Home / Berita / Daerah / Guru SGI Di Ujung 12 Purnama

Guru SGI Di Ujung 12 Purnama

Lima orang Relawan Guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa di Sambas, Kalbar - Foto: SGI DD
Lima orang Relawan Guru Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa di Sambas, Kalbar – Foto: SGI DD

dakwatuna.com – Sambas.  Indonesia Merdeka karena Sang Revolusioner Sejati yaitu Sang Guru.” Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa merupakan salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang berkomitmen untuk melahirkan guru-guru model berkarakter yang memiliki kompetensi mengajar dan mendidik, serta berjiwa kepemimpinan sosial.

Sekolah Guru Indonesia merancang program pembinaan calon guru yang dilaksanakan 18 bulan, yang dimana 12 bulan (1 tahun) di daerah penempatan dan 6 bulan merupakan masa orientasi/pembinaan sebelum 1 tahun penempatan di daerah terpencil.

Sejak bulan maret 2013, lima orang guru SGI akan siap ditarik kembali ke pusat karena akan menyisakan masa pengabdiannya di bulan maret 2014 ini.

Oleh karena itu, Kualitas buruk guru sekolah dasar menjadi pelecut program ini. Berjumlah paling banyak, guru sekolah dasar justru kalah jauh kompetensinya ketimbang guru lain. Kendala keilmuan merupakan factor mayoritas. Guru SD paling banyak lulus bukan sarjana strata satu.

Akibatnya, guru hanya dipahami sebagai sekedar profesi, bukan kesempatan membentuk generasi bangsa yang unggul. Miris memang melihat mayoritas guru SD hanya menganggap kewajiban mengajar hanya sekedar mencari pendapatan. Jika sudah demikian, dapat dipastikan guru lebih hafal haknya ketimbang kewajibannya.

Kewajiban guru, apalagi SD, berat dan memiliki tanggung jawab yang besar. Karena yang dididik adalah generasi belia yang mudah dipengaruhi. Ibarat kertas, siswa SD merupakan lembaran kosong yang siap menerima segala bentuk tulisan dan kalimat. Maka guru SD harus menuliskan kalimat berkualitas yang membekas di benak siswa. Kompetensi guru SD harus mumpuni, inovatif, dan kreatif.

Fenomena kualitas guru yang minim kompetensi banyak ditemukan di sekolah marjinal yang banyak diisi oleh siswa dari keluarga miskin. Dengan model pengajaran yang monoton sulit, berharap mampu melejitkan potensi unggul siswa. Jika potensi unggul terpendam sia-sia, maka siswa sulit mengembangkan kemampuan yang sebenarnya. Kemampuan itu terlambat muncul atau justru mati perlahan-lahan.

Jika siswa tidak memiliki kemampuan, berpotensi tumbuh remaja dan dewasa tanpa kompetensi. Tidak memiliki kompetensi merupakan ciri keluarga miskin. Generasi muda tanpa kompetensi tidak mampu memutus rantai kemiskinan keluarganya. Maka menjadikan unggul system pengajaran sekolah merupakan bagian upaya memutus rantai kemiskinan.

Perlu ada perubahan sistemik maupun teknokratik di SD dan MI. perubahan sistemik merupakan tanggung jawab Negara, masyarakat penggiat pendidikan hanya memberikan masukan. Namun perubahan teknokratik biasa diupayakan oleh siapa saja. Seperti yang dikerjakan oleh Dompet Dhuafa melalui program Sekolah Guru Indonesia (SGI).

Sejak tahun 2009-2013, Sekolah Guru Indonesia (SGI) menerjunkan guru-guru muda yang siap mengabadikan profesinya di daerah penempatan. Sekolah Guru Indonesia (SGI) telah menempatkan 5 orang guru SGI di daerah terpencil Kab. Sambas. Sejak bulan maret 2013 Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa mendatangkan kelima guru tersebut di Provinsi Kalimantan Barat Kab. Sambas. Kehadiran mereka untuk terjun langsung ke daerah terpencil dan mengajar disekolah-sekolah terpelosok, seperti Desa Sempadian, Desa Jirak Kec. Sajad, Desa Sendoyan Ke. Sejangkung, Dusun Kota Bangun Kec. Sebawi dan Dusun Senabah Kec. Sejangknug. Selain untuk mengajar, guru-guru SGI juga menyempatkan dirinya untuk share dengan guru-guru yang ada di sekolah-sekolah terpencil kabupaten sambas seperti mengisi Training/Pelatihan Guru, Mengisi KKG, Mengisi Radio tentang pendidikan dan memotivasi anak-anak di daerah terpencil agar tidak putus sekolah.

Selain mengajar, mengisi pelatihan guru ataupun KKG, Guru SGI juga dituntut untuk mengenal, mempelajari dan memaknai cakar budaya alam kalimantan barat. Lebih dari pada itu, Guru SGI juga menelusuri wilayah-wilayah Indonesia di perbatasan Malaysia untuk mengetahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang berlimpah ruang di ujung perbatasan Indonesia-Malaysia.

Sebuah pengalaman hebat yang dimiliki oleh guru-guru SGI yang bisa menyaksikan langsung NKRI diperbatasan Malaysia, ternyata nilai NKRI di perbatasan merupakan harga mati bagi TNI di perbatasan.

Selama setahun di kalimantan barat kab. Sambas, guru-guru SGI telah banyak menuliskan berbagai macam pengalaman, seperti; mengajar langsung anak-anak di pelosok desa, mengenal adat-adat orang melayu pada khususnya dan pada umumnya mengenal adat yang berbeda di kalimantan barat.

Indonesia, Memang indah! Seruntuk kata yang tertulis oleh guru-guru SGI di daerah terpencil. Program Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa merupakan salah satu program yang melejitkan pendidikan didaerah-daerah terpencil. Menghasilkan guru-guru SGI yang berdedikasi tinggi, berintelektual muda, berjiwa pemimpin dan pemberani merupakan salah satu kunci dan target yang menghasilkan anak-anak indonesia berjiwa pemimpin pula.

Hampir setahun sudah, tidak terasa keberadaan guru SGI di daerah terpencil Kab. Sambas dalam menjalankan amanat pendidikan untuk anak-anak Indonesia di daerah yang tak berujung. Banyak moment-moment tersendiri yang tersimpan dalam memory harian guru SGI. Seperti, pahit-manisnya yang terlukis selama perjalanan menuju daerah pengabdian, demi berbagi cerita dengan anak-anak Indonesia di pelosok, guru SGI mampu melewati luasnya lautan sungai sambas, jauhnya perjalanan menuju ke daerah pengabdian, nikmatnya daerah yang tidak tersimpan sinyal.

Waktu setahun merupakan waktu emas buat kami sebagai guru SGI karena dalam singkatnya waktu setahun kami harus mampu meraih dan mengambil hati anak-anak, berbagi pengalaman dengan guru-guru di daerah terpencil dan tidak lupa juga untuk mengambil hati masyarakat setempat.

Kami bersyukur karakter penduduk Indonesia dengan beragam suku dan adat tetapi ramah menerima kehadiran orang asing. Alhamdulillah semua masyarakat welcome, dan kami tidak pernah diusir.

Seiring berjalanya waktu, guru SGI diterima oleh guru lain. Bahkan ada yang meminta bertahan. Guru SGI mampu memukau karena mereka membawa energy baru di sekolah.

Sekolah adalah tempat yang lamban perubahannya, kehadiran kami membawa angin perubahan.

Perubahan di beberapa lokasi bahkan tertoreh berupa prestasi tingkat regional maupun nasional. Seperti yang terjadi di Sambas (Kalbar). Dengan Kehadiran Guru SGI mudah-mudahan  mampu membawa sekolah di pinggir kota dan sungai menjadi sekolah yang berstandar nasional. (SGI DD/sbb/dakwatuna)

“. Indonesia Merdeka, Anak-anakpun Tersenyum.” JJJ
Give! Your Power For Your Students
Give! Best Your Smile For Your Students. JJJ
If You Think! Your Students Is The Best For You. So, That Best Your Love.
Thanks For Sambas West Kalimantan

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku

Organization