Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Biarkan Aku Sendiri

Biarkan Aku Sendiri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (salamstock.com)
Ilustrasi. (salamstock.com)

dakwatuna.com Biarkan aku sendiri?

Judul tulisan ini bukanlah mencerminkan bahwa saya merupakan korban film-film atau berbagai kisah di layar kaca yang ketika pikirannya buntu, galau, dan lelah karena berbagai masalah lalu berteriak dengan lantang:

Tinggalkan aku sendiri!! atau Give me alone!! Pastinya ditambah dengan ekspresi semrawut.

Tidak, tidak seperti itu…

Namun menurut saya tidak ada salahnya dengan kalimat itu, hanya kalau di film-film terkesan berlebihan.

Hmm…

Saya hanya ingin sedikit membahas tentang makna sendiri, dan mengapa dalam suatu waktu kita butuh kesendirian,

Beberapa teman pernah berkisah kepada saya ketika bagaimana mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi, bingung menghadapi suatu situasi kemudian memutuskan untuk pergi, ada yang mengunjungi masjid-masjid ternama, berdiam diri berzikir untuk waktu yang lama bahkan terkadang dengan cucuran air mata, ada pula yang menghabiskan waktu berjam-jam dijalan, hanya dijalan saja menikmati deru angin dan indahnya hiruk pikuk kehidupan, dan ada pula yang bolak-balik ke toko buku mengalihkan konsentrasi dengan khusyuk menikmati berbagai bacaan.

Adakalanya seperti itu, mungkin di antara kita punya kisah unik  lain dan trik yang berbeda pula, banyak opsi yang bisa kita pilih selama itu tidak melanggar syariat dan tidak memberi mudharat saya rasa sah-sah saja.

Tapi tetap saja saya salut dengan mereka, para pecinta malam… yang sepertiga malamnya larut dalam nikmatnya munajat kepada Allah, khusyuk di tengah lantunan zikir pada Rabb mereka. Betapa indah dan nikmatnya ketika air mata penyesalan atas segala kekhilafan mengucur deras.

Mengutip dari sebuah buku karya ustadz Salim A Fillah, beliau pernah menuliskan perbedaan laki-laki dan perempuan dalam menghadapi masalah. Perempuan lebih cenderung  ingin banyak didengar sedangkan laki-laki ingin menyendiri, biarkan sejenak  ia dalam guanya. Saya tidak ingin membahas benar atau salahnya teori ini, toh hanya kecenderungan tapi kata “gua” di sini mengingatkan saya  beribu-ribu tahun yang silam, saat Allah menumbuhkan pada Rasulullah rasa cenderung untuk menyendiri di gua beribadah bermalam-malam sehingga tiba waktunya beliau untuk menerima wahyu. Betapa tidak asingnya kalimat menyendiri dalam agama kita, meski sangat besar perbedaan alasan mengapa Rasulullah menyendiri dan mengapa kita menyendiri.

Kesendirian tidak mutlak menyakitkan. Bahkan dengan kesendirian menyadarkan kita dari hingar bingar dunia yang melalaikan untuk kembali bersimpuh merasakan betapa besarnya Kekuasaan Allah. Batin memang butuh jeda sejenak, beristirahat untuk menyibak baik-buruknya amal yang selama ini telah kita perbuat. Dan juga butuh nutrisi untuk kita kembali menapaki langkah kehidupan dengan tegap.

Kesendirian membuat batin kita dapat mendengar dengan jelas yang mana suara hati dan yang mana bisingnya nafsu. Menegaskan jiwa untuk kembali bertindak dengan sadar dan cerdas.

Dalam kesendirian pun juga kita diajarkan untuk mandiri, ketika kita jatuh kemudian kembali mencoba untuk bangkit sendiri. Ternyata sungguh kesendirian itu tidak selamanya melumpuhkan.

Bahkan ada momen dalam syahdunya kesendirian perlahan kita mampu merangkai semua puzzle kehidupan yang sebelumnya sangat membingungkan. Ah…, jika kita dapat bersahabat dengan kesendirian memang benar-benar indah ternyata…

Wallahualam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 4,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Arissatul Husna
Seorang mahasiswi Fisika, tertarik dalam dunia dakwah dan kepenulisan. Senang mendongeng dan menyimak berbagai kisah hidup untuk mengambil pelajaran didalamnya. Senang berteman, mengamati dan menikmati indahnya beragam karakter manusia ciptaan Sang Maha Kuasa. Pernah mengikuti studi kepenulisan FLP angkatan VI (Fenomena) Pekanbaru. Saat ini sedang merampungkan skripsi, mohon doanya.

Lihat Juga

Life Is Choice