Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kabut Asap Bencana atau Ujian?

Kabut Asap Bencana atau Ujian?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. Kepulan asap dari hutan terbakar. (Antara/ Satgas Bencana Asap Riau)
Ilustrasi. Kepulan asap dari hutan terbakar. (Antara/ Satgas Bencana Asap Riau)

dakwatuna.com “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

Musibah dan bencana silih berganti menimpa negeri ini, sekarang giliran Riau yang mendapatkannya.  Sudah lebih lima pekan kabut asap di Riau akibat lebih dari 20.000 Ha lahan yang terbakar. Semua pihak sudah pasrah dengan keadaan ini, sampai Gubernur Riau Anas Maamun juga sudah menyatakan,”Semua upaya sudah kita lakukan, saatnya sekarang kita pasrahkan kepada Allah saja.”

Shalat istisqapun sudah dilakukan di seantero negeri tapi hujan yang diharapkan akan menyingkapkan kabut asap ini dan semua makhluk dapat bernafas dengan lega tidak juga kunjung turun membasahi bumi. Benarkah kabut asap ini ujian, Bencana atau sudah menjadi azab?

Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau, jumlah warga Riau yang terserang ISPA saat ini mencapai 33.300 orang. Sedangkan hutan yang terbakar dari catatan Satgas Penanggulangan bencana asap sebanyak 11.000 hektar.

Sementara itu, lima Perusahaan yang terbukti ditemukan kebakaran lahan di areal konsesi perusahaan itu, antara lain PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), PT Sakato Makmur Pratama (SMP), PT Tobe Indah, PT Rimbo Rokan Lestari, dan PT Arara Abadi (PT AA). Sedangkan perusahaan yang masih diselidiki yaitu PT National Sago Prima (NSP) di Kepulauan Meranti.(Merdeka.com 06/03/2014)

Ironisnya, akibat polusi asap kebakaran lahan dan hutan selama lima pekan, sebanyak 27.200 orang di Provinsi Riau terserang infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), 1.365 orang terserang penyakit kulit, 1.031 orang terkena asma, 724 orang mengalami iritasi mata, serta 516 orang mengalami pneumonia (Republika Online, 1/3/2014).

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo menjelaskan, titik api meningkat drastis karena pembakaran hutan masih intensif dilakukan.

“Titik api terus bertambah karena pembakaran liar. Ini tentu saja membuat kabut asap makin pekat, indeks standart hampir 300-500 dan ini sudah masuk  sangat berbahaya,” kata Sutopo, Senin, 10 Maret 2014.

Di Pekanbaru, kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat yang menderita penyakit paru-paru. Dari data BNPB, jumlah penderita ispa di wilayah itu mencapai 38.111 jiwa, penomonia 811 jiwa, asma 1.464 jiwa dan 1.276 jiwa yang mengalami iritasi mata.

“Operasi terus kita lakukan, baik dari udara berupa pengerahan helikopter dari Rusia yang bisa membawa 3000-4000 liter air. Satu pesawat untuk hujan buatan dan delapan lainnya untuk water booming dan survey,” tambah Sutopo.

Menurut Sutopo, Kerugian akibat terjadinya penebalan kabut asap sendiri mencapai Rp10 triliun. Namun sejauh ini kabut asap berbahaya yang melanda Kepulauan Riau ini belum mengindikasikan menyebar ke negara tetangga. Tiupan angin lebih banyak ke arah Sumatera dan Selat Malaka (Vivanews, 10/03/2014)

Sebab-sebab Terjadinya Bencana

Dalam Al-Quran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Al-Quran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah SWT. Silakan simak beberapa data di bawah ini.

  • Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).
  • Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Al-Quran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).
  • Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Al-Quran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).
  • Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shalih), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).
  • Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).
  • Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah SWT. (Al-Qashash:81).

Al-Quran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”[1]

Dari bencana – bencana yang sudah terjadi, apa penyebab timbulnya bencana tersebut? Apakah faktor alam saja? faktor manusia saja? atau bagaimana? Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW, terdapat lima belas perkara  yang mendatangkan musibah dan bala bencana.

Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah?Rasulullah Saw bersabda: “Apabila…

  1. Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,
  2. Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,
  3. Zakat dianggap sebagai cukai (denda),
  4. Suami menjadi budak istrinya(sampai dia),
  5. Mendurhakai ibunya,
  6. Mengutamakan sahabatnya (sampai dia),
  7. Berbuat zalim kepada ayahnya,
  8. Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syariah),
  9. Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),
  10. Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya
  11. Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,
  12. Laki-laki telah memakai pakaian sutera
  13. Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan
  14. Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan
  15. Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;

Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa;

  1. taufan merah (kebakaran),
  2. tenggelamnya bumi dan apa yang di atasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tanah longsor),
  3. dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.” (HR. Tirmidzi, 2136)[2]

Herannya, bencana ekologis yang diakibatkan oleh kabut asap bukan terjadi sekali dua, tetapi rutin terjadi setiap tahun. Penyebabnya pun sudah terdeteksi, di antaranya akibat land clearing sejumlah perkebunan besar di Riau.

Sebagai manusia yang berakidah kita tidak bisa melewatkan saja bila terjadi sebuah bencana. Bencana kabut asap di Riau murni ulah tangan dan kejahatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Ada banyak kesan yang dititipkan oleh fenomena kabut asap di Riau saat sekarang ini, antara lain:

  1. teguran dan pelajaran  dari Allah untuk semua warga dan masyarakat Indonesia  pada umumnya dan Riau pada khususnya jangan mengganggu keseimbangan alam.
  2. Muhasabah diri sebagai pemimpin, tokoh masyarakat ulama dan pemimpin organisasi bahwa dengan kembali kepada Allah dan bertakwa kepadanya adalah sumber kemakmuran dan kesejahteraan dalam kehidupan.
  3. Kalau tidak dengan pertama dan kedua dikhawatirkan akan menjadi azab dan bencana bukan saja kepada orang buruk dan bermaksiat, juga kepada orang-orang baik dan shalih,serta doa tidak akan diijabah Allah SWT.

Sikap Orang Mukmin Menghadapi Bencana

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)”(Qs Hûd/11:3)

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu
(Qs at-Taghâbun/64:11)
 

Sifat-sifat yang harus  ada pada seorang Mukmin menghadapi bencana:

  1. Menganggapnya sebagai pelajaran, peringatan, bukan sekadar fenomena alam biasa (al-Mu’min: 13), (al-Isra’: 59), (Qaf: 37))
  2. Tidak merasa aman dari azab Allah ((Hud: 41—43), (al-A’raf: 95), (al-A’raf: 97—99),
  3. Bencana adalah suatu ketetapan ((al-Hadid: 22), (asy-Syura: 30))
  4. Sikap lapang dada ((at-Taghabun: 11),
  5. Tidak berburuk sangka kepada Allah ((Ali ‘Imran: 154), (al-Fath: 6),
  6. Istrija’ ((Al-Baqarah: 155—156))
  7. Sedih dan menangis sewajarnya
  8. Bersabar  
  9. Bersikap peduli dengan penderitaan orang lain. 

Di antara hikmah terjadinya bencana  adalah:

  1. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya.
  2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang. Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam:
    “Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”
  3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak.

Bentuk Aplikasi yang  patut dilakukan dari Pemimpin  sampai rakyat

Langkah nyata yang patut  dilakukan saat sekarang ini sebagai ikhtiar manusiawi seorang hamba kepada Rabb-nya adalah diperlukan diperlukannya kesadaran untuk bertindak sesuai dengan posisinya masing-masing di dalam masyarakat.

  1. Pemimpin publik (pemerintah)   : mengambil kebijakan nyata untuk meredakan bencana  baik dari segi kepastian hukum dan aplikasi manajemen penanggulangan bencana kabut asap di propinsi Riau. Berkoordinasi dengan segenap organ masyarakat lainnya.
  2. Ulama: memberikan pembinaan dan keteladanan kepada masyarakat. Mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk selalu takut kepada Allah, berdakwah dengan baik mengajak pemimpin dan masyarakat kembali kepada Allah SWT.
  3. Masyarakat : taat kepada pemimpin dan mengikuti anjuran dan seruan-seruan yang disampaikan oleh para ulama. Berkoordinasi dengan elemen masyarakat lainnya dalam upaya penanggulangan bencana ini.
  4. Orang kaya dan pengusaha : selalu mengutamakan cinta kasih, kasih sayang dan kedermawanan dalam mengelola usahanya. Sehingga tidak menimbulkan dampak kerusakan keseimbangan alam yang akan menjadi bencana bagi kita semua.
  5. Ibu-ibu: Kita harapkan menjadi soko guru peradaban. Menjadi pohon yang subur, indah dan berbuah lebat melahirkan generasi yang rabbani, pemimpin yang dekat kepada Allah sayang kepada rakyatnya, serta masyarakat yang taat kepada Allah dan mampu mengingatkan pemimpinnya ketika melenceng dari perintah Alllah SWT.
  6. Generasi Muda: Semangat, berdedikasi, serta berkesadaran dalam menuntut ilmu dan mempunyai  daya inovasi, kreativitas dalam kebaikan dan produktivitas untuk kejayaan umat dan bangsanya.

Aksi nyata terkini  yang harus dilakukan oleh semua elemen masyarakat propinsi Riau saat sekarang ini adalah memohon diturunkannya hujan oleh Allah SWT agar kabut asap yang sangat menyesakkan pada saat sekarang ini diangkat oleh Allah SWT dengan cara pendekatan yang disyariatkan dan jauh dari penyimpangan dan keputusasaan di antaranya adalah bertaubat kepada Allah baik secara individu maupun kolektif, berdoa dengan penuh ikhlas dan harap hanya kepada Allah baik secara individu maupun kolektif dan yang ideal adalah melaksanakan sunnah Shalat mohon hujan (istisqa) oleh lapisan masyarakat Riau.

Tata Cara Shalat Istisqa

Istisqa secara bahasa adalah meminta turun hujan. Secara istilah yaitu meminta kepada Allah SWT agar menurunkan hujan dengan cara tertentu ketika dibutuhkan hamba-Nya.

Hukum shalat Istisqa adalah sunnah muakkadah bagi yang terkena musibah kelangkaan air untuk minum dan kebutuhan lainnya. Dan dianjurkan bagi kaum muslimin lainnya yang masih mendapatkan air, sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Dalil Shalat Istisqa

Allah SWT berfirman:

Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun–,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (Nuh: 10-12)

Hadits Rasulullah SAW:

Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah, lalu beliau shalat dua rakaat seperti pada shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti pada shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini. Riwayat Imam Lima dan dinilai shahih oleh Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibnu Hibban.

Dari Anas bin Malik RA menyebutkan bahwa ada seorang lelaki pada hari Jum’at masuk dari pintu menuju mimbar. Sedang Rasulullah SAW berkhutbah. Dia menemui rasul SAW sambil berdiri dan berkata: wahai Rasulullah SAW telah musnah binatang ternak dan sumber mata air sudah tidak mengalir. Mohonlah pada Allah agar menurunkan air untuk kami. Berkata Anas: Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan ke langit dan berdoa: Ya Allah turunkan bagi kami hujan 3x. Berkata Anas RA Demi Allah pada saat kami tidak melihat di langit mendung, gumpalan awan atau apapun. Dan sebelumnya di antara rumah kami dan gunung tidak ada penghalang untuk melihatnya”. Berkata Anas RA, “Maka muncullah di belakangnya mendung seperti lingkaran. Dan ketika sampai di tengah, menyebar dan turunlah hujan.” Anas RA berkata: “Maka kami tidak melihat matahari selama enam hari”. Kemudian muncul lagi lelaki tersebut dari arah pintu yang sama pada Jum’at sesudahnya dan Rasul SAW sedang khutbah. Dia menghadap Rasul saw sambil berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah SAW harta-harta hancur dan sungai-sungai penuh, berdoalah kepada Allah agar menghentikannya. Maka Rasulullah SAW mengangkat tangan dan  berdoa Ya Allah berilah hujan sekeliling kami bukan  azab bagi kami, jatuh pada tanah, gunung-gunung, pegunungan, bukit-bukit, danau- danau dan tempat tumbuh pepohonan”               (HR. Bukhari)

Macam-Macam Istisqa

Istisqa memiliki tiga macam, yaitu:

  1. Istisqa yang paling ringan, yaitu doa tanpa shalat dan tidak juga setelah shalat di masjid atau selain masjid, sendiri atau jamaah. Dan sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang shalih.
  2. Istisqa pertengahan, yaitu doa setelah shalat Jum’at atau shalat lainnya, ketika khutbah Jum’at atau khutbah yang lain.
  3. Istisqa yang paling utama adalah Istisqa dengan di dahului shalat dua rakaat dan dua khutbah. Dilakukan oleh muslim, baik musafir atau muqim, penduduk kampung atau kota.

Waktu Istisqa

Jika hanya doa, maka dapat dilakukan kapan saja, dan lebih baik jika dilakukan saat khutbah Jum’at. Jika doa dan shalat maka dapat dilakukan kapan saja, tetapi jangan dilakukan pada waktu yang dimakruhkan shalat. Waktu yang utama adalah pada waktu Dhuha sampai Zhuhur sebagaimana shalat Id.

Tempat Shalat Istisqa

Shalat Istisqa  dapat dilakukan di masjid atau di luar masjid

Adab sebelum shalat Istisqa

  1. Memperbanyak  istighfar dan taubat di hari-hari sebelumnya
  2. Menghindari perbuatan zhalim dan mengembalikan hak-hak orang yang terzhalimi
  3. Didahului dengan berpuasa tiga hari
  4. Hari pelaksanaan dianjurkan puasa.
  5. Memperbanyak sedekah.
  6. Sebelum pelaksanaan, disunnahkan melakukan thaharah seperti, mandi, bersiwak, menjauhkan perhiasan dan wangi-wangian, memakai baju yang sederhana.
  7. Berangkat ke tempat dalam keadaan tawadhu, khusyu’, berharap pada Allah.

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa

  1. Shalat dua rakaat, sebagaimana shalat ‘Ied, rakaat pertama takbir tujuh kali dan kedua lima kali. Ibnu Abbas berkata:” lakukan pada Istisqa seperti pada waktu ‘Ied”.
  2. Rakaat pertama disunnahkan membaca surat Al-A’la dan rakaat kedua surat Al-Ghasiyah
  3. Setelah shalat, diteruskan dengan khutbah dua kali.
  4. Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat dua tangan.
  5. Dianjurkan doa Istisqa dibacakan oleh Ahli Bait dan orang shalih
  6. Bertawasul dengan amal shalih
  7. Khusus untuk kaum lelaki disunnahkan memindahkan dan membalikkan selendang atau sorbannya.
  8. Dianjurkan imam keluar bersama masyarakat.
  9. Dianjurkan membawa binatang ternak.

Doa Istisqa :

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.

Ya Allah, turunkan bagi kami hujan 3x, Ya Allah, turunkan bagi kami hujan   yang menyuburkan, menyejahterakan, bermanfaat, mengalir dari atas ke bawah merata, dan terus-menerus kebaikannya bagi negeri dan penghuninya. Ya Allah pada pegunungan, sawah ladang dan danau-danau. Ya Allah kami beristighfar kepada-Mu, sesungguhnya Engkau penerima ampun, turunkan kepada hujan dari langit yang terus menerus memberikan kebaikan. Ya Allah turunkanlah hujan dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang putus asa. Ya Allah negeri dan penduduknya mengalami kesulitan, kesengsaraan, kesempitan dan kami tidak mengadu kecuali kepada-Mu. Ya Allah tumbuhkanlah bagi kami tanaman, suburkanlah susu-sus ternak kami, turunkanlah hujan dari keberkahan langit dan tumbuhkanlah tanaman dari keberkahan bumi. Ya Allah angkatlah dari kami kesusahan, kelaparan, dan terbukanya aurat, singkapkan dari kami musibah dan tidak ada yang dapat menyingkapkannya kecuali Engkau

Ya Allah turunkanlah hujan dan tolonglah kami atas musuh. Ya Allah Engkau telah memerintahkan kami untuk berdoa, dan berjanji untuk mengabulkan. Dan kami telah berdoa sebagaimana engkau perintahkan, maka kabulkanlah sebagaimana Engkau telah janjikan. Ya Allah berikanlah anugerah ampunan-Mu atas kesalahan kami, dan kabulkan hujan untuk kami dan kelapangan rezeki.

Doa Ketika Hujan Telah Turun

Ya Allah jadikan hujan yang menyejahterakan dan bermanfaat. Ya Allah turunkan di sekeliling kami bukan azab bagi kami. Dan jamaah mengucapkan:” Hujan turun dengan karunia dan rahmat Allah.


Catatan Kaki:

[1] http://www.dakwatuna.com/2007/02/04/90/bencana-azab-atau-ujian/#ixzz2vjU1FCnI

[2] http://blog.umy.ac.id/anasdarussalam/2012/11/19/sebab-sebab-datangnya-musibah-berdasarkan-hadits-rasulullah-saw/

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
KH. Sofyan Siroj Abdul Wahab, Lc, MM
Direktur Utama Qolbu Re-engineering (QR) Foundation. Ketua Yayasan Wakaf al-Ihsan Riau ( YWIR)

Lihat Juga

Banjir dan Tanah Longsor, Jawa Tengah Darurat Bencana