lagi tho?” Sri masih belum nrimo dengan sikap bapaknya terhadap laki-laki yang meminangnya. Sementara Bu Marni- ibunya Sri masih diam saja. Dia membiarkan putri semata wayangnya itu menumpahkan unek-uneknya. Tangannya tak henti mengelus kepala Sri yang masih berleleran air mata. Bu Marni menghela napas panjang, mencoba menenangkan.

“Sabar nduk, mungkin bapakmu pingin yang terbaik untukmu.” Bu marni mencoba menjelaskan, meski sebenarnya dia juga ndak ngerti dengan kelakuan suaminya yang menurutnya terlalu pemilih untuk milih calon mantunya.

“Terbaik, sih terbaik Bu. Tapi terbaik yang gimana. Lha wong Kang Salim itu yo apik. Lulusan sarjana, jebolan pondok pesantren, udah ngajar di madrasah tapi tetep aja ditolak sama bapak! Sri ndak ngerti bapak mau mantu seperti apa tho?”. Tangis Sri tambah kenceng, Bu Marni jadi kewalahan menghadapi anak gadisnya itu. Dia mengerti betul perasaan putrinya. Di usia yang cukup matang, hampir 30 tahun dia belum juga bersuami jadi wajar kalau dia ingin segera menikah. Bukannya tidak ada laki-laki yang tidak mau dengan putrinya, tapi karena ya itu bapaknya Sri belum mantep sama laki-laki yang tiap kali datang untuk meminang Sri. Setiap kali ditanya alasannya, suaminya itu cuma bungkam. Kalau sudah begitu, Bu Marni tak berani lagi bertanya perihal penolakan itu. Takut suaminya marah. Tapi dia juga kasihan sama Sri yang tak kunjung menemukan suami idaman bapaknya.

“Ya sudah, nanti kamu tanyakan saja sama bapakmu. Beliau pengin mantu yang bagaimana? Kalau ibu sih manut Sri saja, kalau Sri suka ya ibu suka.”

“Aku udah tanya sama bapak ko, Aku juga udah usaha cari calon suami sesuai dengan keinginan bapak. Tapi lagi-lagi ya itu, bapak menolaknya. Sri jadi ndak enak sama Mba Ningsih Bu.” Bu Marni mengerti, Ningsih anaknya Kyai Somad itu memang sering membantu Sri untuk mencari jodohnya. Karena terkenal alimnya itu Sri percaya kalau calon suami yang dibawa Ningsih memang berkualitas. Bu Marni sendiri juga percaya sama Ningsih, tapi lagi-lagi ya itu. Suaminya ndak  pernah ada yang sreg sama calon yang dibawa Ningsih untuk Sri.

“Ya sudah, nanti Sri minta maaf aja sama Mbak Ningsih yo?”

“Pasti Bu, wong aku udah sering ngrepotin. Tapi aku musti bilang apalagi sama Mbak Ningsih Bu? Aku juga ndak enak sama teman-temanku yang lain. Kesannya itu lho aku terlalu pemilih, makanya sampai sekarang aku belum juga nikah.”

“Yowis, poko’e nanti kamu matur lagi sama bapak, biar  semuanya gamblang. Sebenarnya bapakmu pengin yang bagaimana.” Sri diam, lalu Bu Marni juga ikut terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak lama Sri ngomong lagi.

“Dulu bapak pengin punya mantu anak pesantren Bu. Lalu Mba Ningsih ngenalin Sri sama Kang Hanif jebolan Pesantren Luwungragi Brebes. Pas bapak kenalan sama Kang Hanif katanya gak sreg. Bapak ndak suka sama Kang Hanif gegara kurang mapan, cuma jualan kitab kuning tok katanya. Trus bapak dikenalin lagi sama Mas Pur yang sudah pegawai dan mapan, masih juga ndak sreg. Katanya akhlaknya ndak bagus, Mas Pur suka ngrokok dan suka ngebut kalo naik motor. Terakhir sama Kang Salim, udah jebolan pondok pesantren, akhlaknya bagus, mapan, ganteng lagi masih juga ditolak sama bapak. Ya Sri bingung tho Bu. Bapak iki maunya kepripun? Menurutku Kang Salim itu sudah pas buat Sri Bu?”

“Sabar dulu nduk, mungkin bapakmu punya alasan yang kuat kenapa ndak merestui kamu sama Salim itu. Lagi pula baik menurutmu kan belum tentu baik bagi Gusti Allah. Yowis, dari pada kamu bingung mending tanya’ke bapakmu wae.”

***

“Jadi kamu ndak mau nikah Sri?” Sri menggeleng, dia sudah malas membahas tentang pernikahan lagi sama bapaknya. Bapak diam, menghela napas. Lalu bertanya lagi.

“Kata ibu kamu pengin tahu kenapa bapak  ndak merestui kamu sama Salim?” Sri cuma manggut. Rupanya rasa sebel sama bapaknya belum juga hilang.

“Sebenarnya bapak sudah suka sama Salim, tapi bapak ndak suka sama Warjo bapaknya Salim itu. Warjo itu kasar, wataknya keras suka maki-maki anaknya. Lha bapak ndak ingin kalau kamu nanti nikah sama Salim trus dimarah-marahin sama Warjo. Bapak gak trima nduk, anak semata wayang bapak dibentak-bentak.” Ucap bapak menjelaskan. Dalam hati Sri mengiyakan perkataan bapaknya. Dia mengakui kalau dirinya itu cengeng. Pernah suatu ketika dibentak dikit sama bapaknya juga langsung nangis, maklum Sri memang agak manja waktu itu. Meski sekarang bapaknya yakin kalau Sri sudah bertambah matang sekarang.

“Lalu aku harus bagaimana Pak? Aku ndak mau dicap perawan tua yang ndak laku-laku. Takutnya nanti ndak ada lagi yang mau sama Sri.”

“Kamu ndak boleh ngomong gitu nduk, pasti Gusti Allah bakal ngasih lagi yang lebih baik. Sabar aja.” Sri diam, dia memain-mainkan ujung jilbabnya. Bapak Sri menatap anak semata wayangnya itu sambil tersenyum.

“Bapak ingin kamu menikah Sri. Menikah itu sunnah Rasul. Jadi jangan bilang kalau kamu ndak mau nikah.”

“Sri mau sabar, Sri mau nikah tapi ada syaratnya.” Sri diam sebentar, menunggu reaksi dari bapaknya.

“Opo syaratmu nduk?”

“Bapak ndak boleh lagi nolak calon yang diajukan Sri. Bapak percaya aja deh sama Sri, kan Sri yang mau ngejalanin nantinya. Sri pasti bakal cari yang shalih pak, yang baik agama dan akhlaknya.”

“Yang mapan juga ya nduk, meskipun bukan jebulan pesantren juga ndak apa-apa.”

“Kalau belum mapan gimana pak? Apa bapak mau nolak lagi?”

“Yo ndak.” Bapak menghela napas lagi.

“Sebenarnya bapak gak memaksamu untuk mencari lelaki yang mapan. Cuma bapak khawatir saja kalo nanti kebutuhan sandang panganmu gak tercukupi. Masa bapak enak-enakan hidup kecukupan sementara kamu kekurangan.”

Sri mengerti kekhawatiran bapaknya itu, sejak kecil hidupnya memang berkecukupan. Semua keinginannya hampir dipenuhi semua sama orang tuanya. Meski begitu, Sri tidak terlalu bergantung pada kekayaan orang tuanya. Buktinya dia mandiri waktu kuliah, tak pernah minta tambahan uang bulanan meski kadang tak mencukupi karena banyaknya tugas dan buku-buku kuliah yang harus dibeli. Dia bekerja sampingan ngelesi anak-anak SD dan jadi asisten dosen di kampusnya.

“Pokoknya bapak ndak usah khawatir, Sri pasti bisa hidup layak ko. Tapi janji yo ndak bakal ditolak lagi, siapapun orangnya nanti asal shalih dan bertanggung jawab.” Bapak mengangguk, meski hatinya masih mengganjal.

***

 

“Kamu beneran sudah mantep nduk?”

“Inggih Pak?”

“Ndak nyesel nantinya?”

“Insya Allah ndak Pak”

Bapak menghela napas, berat rasanya. Tapi ia sudah berjanji tak akan menolak pinangan untuk putrinya itu.

“Kamu bener-bener yakin bakal bahagia sama Lukman tukang bakso itu?” Bapak mengulangi pertanyaannya lagi, meyakinkan keputusan Sri yang sudah bulet. Sri ngangguk.

“Lukman itu tukang bakso keliling lho nduk, penghasilannya ndak seberapa. Lagi pula kamu juga sarjana yo gak level rasanya.” Bapak tak henti meyakinkan jawaban putrinya. Beliau lupa kalau sudah berjanji untuk tidak menolak pinangan lagi. Sri tak mau kalah, diapun membela diri.

“Lho, bapak udah janji tho kalo ndak akan nolak pinangan untuk Sri? Tolonglah Pak, ngertiin Sri. Insya Allah Sri siap dengan segala konsekuensinya. Bapak tinggal restui dan doakan Sri saja.”

Bapak diam. Berpikir. Setelah beberapa waktu akhirnya beliau bersuara.

“Ya sudah, bapak restui kalian. Besok suruh Lukman menghadap bapak.”

“Beneran Bapak setuju Sri nikah sama tukang bakso?”

“Iya, jangankan sama tukang bakso sama tukang becak juga akan bapak restui. Asal Sri bahagia.”

“Alhamdulillah, terima kasih Pak. Tapi…eng…sebenarnya…” kalimat Sri menggantung, dia sengaja pengin membuat bapaknya penasaran.

“Sebenarnya opo Sri?” Bapak mengerutkan dahi tanda tak mengerti.

“Sebenarnya Kang Lukman bukan tukang bakso biasa Pak. Dia sarjana, pernah nyantri juga. Dia keponakan Kyai…” belum selesai Sri bicara tiba-tiba bapak nyeletuk.

“Yo wis poko’e bapak setuju, berarti dia mapan tho? Hehehe…” bapak tertawa. Puas. Sri melongo.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 8,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Eka Nur Apiyah
Seorang guru yang memiliki hobi menulis, aktivitas saat ini adalah mengajar di sebuah sekolah dasar sembari membantu jualan bakso. Memulai menulis sejak SMP dan tergabung dalam organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena.

Lihat Juga

Fatimah (90), digugat anak dan menantunya. (sindonews.com)

Anak dan Menantu Tega Gugat Ibu Kandungnya Rp1 Miliar