Home / Narasi Islam / Politik / Adakah Pemimpin yang Sempurna?

Adakah Pemimpin yang Sempurna?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSebagaimana manusia pada umumnya, begitu pula para pemimpin kita. Bila kita sepakat bahwa tiada seorang pun manusia yang tidak punya dosa, tidak pernah lalai, dan tidak sekali pun bersalah, maka begitu pulalah pemimpin-pemimpin kita. Pasti mereka punya salah. Kalau pun tidak, pasti pernah tersalah.

Begitulah realita kehidupan kita. Maka, alangkah tidak manusiawinya sikap kita bila kita bandingkan mereka dengan para malaikat yang tidak pernah tersalah dan bersalah. Kita sama-sama manusia. Sama-sama merasakan bagaimana arus kehidupan ini. Bila kita menganggap bahwa siapa pun orangnya yang ingin menjadi pemimpin harus suci, berarti kita telah merasa sempurna dan suci. Perhatikanlah jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanyai mengenai hal yang hampir sama..

Suatu saat, datang kepadanya seorang pemuda. Kemudian bertanya, “Wahai Imam, apakah yang seharusnya aku lakukan; menyempurnakan diri dulu baru berdakwah, atau mulai berdakwah sejak sekarang?”

Jawab Imam Ahmad bin Hanbal, “Wah… kalau begitu siapa manusia yang sempurna? Mulailah berdakwah sejak sekarang.”

Sekali lagi, mari memperhatikan jawaban Imam Ahmad bin Hanbal tadi. Meminjam istilahnya Ustadz Salim A. Fillah, inilah jawaban yang memerlukan jawaban. Siapakah manusia yang sempurna?

Bila kita menghabiskan waktu untuk menunggu lahirnya manusia sempurna, maka kita tidak akan pernah memiliki pemimpin, di negara kita tidak akan pernah ada orang yang menyeru ke jalan Allah. Sekali lagi, sebab kesempurnaan bagi manusia adalah hal yang mustahil!

Alangkah buruknya sikap kita, bila saat ini kita mencela seseorang kemudian berusaha membesar-besarkan perkara tentangnya. Setiap orang pasti punya kekurangan. Namun, cara masing-masing orang bersikap terhadap kekurangan itu berbeda-beda.

Ada yang berusaha untuk memperbaiki dirinya dan terus berhati-hati. Ia menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Ia beriman pada Allah. Takut pada Allah. Selalu memohon ampun atas segala dosanya. Tidak hanya itu, yang ia perjuangkan itu pun adalah amal-amal untuk menegakkan kalimat Allah. Menumpas kejahatan. Memusnahkan kezhaliman.

Ada pula yang justru menyengajai melanggar aturan. Ia ingin meraup keuntungan banyak melalui jabatannya. Tak mengindahkan ajaran agama walaupun berseru atas nama agama. Nah, orang yang demikian ini wajib untuk diberantas. Jangan sampai mereka menduduki satu pun kursi kepemimpinan.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang punya kemampuan dan kelayakan, namun ternyata pada diri mereka melekat sesuatu yang dianggap tabu, misalnya poligami?

Marilah berbicara pada hal yang mendasari permasalahan. Tentang poligami ini, misalnya. Itu kan urusan seseorang dengan Allah? Ketika turun firman Allah untuk mengizinkan poligami, izin itu dibersamai oleh persyaratan. Kebolehan itu hanya boleh diambil bila syaratnya terpenuhi. Saya rasa kita mesti banyak belajar mengenai ini. Namun, intinya, kita tidak boleh menyemai kebencian pada seseorang yang melakukan sesuatu yang tidak dilarang. Ada banyak orang yang melakukan hal-hal haram, kenapa tidak kita taruh benci pada mereka saja?

Bila pun kita tidak menghendaki hal itu (poligami), hendaknyalah kita tidak merasa mereka yang menjalaninya tercela. Sebab selagi mereka menjalaninya dengan baik, mereka tidak berdosa. Jalan yang mereka tempuh adalah kebolehan dari Allah. Dan…, Allah tak pernah mengizinkan manusia melakukan keburukan.

Pesan Ibnu Umar, “Janganlah kamu merasa lebih baik dari orang lain!”

Lagi pula, dalam hal kepemimpinan yang sedang kita bincangkan ini, kita hanya butuh pemimpin yang bisa membawa kebaikan pada rakyatnya. Kepemimpinan itu adalah amanah dari rakyat seluruhnya.

Maka, mari mencari pemimpin sebagaimana Umar bin Khaththab. Pernah ia mengatakan, “Kalau sekiranya ada seekor unta terperosok di Irak, maka pastilah Allah akan memintai pertanggungjawabanku kelak.”

Pernyataan itu menggambarkan betapa pentingnya bagi beliau membenahi infrastruktur di setiap daerah yang ia pimpin. Sebab pertanggungjawabannya sangat berat. Ia jadikan Allah sebagai patokan.

Mari mencari pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Di bawah kepemimpinannya yang hanya berlangsung 30 bulan, rakyatnya sejahtera. Tidak ada lagi yang tergolong mustahik (penerima) zakat. Sehingga baitul mal membludak. Rakyatnya kaya, meski ia hidup sederhana. Seadanya saja. Rakyatnya sejahtera, ia menderita lelah akibat laktat yang menimbun. Rakyatnya bisa istirahat dengan nyenyak, ia capek minta ampun.

Tanyanya pada sang Khadim dalam suatu perjalanan, “Bagaimana keadaan rakyatku?”

Dijawab, “Semua baik wahai Amiril Mukminin, kecuali Anda, saya, dan bighal (sejenis kuda) Anda.”

Daripada mencela dan terus menyibukkan diri dalam rutukan, mari bersama berharap semoga kelak muncul pemimpin di Indonesia yang menyemai dua Umar (Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz. Pemimpin yang mengutamakan rakyat dibanding diri sendiri. Sebabnya, dalam masa yang singkat, mereka mampu meraih capaian-capaian besar.

Semoga… Allahumma Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Kepemimpinan Karismatik