Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cuplikan Pagi di Gang Belakang

Cuplikan Pagi di Gang Belakang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: menggaliinfoit.wordpress.com)
Ilustrasi. (Foto: menggaliinfoit.wordpress.com)

dakwatuna.comDiriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah SAW bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Pagi ini ingin sekali rasanya makan nasi kuning. Ditemani nasi kuning, sarapan pagi kurang kunikmati. Masih teringat ketika tadi saat menelusuri gang belakang kos ini. Perut yang sudah lapar tidak memicu kaki untuk lebih cepat bergerak. Pembicaraan sejenak bersama seorang ibu tadi menjadi renungan tersendiri bagiku.

Entah apa yang merasuki si ibu, hingga ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya. Padahal aku hanya bertanya di mana ia tinggal. Ia menjawab dengan begitu ramah. Hingga entah sadar atau tidak dia sudah menceritakan banyak hal tentang keluarganya. Mulai dari suami yang seorang pensiunan, rumah, anak-anaknya.

Ada kerinduan yang kutangkap dari sudut mata itu, Ia begitu bersemangat menceritakan anak-anaknya yang sudah dewasa, berkeluarga dan sukses di karier. Keluarga yang sudah berkecukupan itu, tidak membuat dirinya duduk dan diam saja di rumah. Ia memilih mencari tambahan penghasilan lain setiap pagi.

Ada satu hal yang kutangkap dari pembicaraan saat itu. Dan ini yang menjadi renungan bagiku. Saat ia menceritakan tentang anak-anaknya. Ia mengungkapkan betapa sayang ia kepada salah satu anaknya, yang sudah ‘pulang ke pangkuan ilahi’. Masya Allah , begitu kuat kerinduan yang kulihat hingga ada genangan air mata di sudut mata si ibu.

“Dia anak baik neng, dia memilih berbisnis daripada kuliah karena takut memberatkan kami orang tuanya. Padahal menyekolahkan anak itu adalah tanggung jawab kami sebagai orang tua, bukan begitu neng?”

Sesekali ia menyandarkan diri ke dinding, mungkin untuk menguatkan kaki yang sudah renta. Si ibu melanjutkan kata-katanya

“Ibu tidak tahu kalau dia sakit, hingga akhirnya ibu menangis memohon agar ia memeriksa diri ke dokter dan ternyata anak ibu divonis mengidap penyakit kanker otak stadium 4.”

“Dia anak baik neng, mungkin Allah lebih sayang ya neng karena ia baik. Makanya ia dipanggil lebih cepat. Dia anak baik neng”

Aku hanya menganggukkan kepala menyetujui kata-katanya.

Sekilas jika kita berpikir, tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya. Tapi kali ini aku berpikir lebih dari itu. Bentuk sayang dan cinta yang luar biasa si anak kepada ibu, membuat si ibu memiliki sayang yang luar biasa pula kepada si anak. Sikap yang ditunjukkannya kepada orang tua adalah bukti bahwa ia tidak ingin selalu merepotkan orang tuanya. Bahkan ia terbilang sukses dalam berbisnis. Hingga si ibu merasa sangat bangga kepadanya.

Pikiranku langsung meloncat ke kampung halaman. Teringat orang  yang nun jauh di sana. Hingga aku memutuskan untuk pamitan pulang dari si ibu, pikiranku tetap tidak saja tinggal di sana. Setiap langkah kaki ini seperti berat ketika melangkah. Sempat berpikir, apakah akan seperti ini kata-kata yang akan dilontarkan orang di sekitar ku, terutama keluarga khususnya orang tua. Ketika maut sudah menjemputku. Ketika aku sudah tidak berada di dunia ini. Apakah aku sudah menyayangi dan memberikan manfaat kepada orang lain. Hingga ada jejak yang kutinggalkan untuk mereka. Atau tidak berbekas apa-apa. Hingga ada atau tidaknya aku di dunia adalah hal yang sama saja. Atau sebaliknya, diri ini akan dibenci dan dimaki karena membuat kesalahan dan merugikan orang lain.

Ya Rahman, masih banyak hal yang harus kulakukan, sementara usia semakin renta. Semakin berkurang hari demi hari. Belum ada rasanya kebaikan yang aku tebarkan untuk orang-orang sekitar, belum sampai rasanya diri ini memberikan senyuman kebahagiaan kepada orang yang sudah memberikan banyak hal dalam hidupku. Berharap ini menjadi motivasi.

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.

Lihat Juga

Iblis Datang dari Muka, Belakang, Kanan, dan Kiri Kita