Home / Berita / Nasional / Dai Televisi Harus Beri Teladan, Bukan Hanya Rating

Dai Televisi Harus Beri Teladan, Bukan Hanya Rating

Tayangan Televisi (inet) - Foto: kontan.co.id
Tayangan Televisi (inet) – Foto: kontan.co.id

dakwatuna.com Jakarta.  Para dai yang biasa tampil di televisi diminta berkomitmen memberikan teladan baik kepada masyarakat. Apalagi, kata Wakil Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis, dai televisi sangat erat dengan dunia hiburan.

“Hal paling penting saat ini adalah etika dan keteladanan dai. Meski sering muncul di televisi seperti artis, posisi dai tidak sama sebab perbuatannya dilihat dan dicontoh oleh masyarakat,” jelas Cholil, Kamis (20/3).

Menurut dia, untuk menegaskan hal tersebut, pada awal April mendatang MUI akan mengundang para dai televisi dalam sebuah sarasehan. Kegiatan ini merupakan awal dari traning for trainers atau pembinaan bagi para dai oleh MUI.

Sekitar 80 orang diundang dalam sarasehan itu. Tak hanya para dai televisi, MUI juga mengundang Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), ormas Islam, Kementerian Agama (Kemenag), rumah produksi, dan direktur program religi di televisi.

Sejumlah dai yang belakangan ini tersangkut masalah juga rencananya diundang. “Semoga mereka punya waktu untuk hadir,” kata Cholil. Ia mengakui, ada dai yang konten dakwahnya bagus, ada pula yang tampaknya terlalu sibuk sehingga kurang membaca.

Jika para dai televisi memiliki pengetahuan luas, acara dakwah mereka bisa jadi bagian solusi permasalahan bangsa ini. “Jadi dakwah para dai tidak hanya retorika dan mengulang itu-itu saja, tapi juga memperkuat keteladanan dan wawasan,” kata Cholil.

Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yaqub mengatakan, dai televisi berkualitas tidak akan muncul selama televisi mengandalkan rating. Lima tahun lalu, kata dia, Wakil Ketua Lembaga Sensor Film Rai Sita Supit pernah mengatakan rating hanya rekayasa.

“Tayangan bagus, rating-nya pasti jelek. Sementara tayangan yang isinya buruk justru mendapat rating tinggi,” kata Ali.

Rating memang sengaja dibuat untuk merusak bangsa. Karena itu, ia menyesalkan dai-dai berkualitas rendah justru menuai rating tinggi di televisi.

Dengan demikian, selama masih mengandalkan rating, tayangan buruk akan tetap mendominasi. Terkait upaya MUI bertemu para dai televisi, Ali menegaskan, bukan sertifikasi dai yang utama saat ini. Hal terpenting adalah regulasi pemerintah yang mengatur dunia televisi.

Inti masalahnya kembali kepada rating. Meski seorang dai mempunyai sertifikat, produser tak akan melihat itu. Menurut Ali, pengusaha televisi Indonesia sudah telanjur tergantung pada sistem rating buatan perusahaan asing.

Masyarakat pun turut berperan melestarikan dai yang kurang bersikap kritis. “Coba masyarakat cermati saat para dai mengutip ayat dan hadits. Tanyakan ada di kitab mana kutipan-kutipan yang disampaikan itu,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat mudah tertipu tampilan luar. Orang-orang di televisi dengan menggunakan sorban, kata Ali, sudah dianggap bak malaikat. Belum lagi sanjungan yang memicu kesombongan dan menyumbang kebodohan dai.

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Achmad Satori Ismail mengakui, ada dai yang masih kurang pengetahuan agamanya karena tidak memiliki latar belakang ilmu syariah atau dakwah sehingga bacaan Al-quran atau pemahaman hadits mereka kurang baik.

Namun, mayoritas umat Islam Indonesia sudah terserang penyakit senang membahas Islam yang ringan-ringan saja. Jadi, dai-dai itu tak sepenuhnya bisa disalahkan. “Saat masyarakat senang bahasa sederhana, konten penceramah mengikuti,” katanya.

Tak bisa dipungkiri, ini berkaitan dengan televisi dan upaya mencari untung. Dai yang sudah tampil di televisi biasanya punya manajemen yang membuat biaya mengundang mereka mahal. Padahal, bisa jadi dai yang diundang juga tidak mematok jumlah biaya tertentu.

Kalau nanti akan ada sertifikasi dai, Satori mengatakan, harus jelas dulu siapa yang akan melakukan dan seperti apa standarnya. Selama empat tahun terakhir ini, Ikadi memiliki sistem sertifikasi berjenjang selama. Jenjangnya mulai dari dai pemula hingga dai utama.

Sertifikasi dilakukan untuk membekali dai dengan kemampuan dasar dakwah, seperti rukun iman, rukun Islam, bacaan Al-quran yang baik dan benar, dan wawasan keislaman yang baik. Hal penting lainnya dari sertifikasi adalah tujuannya.

Satori mengatakan, sertifikasi dai berbeda dengan sertifikasi dosen atau guru yang memungkinkan mereka memperoleh tambahan insentif. “Kalau tujuannya untuk meluruskan agar para dai menyampaikan nilai Islam yang moderat, ini bagus,” kata Satori.  (Fuji Pratiwi/ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bersama Bupati Bulungan, BMH Serahkan Paket Ramadhan untuk Dai dan Imam Masjid Pedalaman