Home / Pemuda / Cerpen / Pemilik Senyum Teduh Itu

Pemilik Senyum Teduh Itu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comPemuda itu datang ke tempatku menunggu bus Damri pada pagi itu. Ia tiba dengan dibonceng oleh pemuda lainnya yang lebih muda. Ia pun turun dan memberikan senyum manisnya, baru kali itu ku lihat senyum yang sangat teduh dan menyejukkan hati. Senyuman itu tak bisa kulupakan hingga kini. Ada seorang wanita tua di dekatku pada saat itu, ia pun menyapa ibu tersebut dengan bahasa melayu belitung,

Ikam nak ke mane ke?” ucapnya pada ibu paruh baya itu kepadanya.

“Nak ke manggar”, jawab sang ibu dengan balas tersenyum pula

“Aok”, ucapnya menutup perbincangan.

Kemudian perbincangan terhenti karena tumpangan mobil yang ditunggunya telah datang. Seraya tersenyum denganku dan si Ibu meminta pamit untuk pergi terlebih dahulu.

Pemuda itu selain memiliki senyum yang teduh juga memiliki keramahan kepada siapapun. Tapi, entah kenapa ia tidak bertanya kepadaku mau ke mana atau siapa namaku atau apalah sebagai basa-basi. Senyum teduhnya tak bisa kulupakan, ditambah wajahnya yang putih bersinar dengan sedikit janggut dan perangai yang rendah hati. “Adakah seseorang telah memilikinya? Astaghfirullah berfikir apa aku ini”, ucapku dalam hati.

Bus Damri yang ku nanti pagi itupun tiba. Bus pun menyelusuri perjalanan ke tempat pengabdianku SDN 4 Dendang di Aik Asam, Dendang Belitung Timur. Di dalam bus, masih terbesit wajah dan senyuman pemuda itu. Pemuda yang sangat yang memiliki wajah teduh dan sosoknya yang shalih. Aku kembali beristighfar karena telah membayangkan hal yang aneh saat ini sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku pun berfikir bahwa senyuman anak-anakku telah menanti agar aku masuk ke kelas mereka dan memberikan tepuk-tepuk sebelum memulai pelajaran dan memberikan materi matematika.

Aku sering ke kota Tanjung Pandan karena akses internet tidak mendukung di tempatku. Sementara, aku ingin mengirim tulisan ataupun mencari bahan-bahan ajar. Jadi, setiap minggu akan ku agendakan menuju Tanjung Pandan, tempat tinggal temanku Yusi. Biasanya ku sapa dengan mbak Yusi. Bila ke Tanjung, aku ibarat orang desa yang tidak pernah menemukan sinyal. Pagi-malam terus online karena memanfaatkan waktu selama berada di Tanjung. Aku juga tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk membuat tulisan satu, dua atau tiga setiap kali ke kota. Karena waktu sangat berharga.

Perjalananku di penempatan hampir usai, suara manja dan senyum manis anak-anak selalu saja mengatakan padaku

“Ibu, nda usah pergi dari sinik. Muji ibu pergi kamik nda ade tepuk-tepuk lagi.

Muji ibu nda ade, aku nda akan ke rumah Sekolah agik

“Muji ibu nda ade, aku nda nak agik datang ke rumah Sekolah!”

Ibu, kalo udah ke Bogor ngulak pula ke sinik?”

“Ibu, selamanya aje tinggal di sinik. Cari orang Belitong buk!”

Ya, sederetan pertanyaan dan pernyataan dari anak-anak menandakan mereka ingin kehadiranku tetap berada di sisi mereka. Bahkan ada anak SMP kelas VII yang dulunya bersekolah di SDN 4 Dendang dan mengatakan padaku

“Ibu, aku cuma ngerasa dekat kan ikam. Beda sama guru lainnya. Rasanya beda aja buk. Ikam nda usah pergi buk, di sinik aje”

Untaian perasaan mereka terungkap dengan tulisan dan juga lisan. Aku sangat menghargai perasaan mereka. Karena mereka adalah anak-anak yang luar bisa. Karena mereka adalah anak-anak yang hebat dan suatu saat negeri pertiwi akan penuh dengan prestasi mereka. Keyakinanku kuat tentang itu, suatu saat mereka akan memimpin negeri ini!

Hari Sabtu sudah menjelang dan aku pun harus kembali ke Tanjung Pandan lagi, karena malam ini akan diadakan rapat tim bersama teman-teman Laskar Satam.

 ***

            Senin, kembali hadir menyapaku. Tas ransel berwarna hitam telah bertengger di bahuku dan sebungkus plastik besar merupakan bekal persiapan selama seminggu ke depan. Ada sebuah motor yang menghampiri tempatku menunggu kehadiran bus yang berwarna putih itu. Tapi, sosok pemuda dengan pakaian dinas coklat susunya turun dari motor tersebut. Wajahnya tak asing lagi bagiku. Senyumnya yang teduh, ramah dan sumringah selalu menarik perhatianku untuk menatap wajahnya dan senang berbicara dengannya. Ternyata pertemuan kali kedua itu memberikan keakraban dengannya. Aku dan dia saling memiliki kontak satu sama lainnya.

***

            Waktu untuk menetap di Negeri Laskar pelangi ini telah usai. Dan waktuku untuk berpamitan pun tiba. Aku berpamitan dengan anak-anak yang membuatku meneteskan air mata. Acara persembahan untukku menutup momenku di Aik Asam ini sangat mengesankan sekali. Sampai-sampai air matapun tak sanggup lagi kubendung. Kemudian aku pun berpamitan dengan anak-anak, kepala sekolah dan guru-guru yang ada di SD ini. Hari ini adalah hari penarikan kami SGI IV. Luar biasa acara yang dimeriahkan oleh anak-anak dan membuatku tidak akan pernah bisa melupakan mereka.

Aku pun melanjutkan perjalananku selanjutnya ke Tanjung Pandan, untuk mempersiapkan keberangkatan kita esok hari agar bisa berada di bandara. Ada seseorang yang aku belum bertemu dengannya untuk berpamitan. Aku hanya bisa menyampaikan kepada lewat sms saja.

“Assalamu’alaikum. Insya Allah saya dan teman-teman besok sudah tidak di sini lagi. Besok kami akan terbang ke Bogor. Mohon maaf ya bila banyak melakukan kesalahan, semoga segera di maafkan J”, bunyi sms dariku.

Namun, tak kutemukan sms balasan hingga esok dan sampai aku pun meninggalkan Bogor untuk melanjutkan kembali aktivitasku di Medan.

***

Satu tahun kemudian.

Alhamdulillah, aku diberikan kesempatan untuk mendidik generasi masa depan bangsa di sebuah sekolah swasta tingkat SMP dan SMA. Menariknya, ini adalah masa puber anak-anak, sehingga aku harus bisa memberikan kedekatan berbeda kepada anak-anak karena menuju masa remaja itu butuh perhatian yang lebih dari anak SD.

Sms dari seseorang bertengger di HP ku dengan menggunakan nomor yang asing. Aku penasaran, nomor siapa ini ya. Mungkin saja sms yang isinya undian berhadiah lagi karena biasanya nomor asing itu isinya undian berhadiah. Tapi, rasa penasaranku ingin melihat langsung apa isi sms tersebut dan siapa pula yang mengirimnya.

“Assalamu’alaikum. Apa kabar? Sehatkah? Saya berencana ingin mengunjungi Medan. Bisakah bantu saja menjadi pemandu untuk tahu peta Medan?

___ Dari seseorang di Belitung, Negeri setiap asa terpatri_____

“Isi sms ini sepertinya, ia adalah orang yang pernah mengenalku. Tapi siapa ya?” ucapku dalam hati.

Pikirku pun mencari tahu siapa pemilik sms tersebut.

“Maaf ini siapa ya?”, balasku

“Saya Muhammad Ardiansyah. Masih kenalkah?”, terangnya.

“Oh Ardi. Alhamdulillah saya dan keluarga sehat semua di sini. Gimana kabar kamu? Boleh, ada rencana apa di Medan?”, tanyaku.

“Sehat alhamdulillah. Ya, saya dan keluarga berencana ingin silaturahim ke rumah saudara saya yang ada di Medan. Sekitar 2 minggu lagi saya akan ke sana. Rumahnya di daerah Tanjung Gusta. Jalan Klambir V”, balasnya.

“Oh ya mungkin saya mengenalnya, siapa namanya?” tanyaku.

Tiba-tiba percakapan terhenti karena sms dari Ardi pun tak kunjung tiba di HP-ku. Mungkin lagi sibuk atau baterai HP-nya lowbatt kali. Berbagai alasan kuhadirkan. Dan aku pun kembali mengerjakan kegiatan lainnya.

***

Dua minggu ke depan

Sms dari Ardi:

“Assalamu’alaikum. Git, saya akan menuju ke Medan hari ini. Insya Allah, jam 12.00 pesawat saya akan sampai di Medan. Tolong jemput saya ya”, ucapnya.

Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku terkejut, karena Ardi selalu datang tiba-tiba dan hilang tiba-tiba pula. Aku meminta izin untuk tidak masuk ke sekolah hari ini kepada Kepala Sekolah.

Ardi tiba di Bandara internasional Kuala Namu. Dia beserta 2 orang laki-laki, satu berumur paruh payah dan terlihat sudah sangat sepuh, sedangkan satu lagi berumur sekitar 15 tahun serta satu orang perempuan yang ku taksir umurnya mencapai 57 tahun. Aku menyalami dan memeluk wanita itu yang diperkenalkan Ardi sebagai Ibunya, laki-laki yang terlihat sepuh itu adalah Ayahnya sedangkan laki-laki yang berumur 15 tahun itu adalah adiknya. Tiba-tiba Ibu Nur, ku menyapa beliau meminta agar mereka bisa diizinkan berkunjung ke rumahku. Aku merasa heran dan kaget seketika.

“Loh bu, kata Ardi Ibu nak ke rumah saudara Ibu yang berada di Klambir V, ngape tulai ke tempat saya?, tanyaku dengan nada heran.

“Ye, kamu juga kan saudara Ibu juga. Semua muslim kan bersaudara. Benar toh nak Gita?”

“Ye buk”.

Aku masih mengernyitkan dahiku tandaku keheranan namun, dengan pernyataan dari Ibu itu menjadi penguat bahwa mereka hanya ingin silaturahim saja ke rumahku.

“Ibu kami ade di Rumah ke?”, tanyanya padaku.

“Mual ade buk. Mamak tadik agik masak idang makan siang. Tapi, saya beritahu Mamak duluk ye, kalau ade tamu dari Belitong. Sebentar ye buk, saya telpon Mamak duluk.”, ucapku pada Bu Nur

 

Aku mengantarkan Ibu Nur, Ardi, Pak Chandra dan Galuh menuju rumahku. Di rumah Mamak telah menyediakan masakan khasnya Soto Medan, perkedel kentang dan bakwan.

“Assalamu’alaikum. Mak, ini ada tamu dari Belitung. Ayo buk masuk, anggap saja rumah sendiri”, ucapku.

“Wa’alaikumsalam. Silakan masuk Pak, Bu. Ayo dek, seraya menyilakan duduk di Karpet merah”, pinta Mamak.

Mamak sangat pandai kalau berdiplomasi dengan orang lain. Sepertinya Mamak tidak pernah kehabisan kata-katanya bila berkomunikasi dengan orang lain. Itu kelebihan Mamak selain memasak.

Bu Nur pun, sembari membuka pembicaraan perihal mereka hadir di sini.

Ayah Ardipu menimpali apa yang disampaikan istrinya. Bahwa mereka ingin mempersunting seorang istri untuk Ardi.

“Memang siapa calonnya Pak?”, tanyaku penasaran.

“Calonnya tidak jauh-jauh dari sini. Orang Medan dan kemarin sempat tinggal di Belitung juga”, jawab Pak Chandra.

“Orangnya ada di rumah sinikah Pak?’, pertanyaan cerdas Mamak.

“Nah itu dia tujuan kami ke sini Bu. Orangnya ada di sini dan tadi kami juga di sambut hangat olehnya di Bandara”, jawab Pak Chandra dengan tersenyum sambil memandang ke arahku.

“Hah…siapa Pak?”, tanyaku polos pula.

“Halah, kak Gita pura-pura tidak tahu itu”, goda Galuh kepadaku.

Jelas aku jadi tersipu malu dan jadi salting pada saat itu. Aku tidak bisa berkata apapun, tersenyum pun aku tak bisa karena aku masih heran dan aneh dengan apa yang terjadi padaku. Secepat inikah hal itu akan terjadi. Diakah si Pangeran berkuda putihku? Senyum teduhnya saat itu bertengger di wajahku. Tapi, aku tak berani menetapnya. Namun, pada saat semua menggodaku, Ia hanya melemparkan senyum teduhnya padaku dan aku hanya melihatnya sekilas saja. Karena aku masih sangat malu saat itu.

Kini, akulah yang memiliki senyum teduh itu. Senyum yang pernah kurindukan hadirnya agar bersemayam dalam hidupku dan kini, setiap saat aku bisa menikmati senyum teduh itu dan bersama dengannya merayakan cinta yang tertanam hanya karena-Nya. Karena aku dan dia tidak pernah tau siapa, kapan jodoh itu akan bertemu. Dan sekarang aku telah mengetahui rahasia si empunya senyum teduh dan wajah yang bersinar itu, ternyata dia memiliki amalan berupa: Shalat Tahajjud, selalu menjaga wudhu, puasa senin-kamis, sedekah kepada kerabat terdekatnya dan yang paling dahsyat dia adalah seorang Hafizh Qur’an. Laki-laki yang ku pinta pada-Nya untuk bisa menemani hidupku di dunia dan menghantarkan keluarga kecilku ke surga-Nya kelak. Alhamdulillah rahasia Allah sangat menakjubkan. ‘Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban’, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 8,59 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.
  • ulan

    ni kan yg ada di net…saya liat dia diacara lentera….apaa gitu..:)

Lihat Juga

Kenang-kenangan foto bersama dengan keluarga besar bapak KH. Ishaq: sebelah kiri paling ujung pak bahrum (bapak angkatku), pak KH. Ishaq, Nenek juju (istri pak kiyai ishaq) aku beserta keluarga besar bapak. (Ulfa Wardani)

Wajah Teduh Disinari Keberkahan Ilmu