Home / Narasi Islam / Politik / Memimpin Ala Rasulullah SAW

Memimpin Ala Rasulullah SAW

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSejarah ditulis atas kepemimpinan yang menang. Namun esensi dari seorang pemimpin bukan hanya soal kemenangan yang ia raih. Tapi kebermanfaatan dan kesejahteraan yang timbul dari kemenangan yang ia raih tersebut. Ketika menjadi pemimpin, begitu banyak pilihan dan hal yang dapat dilakukan atas nama kekuasaan. Termasuk metode yang digunakan dan visi yang hendak dicapai. Tentang konsep kepemimpinan, terdapat banyak literasi yang intinya membahas tentang bagaimana seorang menjadi pemimpin yang baik dan sukses. Banyak pula buku yang membahas tentang para pemimpin yang berhasil menciptakan perubahan di tangannya. Namun, sebagai muslim hendaknya kita sudah paham bahwa memimpin bukanlah kesempatan untuk berkuasa, melainkan amanah besar dan kewajiban melayani. Maka konsep dan landasan yang digunakan pula harus mengandung nilai-nilai ajaran Islam.

Kepemimpinan profetik merupakan konsep kepemimpinan ala Nabi. Kini konsep kepemimpinan ini telah gencar dikaji oleh ilmuwan barat. Salah satu yang ramai dikampanyekan adalah kepemimpinan transformasional (transformational leadership).

Kepemimpinan profetik dapat disebut sebagai konsep kepemimpinan terbaik. Di samping karena menggunakan landasan tauhid, kepemimpinan profetik memiliki cakupan dan instrumen yang lebih luas dan komprehensif dibanding konsep-konsep kepemimpinan lainnya. Karakteristik utama seorang pemimpin profetik adalah mampu menjaga harmonisasi hubungan antara Allah, manusia, dan alam. Tulisan ini akan membahas tentang kepemimpinan profetik ala Rasulullah saw.

Sejak diturunkannya wahyu kepada Muhammad melalui malaikat Jibril pertama kali di Gua Hira, beliau resmi diangkat menjadi Rasul dan mengemban amanah berat menyampaikan wahyu Allah swt kepada umat manusia. Sebagaimana diriwayatkan dalam sirah-sirah nabawiyah, bukan pekerjaan yang mudah bagi Rasulullah untuk meyakinkan kepada manusia di zaman itu untuk meninggalkan kehidupan jahiliyah. Namun pada akhirnya, setelah proses panjang dengan kesabaran yang tinggi, Rasulullah berhasil meraih ‘kemenangan’ itu.

Terdapat empat misi khas Rasulullah sebagai seorang pemimpin dan penyampai wahyu saat itu, yaitu membacakan tanda-tanda, membentuk jiwa, mengajarkan pengetahuan dan kearifan, dan melahirkan tatanan/peradaban. Secara ringkas, keempat misi tersebut dijabarkan sebagai berikut.

1. Membacakan tanda-tanda

Tugas pemimpin adalah menyampaikan konsepsi-konsepsi yang diambil dari Al-Quran dengan bahasa yang mampu diterima oleh segenap manusia yang dipimpinnya (sesuai dengan bahasa kaumnya). Agar mampu menyampaikan konsepsi-konsepsi tersebut, pemimpin harus mampu memahami isi Al-Quran dan membaca tanda-tanda di alam/dunia. Dengan kata lain, ia mampu memahami ayat kauliah, yaitu firman-firman Allah dalam Al-Quran dan tanda-tanda yang terjadi di alam/dunia, yang merupakan kebesaran Allah. Pemimpin yang tidak mampu membaca tanda-tanda tersebut, maka tidak akan mampu membaca tanda-tanda yang lain.

Pemimpin sejatinya juga adalah futurolog, yaitu orang yang mampu memprediksi trend masa depan. Ia memposisikan dirinya sebagai bagian dari kekuatan yang membangkitkan dan membentuk masa depan (generative force) di mana pribadi dan kehidupan pemimpin profetik menjadi sumber aliran kehidupan masa depan. Maka dari itu, ia tentunya harus mampu membaca tanda-tanda yang terdapat di Al-Quran maupun alam/dunia tempat ia hidup.

2. Membentuk jiwa

Menjadi pemimpin bukanlah tanggung jawab kecil. Ia butuh pengorbanan dan perjuangan. Pengorbanan dan perjuangan yang lahir dari jiwa-jiwa yang kotor tentunya tidak akan menghasilkan kemenangan yang abadi. Dengan demikian, sebelum bersiap menjadi pemimpin, seorang manusia perlu rutin membersihkan jiwanya dengan ibadah-ibadah. Namun ibadah tidak serta merta harus berbentuk dalam ritual-ritual wajib tertentu. Pembersihan jiwa yang dilakukan harus disesuaikan dengan apa yang mau disucikan. Jika pemikiran, sucikan dengan ilmu. Jika ekonomi, bersihkan dengan pekerjaan. Jika moralitas (akhlaq) bersihkan dengan perilaku luhur.

Pemimpin yang jiwanya telah terbentuk memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah, manusia lainnya, dan alam. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan dan pertumbuhan dalam dirinya. Ia mengalami penyesuaian dan pertumbuhan dari segi kuantitatif yang tampak pada fisiknya dan kualitatif yang tampak pada kematangan karakter, emosi, kognitif, bahasa (berinteraksi, berkomunikasi), dan moralnya.

3. Mengajarkan pengetahuan dan kearifan

Pemimpin profetik harus mengajarkan Al-Quran untuk menjadi pedoman dan jalan hidup (way of life), serta mengaktifkan kembali fitrah atau nurani kepada para pengikut dan masyarakatnya. Ia juga tidak terjebak dalam bentuk-bentuk politeisme yang menjebak (QS. Ar-Rum (30): 30–31), serta bergerak untuk membawa kembali manusia ke sejatinya yang suci dan pergumulannya yang profain di dunia, yang membuat mereka lalai. Dan hanya pemimpin yang mampu membaca tanda-tanda pada Al-Quran dan alam/dunia serta memiliki jiwa yang telah terbentuk yang dapat mengajarkan pengetahuan dan kearifan tersebut pada manusia-manusia yang ia pimpin.

4. Melahirkan tatanan/peradaban

Setelah mengajarkan pengetahuan dan kearifan, pemimpin profetik harus membentuk pengikut dan masyarakat menjadi seperti terlahir kembali menjadi manusia-manusia bermental spiritual yang kuat dan siap membangun tatanan/peradaban baru dengan konsepsi Islam. Maka dari itu pemimpin profetik harus mampu menciptakan pengaruh yang kuat dan membentuk circle of influences yang besar agar mampu menciptakan tatanan/peradaban tersebut. Salah satu caranya adalah dengan banyak belajar, membaca, berbagi ilmu, dan membersihkan jiwa-jiwa manusia lain dari profain dunia.

Beberapa hal yang harus dimiliki oleh pemimpin profetik agar mampu melahirkan tatanan/peradaban:

a) Visi kelangitan

Melakukan perubahan (sosial) yang besar tidak bisa tanpa visi kelangitan oleh pemimpinnya. Yaitu visi yang besar mengangkasa, bertujuan menghimpun kebermanfaatan bagi orang banyak dan kejayaan Islam. Dengan memiliki visi kelangitan tersebut pula, pemimpin akan menjadi dekat dengan Allah sehingga akan mampu menghadirkan kemampuan untuk menciptakan dan mendorong perubahan.

b) Karakter dan moralitas

Esensi sebuah kepemimpinan adalah menyisakan ‘bekas’ pada (kaum) yang dipimpin. Setelah usai masa kepemimpinannya, pemimpin harus tahu, seberapa banyak orang yang telah terbuka hatinya dan menjadi lebih baik karena pengaruh dari kepemimpinannya tersebut. Karena itu, karakter yang kuat dan moralitas yang tinggi sangat dibutuhkan. Salah satu karakter yang harus dimiliki adalah sifat lemah lembut.

Rasulullah saw tidak pernah bersikap kasar dan berhati keras kepada siapa pun, bahkan dengan musuh maupun kelompok orang-orang yang membencinya. Bahkan dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah saw tetap bersikap lemah lembut kepada seorang pengemis buta yang selalu mencaci maki dirinya. Sebagai pemimpin, terlebih muslim, sebaiknya kita tidak bersikap terlalu reaktif terhadap lawan-lawan kita. Hendaknya kita menaklukkan mereka dengan karakter yang lembut dan menyentuh.

c) Kecerdasan profetik

Pemimpin profetik senantiasa memiliki pikiran yang positif (positive thinking) dan menjadi pioneer dalam segala hal. Kecerdasannya mampu membedakan yang benar dan salah. Ia juga mampu menggagas kehidupan yang benar, menemukan tujuan hidup yang benar, dan memberikan alasan-alasan yang benar. Sehingga mampu memanfaatkan emosi dan pikiran secara lebih bernilai.

d) Kewalian (sainthood)

Pemimpin profetik senantiasa meyakini bahwa hanya Allah lah satu-satunya zat yang patut dijadikan wali dalam segala urusan. Sehingga ia memiliki kekuatan tertentu (karamah).

Untuk mencapai misi khas tersebut diperlukan pula instrumen yang khas. Rasulullah memiliki dan menjalankan empat instrumen dalam penyampaian konsepsi-konsepsinya, antara lain:

  1. Pendidikan dan Keteladanan
    Pemimpin profetik mendidik pengikut dan khalayak luas dengan moralitas dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ia menghidupkan nilai-nilai dan moralitas tersebut dalam seluruh kiprah pelakunya. Pemimpin profetik juga merupakan teladan. Keteladanannya meliputi ketegaran dan keteguhan hati serta kesabaran dalam perjuangan, ibadah dan akhlaq (moralitas), dan kezuhudan dalam hidupnya.
  2. Pelayanan
    Pemimpin profetik menjadikan seluruh kehidupannya sebagai aliran kehidupan baru yang sedang berkembang. Dirinya adalah instrumen bagi terbentuknya tatanan baru.
  3. Keadilan
    Mampu bersikap adil, bukan hanya dalam tatanan pemerintahan atau organisasi yang ia pimpin. Tapi juga bersikap adil kepada keluarganya, termasuk memenuhi hak-hak atas dirinya sendiri.
  4. Musyawarah
    Musyawarah termasuk dalam barisan hal-hal terpuji dalam Islam. Rasulullah saw adalah orang yang selalu mengutamakan musyawarah dalam segala hal. Bahkan, sebuah keputusan yang dianggap tidak terlalu baik, jika memang keputusan tersebut didapat dari sebuah musyawarah, maka itu tetap yang paling baik. Karena musyawarah adalah cerminan akhlaq, yang merupakan cerminan akhlaq, menghargai keberadaan dan pandangan orang lain, serta kebersamaan dengan mereka.

Sebaik-sebaiknya pemimpin adalah pemimpin yang mampu melahirkan kader-kader yang lebih baik dari dirinya. Tidak dapat dipungkiri, kaderisasi bukan hal mudah. Membentuk jiwa dan menanamkan nilai-nilai dalam diri seseorang butuh strategi yang tepat dan kesabaran yang tinggi. Rasulullah adalah contoh pemimpin profetik yang mampu melahirkan banyak pemimpin dan pejuang tangguh setelah masa kepemimpinannya berakhir, yaitu ketika beliau wafat.

Kaderisasi ala Rasulullah saw dimulai dari membangun keteguhan dan militansi. Langkah-langkah dalam membangun keteguhan dan militansi dimulai dari promosi gagasan, pengajaran/pendidikan, pembinaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan, serta pada akhirnya memastikan hal-hal pencapaian berupa pengetahuan (ma’rifat), kesadaran dan ideologi (fikrah), praksis/kegiatan amal, dan merapatkan barisan gerakan (harakah).

Di samping dengan keyakinan yang kuat dan manajemen kepemimpinan yang profesional, keteguhan dan militansi tersebut dibangun oleh Rasulullah dengan beberapa prinsip. Pertama, literasi-humanisasi-transendensi, yaitu membentuk persaudaraan universal berbasis konsensus keimanan, maksud dan kehendak, serta realisasi/aksi. Rasulullah bekerja dan berkarya dengan pilar spiritual path finder, yaitu meraih pencerahan (intentionalism) dan menyeru khalayak pada jalan pencerahan (actionalism).

Sebagai seorang teladan yang hendak mendidik dan membentuk jiwa umat-umatnya pula, Rasulullah selalu menjadikan Al-Quran sebagai pedoman utamanya. Beliau sudah terlebih dahulu paham bahwa faktor referensi/genre buku yang dipilih untuk dibaca adalah hal penting. Faktor referensi tidak hanya sekadar mengandung ilmu/pengetahuan, tetapi juga kebenaran, wibawa, dan kekuatan pembangkit yang dahsyat. Sehingga ia akan membentuk pola pikir, membingkai nilai-nilai, strategi, sistem, dan karakter baik individu maupun kolektif. Maka, prinsip kedua, pemimpin haruslah memiliki faktor referensi yang banyak dan berkualitas. Pemimpin dengan faktor referensi yang banyak dan berkualitas, akan lebih bijak dibanding pemimpin dengan faktor referensi rendah, yang cenderung memiliki karakter lemah.

Namun demikian, tidak akan ada perubahan besar jika aktor perubahannya senang di tempat tidur alias malas. Tokoh besar memiliki waktu tidur sedikit karena ia memiliki agenda-agenda yang besar pula dan padat. Tokoh besar sibuk dengan aktivitas menyampaikan pesan dan visi kepada orang-orang terdekatnya dan masyarakat luas. Meneladani Rasulullah saw yang memiliki waktu istirahat sangat sebentar setiap harinya, maka, prinsip ketiga, seorang pemimpin besar haruslah telah terlepas dari tragedi selimut.

Dalam QS. Al-Hijr (94–95), Allah menyeru kepada manusia untuk menyampaikan segala kebenaran dan apa yang diperintahkan oleh-Nya secara terang-terangan. Dan inilah prinsip keempat, seorang pemimpin haruslah berani melakukan dakwah secara terang-terangan. Tidak perlu karena ada jaminan perlindungan dari Allah. Dakwah sembunyi-sembunyi hanya boleh dilakukan jika karena apabila dakwah tersebut dilakukan terang-terangan maka pelakunya dapat terkena ancaman.

Prinsip kelima, para pemimpin hendaklah memiliki akhlaq lemah lembut agar dapat menembus kekerasan hati dan menyentuh para target dakwahnya dengan iman. Sebagaimana Rasulullah yang memiliki lisan yang halus dan sikap yang lembut, serta kemampuan memaafkan kesalahan orang lain lalu kemudian memohonkan ampun kepada Allah. Jangan sampai kita memiliki fazhzhan (lisan yang kasar, sering menyakiti orang lain, dan tingkah laku yang mengganggu orang lain) dan ghalizal qalb (hati yang keras, tidak mudah tersentuh dengan penderitaan orang lain). Termasuk kebiasaan untuk bermusyawarah. Karena hal ini akan berpengaruh pula terhadap bagaimana pesan kebaikan itu disampaikan kepada umat, yang merupakan prinsip keenam. Pemimpin profetik mampu menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran dengan cara yang baik, benar, tepat, dan proporsional. Ia pula selalu menggunakan fakta-fakta dan data-data yang valid.

Akan tetapi, bagaimanapun metode hanyalah cara. Sebagai seorang manusia biasa, pemimpin profetik senantiasa memperkuat ibadah dan mendekatkan diri dengan Allah (vertikal), serta membangun hubungan yang baik dengan segenap manusia di sekitarnya (horizontal), yang merupakan prinsip ketujuh. Rasulullah saw dan keluarganya tidak pernah melewatkan shalat malam. Shalat malam pula merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Beliau.

Rasulullah saw adalah sosok yang sangat menghargai orang lain, memuliakan tetangga dan para tamunya. Beliau menjaga hubungan horizontalnya dengan cinta (mahabbah). Mahabbah ini termasuk dalam prinsip kedelapan. Mahabbah memiliki energi yang sangat dibutuhkan untuk membangun kekuatan kolektif (jamaah). Jenis cinta ini termasuk pula kasih sayang kepada sesama orang yang beriman, yang menjadikan sesama mereka bersaudara dan dibuktikan dengan cara, misalnya, saling mengucapkan salam dan memberi hadiah. Ibarat satu tubuh dan satu keluarga yang saling menguatkan. Persaudaraan merupakan konsekuensi logis keimanan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, seperti dalam QS. Al-Hujurat (10).

Ketika setiap diri sudah merasa saling terikat karena ketauhidan dan keimanan, maka pemimpin akan dengan mudah mengarahkan untuk bersama menyatukan kekuatan, membangun sistem yang berlandaskan pada konsepsi Islam, yang merupakan pula prinsip kesembilan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Syarifatul Umam.
Penerima Beasiswa Program Pembinaan SDM Strategis, Nurul Fikri

Lihat Juga

Wanita, Kepemimpinan, dan Peran Politik dalam Islam