Home / Berita / Opini / Maulid Nabi, Sunnah atau Tradisi?

Maulid Nabi, Sunnah atau Tradisi?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comLamartine (1790-1869), salah seorang sejarawan terkemuka pernah mengungkapkan kekagumannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam bukunya Histoire De La Turquie,1854, ia menyatakan bahwa, “Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang, semua menjadi satu. Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut. Hanya dengan kepribadian seperti dialah keagungan seperti ini dapat diraih.”

Senada dengan ‘penghormatan’ Lamartine tersebut, pengakuan lain datang dari Michael H. Hart seorang ilmuwan ternama asal Amerika Serikat, yang juga telah melakukan riset ilmiah tentang tokoh-tokoh besar yang berpengaruh terhadap sejarah peradaban dunia. Sehingga dalam bukunya “The 100, a Ranking of the Most Influental Persons in History”, Michael Hart harus mengakui dan menempatkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di urutan pertama di antara deretan manusia yang juga dianggap hebat. Penempatan ini tentu bukan tanpa alasan, apalagi yang menempatkannya adalah tokoh non muslim.

Ilmuwan bidang astronomi lulusan University of Princeton itu secara gamblang menyatakan kekagumannya kepada Nabi Muhammad sebagai satu-satunya orang yang paling sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi juga jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu. Lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan lalu mengajarkan ketunggalan dan immateriality (keghaiban) Tuhan dan dengan kekuatannya beliau menyingkirkan ‘tuhan-tuhan’ palsu kemudian mengenalkan Tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan.

Pengakuan tokoh-tokoh dunia terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan tanpa sebab, sebagai pendiri agama besar di dunia, beliau memiliki pengaruh yang luar biasa sepanjang sejarah peradaban manusia. Beliau telah memulai peradaban baru dan memberikan suatu pengaruh pribadi yang sangat besar pada jutaan umat manusia. Nabi Muhammad telah memberikan pengaruh yang sangat mendalam dan komprehensif kepada umat manusia yaitu dengan contoh teladan dalam bidang agama dan duniawi. Sehingga selama umat manusia mengikuti sunnahnya, maka mereka akan mendapatkan kebaikan dalam segala bidang kehidupan.

Ajaran Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah sekitar 14 abad silam tersebut telah mengalami perkembangan dan penganutnya pun terus bertambah dari masa ke masa. Namun dalam perkembangannya sedikit banyak telah dipengaruhi oleh tradisi masyarakat di berbagai belahan bumi. Misalnya ajaran Islam yang berkembang pesat di Indonesia mempunyai tipikal yang spesifik bila dibandingkan dengan ajaran Islam di berbagai negara Muslim lainnya. Menurut banyak studi, Islam di Indonesia adalah Islam yang akomodatif dan cenderung elastis dalam berkompromi dengan situasi dan kondisi yang berkembang di masyarakat.

Muslim Indonesia pun konon memiliki karakter yang khas, terutama dalam pergumulannya dengan kebudayaan lokal Indonesia. Di sinilah terjadi dialog dan dialektika antara Islam dan budaya lokal yang kemudian menampilkan wajah Islam yang khas Indonesia, yakni Islam bernalar nusantara yang menghargai keberagaman dan ramah akan tradisi atau kebudayaan lokal dan sejenisnya. Tentunya ajaran Islam yang telah diwarnai tradisi itu bukan foto kopi Islam Arab, bukan kloning Islam Timur Tengah, bukan plagiasi Islam Barat dan bukan pula duplikasi Islam Eropa. Namun demikian, Muslim Indonesia masih menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai acuan terpenting dalam beragama, kecuali bagi sebagian kelompok penganut ajaran sesat yang ingin ‘mencederai’ kemurnian ajaran Islam yang sesungguhnya.

Ajaran Islam yang tumbuh dan berkembang pesat di Indonesia memanglah tidak bersifat tunggal, tidak monolit, dan tidak simpel, walaupun sumber utamanya tetap pada Al Qur’an dan Sunnah. Islam Indonesia kadang bergelut dengan problematika bangsa dan negara, modernitas, globalisasi, kebudayaan lokal dan semua wacana kontemporer yang menghampiri perkembangan zaman di negeri ini. Bahkan dalam berbagai acara yang mengatasnamakan ritual keagamaan pun terkadang sangat kental dengan tradisi yang dianut masyarakat setempat, sebutlah acara peringatan maulid yang terlihat begitu ‘rumit’ karena mengusung konsep seremoni dengan corak budaya lokal Indonesia, padahal jika mencoba menilik prinsip dasar Islam yang diajarkan oleh Rasulullah, sebenarnya menjalankan ajaran Islam itu mudah, tapi bukan untuk dimudah-mudahkan.

Maulid Nabi dan Tradisi Lokal

Setiap memasuki pertengahan bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah, Perayaan Maulid Nabi telah menjadi pemandangan ‘unik’ di tengah-tengah masyarakat di berbagai belahan dunia. Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan ritual-ritual khusus seperti pembacaan Shalawat Nabi, pembacaan syair Barzanji dan sebagainya. Bahkan dalam budaya Jawa bulan Rabiul Awal yang biasa disebut bulan Mulud itu, dirayakan dengan nuansa tradisi Jawa dan permainan Gamelan Sekaten. Bukan hanya itu, peringatan Maulid Nabi biasanya juga diperingati dengan ritual memandikan beda-benda pusaka seperti keris, tombak dan barang pusaka lainnya dengan air yang sudah diracik dengan ramuan bunga tujuh warna. Air bekas cucian benda-benda pusaka tersebut kemudian diambil oleh masyarakat karena diyakini mengandung berbagai macam khasiat yang berguna untuk berbagai keperluan dan keberkahan.

Ada pula yang merayakan Maulid Nabi dengan karnaval dan pagelaran kesenian yang biasanya dilakukan masyarakat dengan memainkan wayang kulit atau wayang golek sejak siang hingga malam hari. Masyarakat pun lalu berbondong-bondong menghadiri acara itu karena meyakini malam tersebut merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa atau melakukan aktivitas yang diyakini membawa keberkahan bagi hidupnya.

Bukan hanya perayaan Maulid Nabi di Indonesia yang sangat ‘meriah’ dengan tradisi lokalnya. Di belahan bumi lain juga ‘ritual’ Rabiul Awal ini telah menjadi tradisi umat Islam,  seperti Malaysia, Brunei, Mesir, Pakistan, Aljazair, Maroko, India bahkan di Inggris, Rusia, Kanada dan China pun turut larut dalam perayaan Maulid Nabi, tentunya dengan selebrasi yang berbeda-beda sesuai dengan tradisi atau budaya di setiap negara. Ada yang merayakan Maulid Nabi dengan parade dijalan-jalan. Rumah, jalan dan masjid dihiasi dengan bendera warna-warni.

Lain halnya dengan Pakistan yang memperingati Maulid Nabi dengan mengibarkan bendera nasional di setiap bangunan dan pada pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal itu meriam ditembakkan di pusat kota sebanyak 31 kali yang konon katanya dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad. Tidak kalah ‘menarik’ juga dengan peringatan Maulid di India yang memamerkan relikui atau barang-barang peninggalan Nabi Muhammad setelah shalat subuh.

Melihat rentetan seremoni perayaan Maulid Nabi yang ‘unik’ dan beragam di setiap wilayah di dunia, tentu tidak salah jika ada orang yang menilai bahwa peringatan Maulid Nabi lebih cenderung pada tradisi masyarakat Muslim jika dibandingkan dengan substansi keagamaan yang ingin dicapai. Sehingga sangat mungkin jika dikatakan bahwa perayaan maulid dengan konsep acara seperti itu sangat minim dengan pengamalan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi setiap umat dalam mengarungi aktivitas hidup dan kehidupannya.

Cinta Rasul Tak Harus Maulid

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Banyak pihak menilai peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad, namun di pihak lain menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi tidak harus dilakukan, bahkan tidak jarang menimbulkan kontroversi yang tak berujung.

Dalam realita yang sesungguhnya, jika kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah dari kehidupan Rasulullah, maka tidak akan dijumpai ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para sahabat beliau pun tidak pernah mengadakan ihtifal (perayaan) secara khusus setiap tahun untuk mengekspresikan kegembiraan atas hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ritual perayaan Maulid Nabi juga tidak pernah ada pada generasi tabi’in atau pun setelahnya.

Dengan demikian secara khusus, Rasulullah memang tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Oleh karena tidak adanya anjuran dari beliau, maka secara spesial pula Maulid Nabi bisa dikatakan hal yang tidak disyariatkan. Apalagi mayoritas masyarakat saat ini memandang perayaan Maulid Nabi termasuk ibadah formal. Di mana hukum asal ibadah yang berlaku bahwa segala sesuatu asalnya haram, kecuali bila ada dalil yang secara langsung memerintahkannya secara eksplisit.

Semua orang tentu meyakini bahwa orang yang paling mencintai Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah keluarga beliau dan para sahabatnya. Abu Bakar, Umar, Utsman atau pun Ali bin Abi Thalib tidak pernah merayakan Maulid Nabi. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan para ulama pelopor Islam lainnya, tidak tercatat dalam sejarah bahwa mereka pernah merayakan maulid. Apakah kita mau mengatakan bahwa orang-orang yang berpegang teguh di atas sunnah beliau tersebut tidak mencintai Nabi karena tidak merayakan maulid? Sementara kita menggembar-gemborkan slogan cinta Rasul, tapi hanya sebatas mampu mendandani telur warna-warni kemudian memperebutkan dalam sebuah selebrasi maulid.

Sejatinya, cinta kepada Nabi Muhammad adalah dengan berpegang teguh di atas sunnahnya, mengikuti segala sesuatu yang datang darinya dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnahnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan apapun yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”(QS. Al Hasy: 7)

Wallahua’lam bisshawaab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 8,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Achmad Firdaus
Pengurus International Student Society NUS Singapore.
  • amara hadi

    Ya …. saya pikir tdk merayakan maulid Nabi Muhammad SAW adalah benar ….
    ini merujuk dari para sahabatnya yg tidak pernah merayakan maulid ….

    • rizkid

      اللَّهُمَّ صَلَّىعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

      • sardy

        hati2 terhadap aliran baru yg selalu teriak bidah2 ,termasuk islam wahabi,mereka berani mengkafirkan sesama islam,para ulama,dia menganggap hanya golongannya yg benar,,dan menganggap sesat yg lain ,merasa suci,angkuh,baru tahu satu kitab sdh mengkafirkan org,memecah belah umat islam,,,,,,parah

        • amara hadi

          :)

        • ROBIN

          Yg mnganggap bid’ah krn kurang paham, karena menganggap setiap tradisi Islam harus ada contognya dr Nabi dan para sahabatnya…padahal maulid hanya sarana syiar di masyarakat, seperti adzan dgn speaker….krn syiar maka caranya bisa berbeda2 aslkan tdk bertentangan dgn ketentuan agama

          • Bhaltazords

            maulid mana bisa disamakan dengan adzan pakai speaker. mas brow. Adzan memang sudah ada dari zaman nabi. diresmikan langsung oleh nabi. lha maulid siapa yang meresmikan ?

          • Muhammad Kurniawan

            Anda yang kurang faham sepertinya, kenapa tradisi Islam harus ada contohnya dari Nabi dan para sahabatnya?
            Lah kamu mau mencontoh dari siapa?
            Kakek nenek moyang, buyut kamu?
            Kamu umat siapa emang?
            kalo bukan dari Nabi dan sahabatnya siapa lagi akhi, maka dari itu semua harus ada contohnya dari Nabi kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

    • rizkid

      اللَّهُمَّ صَلَّىعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    • sardy

      abu lahab tiap malam senin tdk disiksa karna pernah memuliakan nabi waktu beliau lahir,,,,zaman nabi tdk pernah pake mikropon,pake speaker, ,zaman nabi tdk ada perintah membukukan quran,,apa salah itu jg salah,,,belajar lagi jgn cuma satu kitab aja mas

    • Hamba Allah

      anda berhak berpendapat demikian, tapi tidak berhak untuk menyalahkan orang yang berpendapat lain..

      • amara hadi

        Its ok , agree with you ….its just opinion ….
        dont be tension bro ….. be happy :)

  • Abdullah Hasny

    MEMULIAKAN RASULULLAH SAW BAGI KITA KAUM MUSLIMIN PENGIKUT RASULULLAH SAW ADALAH WAJID SYAR’I, KARENA INI ADALAH PERINTAH ALLAH SWT, CARA KITA MEMULIAKAN RASULULLAH SAW BER MACAM2, ADA YANG MEMPERINGATI HARI LAHIRNYA DENGAN BESAR2AN SESUAI KEMAMPUANNYA, ADA YANG DENGAN MENGIKUTI SUNNAH2NYA, ADA YANG SELALU MEMBACA SALAWAT NABI SE BANYAK2NYA,, WALHASIL BER MACAM2 CARA KITA MENCINTAI DAN MEMULIAKAN NABI KITA NABI MUHAMMAD SAW, YANG PENTING MASING2 CARA YA SUDAHLAH, TIDAK USAH MENYALAHKAN CARA2 YANG MEMULIAKANNYA, ITU TERSERAH SAJA, SELAMA TIDAK MELANGGAR ATURAN AGAMA, APABILA DIDALAM CARA TERSEBUT MEREKA MEMBUAT SYAIR2 DAN PUJIAN2 BUAT RASULULLAH DAN KELUARGANYA, BIAR SAJA MEREKA MEMULIAKANNYA DENGAN CARA MEREKA SENDIRI YAITU DENGAN BANYAK MEMBACA SALAWAT NABI, MEMANG RASULULLAH SAW PERNAH BERSABDA BAHWA, BERUNTUNGLAH 3X, UMATKU SETELAH KALIAN (MAKSUDNYA SAHABAT YANG SEDANG BERKUMPUL DENGAN RASUKLULLAH SAW) BAHWA MEREKA MENGIKUTI AJARANKU DAN SUNNAHKU SERTA MENCINTAIKU, WALAUPUN MEREKA TIDAK PERNAH BERTEMU DENGANKU

    • Hamba Allah

      Betul boss… masalah ini kan luas,,lapang, silahkan memilih cara yang jitu menurut masing2x dan yang masing2x mampu.. Mereka liko sekali seminggu boleh, terus kalau likonya sekali setahun, ngak boleh… standar ganda… :D

  • Su Marlan

    Tujuan dari merayakan Maulid nabi merupakan salah satu cara pembelajaran untuk bersholawat kepada Rosululloh seperti yang telah di perintahkan, sedangkan bila ada penyimpangan itu yang harus kita luruskan, bukan untuk kita persalahkan. sedangkan Rosululloh membutuhkan sholawat dari kita itu besar gunanya untuk Rosululloh dan kita juga. kenapa demikian? itu semua karena musuh musuh Rosululloh itu terus ada sampai sekarang bahkan sampai hari Qiamat nanti musuh musuh itu tetap berkeinginan untuk menjatuhkan Rosululloh berserta umatnya. maka otomatis bila kita memohonkan keselamatan untuk Rosululloh, pastilah Rosululloh akan membalas memohonkan keselamatan berupa ampunan dari ALLOH( itulah syafaat Rosululloh ) kepda kita. MENGINGAT PENTINGNYA SHOLAWAT maka jadikanlah acara Maulid Nabi itu sebagai salah satu cara pembelajaran untuk bersholawat kepada Rosululloh.

    • sardy

      betul sekali bro aq dukung

  • Su Marlan

    Tujuan dari merayakan Maulid nabi merupakan salah satu cara pembelajaran untuk bersholawat kepada Rosululloh seperti yang telah di perintahkan, sedangkan bila ada penyimpangan itu yang harus kita luruskan, bukan untuk kita persalahkan. sedangkan Rosululloh membutuhkan sholawat dari kita itu besar gunanya untuk Rosululloh dan kita juga. kenapa demikian? itu semua karena musuh musuh Rosululloh itu terus ada sampai sekarang bahkan sampai hari Qiamat nanti musuh musuh itu tetap berkeinginan untuk menjatuhkan Rosululloh berserta umatnya. maka otomatis bila kita memohonkan keselamatan untuk Rosululloh, pastilah Rosululloh akan membalas memohonkan keselamatan berupa ampunan dari ALLOH( itulah syafaat Rosululloh ) kepda kita. MENGINGAT PENTINGNYA SHOLAWAT maka jadikanlah acara Maulid Nabi itu sebagai salah satu cara pembelajaran untuk bersholawat kepada Rosululloh.

  • B_sakithati

    Nice Post

  • B_sakithati

    Nice Post

  • Hamba Allah

    1. Rasulullah, sahabat, tabi’iin dan tabii’ tabi’in tidak melakukannya…
    ———————-
    Mereka tidak melakukan, bukan berarti secara otomatis itu haram.
    Rasulullah mengadakan liko sekali seminggu ngak? mana riwayat yang mengatakan bahwa rasulullah mengkhususkan satu kali dalam seminggu untuk liko, dan memerintahkan liko sekali dalam seminggu? sahabat, tabi’in dan tabi’ tabiin juga tidak menyuruh liko sekali seminggu, kenapa menghususkan sekali seminggu? bid’ah dong?

    Apa sih yang dilakukan pada waktu maulid? diantaranya:
    1. membaca al qur’an.. ini boleh kapan saja dan dimana saja, termasuk pada waktu hari kelahiran rasulullah, mau tiap hari, tiap malam dll… silahkan, selain pada waktu2x yang ada dalail yang melarangnya seperti waktu junub dll, dan hari kelahiran nabi tidak masuk dilarangan itu.
    2. Membaca sirah nabi…sama juga boleh kapan saja termasuk hari kelahrian rasulullah.
    3. Ceramah agama, alias liko… Massa liko mingguan boleh, terus liko tahuan ngak boleh?
    Ngak usah susah2x nyari dalil khusus untuk ini juga hukumnya sudah boleh. yaitu keuniversalan perintah baca qur’an, belajar, memberi makan orang lain, silaturrahmi dll… apalagi ditambah dalil lain..silahkan baca dibuku2x lain.. (Rasulullah, sahabat, tabi’iin dan tabii’ tabi’in tidak melakukannya..) bukan dalil….

    2. Apalagi mayoritas masyarakat saat ini memandang perayaan Maulid Nabi termasuk ibadah formal.. Siapa yang bilang begitu?

    Yang ibadah itu: baca qur’annya, baca hadisnya, ceramah agamanya, sedekahnya, silaturrahminya, dll itu yang ibadah… kamu mengingkari itu? dan itu boleh kapan saja.

    Adapun memilih moment untuk melakukan ibadah itu pada waktu 12 rabi’ul awwal, itu bukan ibadah, tapi tradisi. Seperti orang pks memilih momen untuk liko sekali seminggu.. momennya bukan ibadah, tapi yang dilakukan diwaktu liko itu, seperti baca qur’an, itulah ibadah.. jangan standar ganda dong.

    Kalau ada pelanggaran selama maulid nabi, yang salah pelanggarannya. dan itu yang diluruskan. bukan kayak preman menyerang acara maulidan yang baik-baik.

    • Syarief Kate

      Pertama, hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya hari kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal dan bukan 12 Rabi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Rabi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

      Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan dan menganjurkan kepada umatnya. “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

      Ketiga, Para sahabat dan ulama salaf tidak pernah merayakannya maulid Nabi, padahal tidak ada halangan bagi mereka untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan kita. Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan. “Law kaana khairan lasabaqunaa ilaih” (seandainya amalan tersebut baik tentu para sahabat akan mendahului kita untuk melakukannya).

      Keempat, Seharusnya anda ‘cerdas’ dalam berkomentar, sangat tidak ‘nyambung’ ketika ada memaksa untuk mencocok-cocokan antara tarbiyah (liko) dengan maulid, di sini ada perbedaan yang signifikan antara keduanya karena liko yang ‘paling sering’ anda sebut dalam komentar tersebut memang telah tercatat dalam sejarah bahwa Islam telah memproklamirkan sebuah majelis mulia yang di sana duduk mesra Abu Bakar bangsawan Arab, Shuhaib imigran Romawi, Salman Pengembara Persia dan tentu juga Bilal, orang Negro Habasyah. Sementara sejarah Maulid Nabi bagaimana ada ‘gak’ yang anda dapat? Atau paling tidak ada ‘sepotong’ riwayat yang pernah menyebutkan hal tersebut.

      Kelima, Kalau anda mengatakan bahwa dalam Maulid Nabi diperingati dengan ‘hanya’ membaca Al Qur’an, ceramah agama, baca sirah Nabi. Okelah, saya merujuk dulu pada pendapat anda dengan mengabaikan dulu unsur “kesyirikan”
      didalamnya seperti yang sudah disebutkan penulis di atas. Lalu anda mau
      mengatakan bahwa segala bentuk ibadah dalam ‘kemasan’ Maulid itu sama ketika
      kita melakukannya diluar ritual Maulid Nabi?

      Alangkah bijaknya jika kita ‘memperbanyak’ referensi terlebih
      dulu seputar hukum dasar ibadah. Ingat, hukum asal Ibadah itu adalah haram,
      sampai ada dalil yang memerintahkannya. Terima kasih.
      (Akademisi UIN Alauddin)

      • sardy

        maulid bukan bagian syariat,,tapi syiar,,,mas,,dan waktunya tdk ditentukan,,nabi tdk pernah pake motor,pake jam dinding,,micropon untuk azan,duit yg bergambar,pake pesawat mau haji,itukan tdk di lakukan zaman nabi

        • Syarief Kate

          Maulid secara bahasa berasal dari kata walada – yalidu.

          yang artinya (1) tempat kelahiran atau (2) waktu kelahiran, karena
          maulid merupakan isim makan (tempat) atau isim zaman (waktu).
          makanya ‘agak lucu’ ketika ada orang mengatakan bahwa maulid waktunya tidak ditentukan. he.he. :-)

          • Hamba Allah

            kelihatannya saudara salah memahami waktu yang tidak ditentukan yang dikatakan saudara Sardy… bukan maulidnnya yang tidak ditentukan..

            tapi waktu2x perbuatan baik yang dilakukan didalam acara maulid itu yang tidak ditentukan.. seperti baca qur’an, boleh kapan saja, selain waktu yang dilaran, dan waktu kelahiran rasulullah tidak masuk dalam waktu yang dilarang……. jadi karena kapan saja boleh, kita punya hak untuk memilih waktu yang cocok buat kita… bukan hari kelahiran rasulullahnya yang ngak ditentukan… aya-aya wae

      • Hamba Allah

        Pertama: “karena terjadi perbedaan pendapat, maka tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis”.

        kok bisa, ?? setiap pendapat itu tentu ada dasarnya, dan silahkan di tarjih mana riwayat yang paling kuat..kan gitu, bukan malam mendelete semuanya. jadi yang berpendapat tanggal 9, silahkan hari itu, yang berpendapat 12 rabiul awal, silahkan 12 rabiul awwal, dan yang ngak tahu, ikut salah satunya atau diam, tidak menyalahkan orang lain… gitu aja kok repot..

        Kedua: tidak ada dasarnya? massa sih?
        Hampir 99 % negara islam saat ini memperingati hari kelahiran rasulullah, dan menjadikannya sebagai tanggal merah, hanya saudi saja yang ngak.. itupun sebagian rakyatnya masih memperingati…Apa kamu kira seluruh ulama islam bodoh selama berabad-abad dan kamu yang pintar? apa kamu kira ulama azhar semuanya, kemudian syuyuti, ibn hajar dll itu bodoh?

        Ada dasarnya, namun tidak perlu saya sebutkan disini..silahkan saudara baca sendiri.. bahkan kalaupun tidak ada dalil yang spesifik maka cukup keuniversalan dalil2x yang memerintahkan untuk belajar, baca qur’an dll sebagai dalil kebolehannya.

        Ketiga: sumber pengambilah hukum yang di sepakati adalah: al qur’an, sunnah, ijmah, qiyas.. perkara tidak dilakukan oleh sahabat, tabiin dan tabi’i tabiin, itu bukan dalil. Bisa saja Sahabat tidak membutuhkannya.. Didalam riwayat dikatakan: sahabat mengajarkan sejarah hidup dan peperangan Rasulullah kepada anak2xnya, seperti mengajrkan al qur’an… Sampe hafal… Apakah saudara diajarkan seperti itu sejak kecil? apakah saudara mengajarkan anak anda yang masih kecil seperti itu? apakah masyarakan yang saudara tinggal bersama mereka di ajari dengan cara itu? ngak kan?
        Jadi sahabat tidak terlalu perlu cara begitu karena mereka hidup dengan rasullah dan faham betul, begitu juga tabi’in dan tabi’ tabiin, karena kedekatan mereka kezaman rasulullah… sedangkan zaman kita sudah beda, dah lebih dari 1400 tahun… bisa mengumpulkan masyarakat untuk diceramahi sekali setahun kadang sudah syukur…

        Bukankan rasulullah puasa senin kamis, terus ketika ditanya, beliau menjawab, itu hari lahirku? Rasulullah memperingati hari lahirnya dengan puasa. jadi secara umum boleh dong di peringati dengan amal ibadah, seperti ceramah, baca qur’an, mengajarkan sirah dll?

        Keempat: sama aja… emang Rasulullah melakukan liko sekali dalam seminggu?

        Kelima: Saya tidak faham maksud anda.. Namun, yang jelas, hal-hal yang dilakukan pada waktu maulid nabi, seperti baca qur’an, ceramah, syiir pujian terhadap rasulullah seperti qosidah para penyair dari kalangan sahabat, seperti kaab dll, membagi2xkan makanan dll, itu mau dilakukan pada waktu maulid silahkan, pada waktu lain juga silahkan, sama saja.. namun pada tanggal 12 rabiul awwal adalah moment yang tepat diantara moment2x lainnya…

        Betul, asal hukum ibadah adalah haram… namun anda harus membedakan antara dua hal..mana yang ibadah dan mana yang kebiasaan..

        Didalam acara maulid nabi,,, dua-duanya ada:
        Ibadah: Membaca al qur’an, mengajarkan sirah nabi, memberikan makanan pada orang lain, menjalin silaturrahmi… ini bagian ibadah.. ada dalilnya yang menyuuruh kita untuk melkukannya kapan saja.. umum..jika anda ingin mengkhusukannya dengan mengatakan itu boleh kecuali hari kelahiran nabi, maka anda harus memberikan dalil..karena takhsis al ‘am bidhuni mukhossis batil..

        Adat/kebiasaan: yaitu momentnya.. waktunya…. jadi kan waktunya sebenarnya kapan saja boleh…namun kita memilih waktu yang bernilai sejarah..memiliki nilai dalam pandangan manusia.. pemilihan satu waktu, dari waktu2x yang dibolehkan bukanlah ibadah, tapi hanya kebiasaan… dan asal dari seluruh kebiasaan adalah boleh. bukan haram.

        (Akademis Dumay alias Dunia Maya)

        • Syarief Kate

          Masya Allah, Sangat ‘menarik’ penjelasan anda, karena segala yang anda sampaikan ‘katanya’ sesuai dengan dasar namun sayangnya tak ada satupun hadits atau ayat yg anda kutip untuk menguatkan opini anda. tapi saya salut bisa berdiskusi dengan orang ‘sehebat’ anda yg mndasari segala argumentnya dengan ‘logika kecerdasan’ semata.
          mungkin ‘agak’ sedikit berbeda dengan kebanyakan orang yang sedikit bijak jika menghadapi perbedaan.
          … jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
          kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya). (QS. An Nisa 59)

          Afwan, jika saya ‘terpaksa’ mengatakan bahwa menurut latar belakang history bahwa tanggal lahir Rasulullah itu tanggal 9 Rabi’ul Awwal, ini merujuk pada pendapat Syeikh Shafiyuurrahman Al Mubarokhfury (ahli hisab dan falak ). sekali lagi mohon maaf bukan berarti menyalahkan pendapat anda yang meyakini hari kelahiran beliau tgl 12. Tapi alangkah bijaknya jika anda melampirkan ‘dasar yang kuat’ agar saya dan pembaca yang lain lebih tercerahkan.

          Jika dalam komentar di atas anda mempertegas lg bahwa hari senin adalah hari kelahiran Rasulullah, Okelah, kita tentu sepakat, bahkan padaumumnya masyarakat muslim dunia tentu sudah sepakat bahwa Hari kelahiran Rasulullah adalah hari Senin. karena itu jelas hadiysnya yg diriwayatkan dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, bhw Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim).

          Namun jika saya boleh bertanya kepada anda, ada gak referensi yang mendasari pendapat anda yang mengatakan bhwa Rasulullah lahir pda tgl 12 Rabiul Awwal hari “SENIN”???
          karena menurut Al Mubarokhfury hari SENIN pada bulan Rabi’ul Awwal di tahun kelhairan Rasulullah tsb hanya ada pada tgl 2-9-16-23. Beliau mendasari pendapatnya kepada hasil penelitian seorang sejarawan dan ulama terkenal, Muhammad Sulaiman al Manshurfury dan seorang pakar astronomi, Muhammad Basya. kitab Ar Rahiq Al Makhtum yg ditulis Al Mubarokhfury tsb adalah pemenang pertama dalam lomba penulisan Siroh Nabawiyah yg diselenggarakan oleh Robithoh Al
          Alam Al Islamiy di Mekah-Arab Saudi pada tahun 1399 H / 1978 M, yang merupakan negara tempat KELAHIRAN Rasulullah.

          Selanjutnya, sumber pengambilah hukum yang di sepakati adalah: Al Qur’an, As Sunnah, Ijmah dan Qiyas. saya sangat sepakat. Lalu anda mengatakan “Perkara tidak dilakukan oleh sahabat, tabiin dan tabi’i tabiin, itu bukan dalil. krn menurut anda “Bisa saja Sahabat tidak membutuhkannya”??? Masya Allah..
          “Law kaana khairan lasabaqunaa ilaih” (seandainya amalan tersebut baik tentu para sahabat akan mendahului kita untuk melakukannya).

          Lalu anda menjadikan “Hampir 99 % negara islam saat ini memperingati hari kelahiran rasulullah” sebagai dasar?? (maaf ya saudara penulis, editor dan redaktur, bukan saya yg bilang hampir 99% itu).

          Ketika anda ‘mengira2’ hampir 99% ummat Islam memperingatinya lalu anda sudah menyimpulkan dan memastikan itu baik??

          “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan org yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah..” (QS. Al Maidah)
          Wallahul musta’an.

          • Hamba Allah

            Pertama: kapan rasulullah lahir?
            Seluruh ulama sepakat bahwa Rasulullah Saw lahir pada hari senin, namun tanggal berapa? Ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan tanggal 10 rabiul awwal sebagaimana yang di sebutkan oleh Ibnu Dihyah didalam bukunya, dan diriwayatkan oleh ibnu Asakir dari Abi Ja’far Al Bakir, dan diriwayatkan oleh Al Mujalid dari As Say’bi. Mayoritas ulama, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir didalam bukunya, Rasulullah lahir
            tanggal 12 rabiul awwal, sebagaimana yang di sebutkan oleh ibnu ishaq, dan diriwayatkan oleh ibnu abi Syaibah didalam Musannafnya dari Jabir dan Ibnu Abbas. Pendapat kedua ini adalah pendapat mayoritas ulama, sebagaimana yang disebutkan oleh ibnu katsir, dan dalam realita juga menunjukkan bahwa ini pendapat mayoritas ulama, karena seluruh Negara islam sependapat dengan pendapat ini, buktinya tanggal merah mereka tanggal 12 rabiul awwal (hari kelahiran rasulullah) dan tidak diprotes oleh para ulama. Artinya mereka setuju.

            Masalah ini tidak perlu diperpanjang, sudah di bahwas ratusan tahun sebelum kita. Ngapain lagi diperdebatkan???

            Terus: Apa pengaruh dari ini terhadap hokum, memperingati hari lahir nabi dengan hal2x yang dibolehkan didalam islam? Ngak ada sama sekali…ngak mempengarui hokum…

            Ada hal-hal yang perlu diingat:
            (1)Untuk menentukan hokum sesauatu tidak perlu “yakin” (arab: tapi 100%) cukup dengan ‘Dzannn” (51-99%), jadi sesuai dengan ijtihad masing2x..
            (2) Jika seandainya tanggal lahir rasulullah salah, terus kami peringati, berarti apa yang salah? Yang salah Cuma, nama acaranya. Sedangkan isinya benar, dan bukan bid’ah lagi, karena hakikatnya adalah ceramah biasa, Cuma salah dalam nama, bukankah ulama mengatakan: (la musahat fi al istilah).. jadi sama persis dengan LIKO PKS, Cuma namanya salah… jadi secara otomatis ngak bisa kamu bilang bid’ah…

            Kedua:
            “Perkara tidak dilakukan oleh sahabat, tabiin dan tabi’i
            tabiin, itu bukan dalil..titik…

            Ketiga: “Law kaana khairan lasabaqunaa ilaih”ini juga bukan dalil..dalil ada 4 tuh yang disepakati..ini hanya pendapat anda dan orang yang sependapat dengan anda..bukan dalil..

            Bisa saja saya katakan:
            Apa sahabat dulu membuat partai namanya PKS? “Law kaana khairan lasabaqunaa ilaih”.
            Apakah dahulu ada sekolah berbentuk pondok pesantren? “Law kaana khairan lasabaqunaa ilaih”,
            Apakah Sahabat melakukan liko sekali seminggu? “Law kaana khairan lasabaqunaa ilaih”.

            Ini namanya salah kaprah..yang bukan dalil dijadikan dalil..
            Dalam beristidlal, silahkan buat dalil yang disepakati bersama.

            Keempat: “tidak satupun hadits atau ayat yg anda kutip untuk menguatkan opini anda”.

            Nah loch. kok malah anda yang meminta dalil dari saya? pendapat saya yang selaras dengan kaidah umum hukum islam. yang sesuai dengan keuniversalan ayat2x al qur’an.. dengan demikian, ketika anda menganggap bahawa keunivesalah ayat al qur’an dan sunnah tidak mencakup “maulid”, maka andalah yang harus mendatangkan dalil “taksis”, bukan malah saya.. itu namanya “aneh bro”.

            jadi silahkann ayat al qur’an, hadis, ijma’ dan qiyas, yang mengatakan bahwa “memperingati hari kelahiran rasulullah dengan baca qur’an,. ceramah dll, hukumnya haram? silahkan..

            wallohu a’lam

            terima kasih

          • Hamba Allah

            Pertama: kapan rasulullah
            lahir?

            Seluruh ulama sepakat bahwa Rasulullah Saw lahir pada
            hari senin, namun tanggal berapa? Ada perbedaan pendapat.
            Ada yang mengatakan tanggal 10 rabiul awwal sebagaimana yang di sebutkan oleh
            Ibnu Dihyah didalam bukunya, dan diriwayatkan oleh ibnu Asakir dari Abi Ja’far
            Al Bakir, dan diriwayatkan oleh Al Mujalid dari As Sya’bi.

            Sebagian lain mengatakan
            bawhawa Rasulullah lahir tanggal 12 rabiul awwal, sebagaimana yang di sebutkan
            oleh ibnu ishaq, dan diriwayatkan oleh ibnu abi Syaibah didalam musannafnya
            dari Jabir dan Ibnu Abbas. Pendapat kedua ini adalah pendapat mayoritas ulama sebagaimana yang disebutkan oleh ibnu katsir

            Pendapat lain, adalah
            pendapat pengarang buku Ar Rohiq al
            makhtum, beliau mengatakan tanggal 9 rabiul awwal.

            Masalah ini tidak perlu
            diperpanjang, sudah di bahwas ratusan tahun sebelum kita. Ngapain lagi
            diperdebatkan???

            Terus: Apa pengaruh dari ini
            terhadap hokum, memperingati hari lahir nabi dengan hal2x yang dibolehkan
            didalam islam? Ngak ada sama sekali…ngak mempengarui hokum.

            Yang perlu diingat bahwa :

            (1) untuk menentukan hukum
            sesuatu tidak perlu “yakin” tapi cukup dengan ‘Dzannn”, jadi sesuai dengan
            ijtihad masing2x..

            (2) Jika seandainya tanggal
            lahir rasulullah salah, terus kami peringati, berarti apa yang salah? Yang
            salah Cuma, nama acaranya. Sedangkan isinya benar, dan bukan bid’ah lagi,
            karena hakikatnya adalah ceramah biasa, Cuma salah dalam nama, ulama
            mengatakan: la musahat fi al istilah.. jadi sama persis dengan LIKO PKS, Cuma
            nama salah… jadi secara otomatis ngak bisa kamu bilang bid’ah…

            Kedua: sumber pengambilah
            hukum yang di sepakati adalah: Al Qur’an, As Sunnah, Ijmah dan Qiyas. Dan
            perkara tidak dilakukan oleh sahabat, tabiin dan tabi’i tabiin, itu bukan
            dalil. Saya rasa penjelasannya sudah jelas.. apa ini sumber hokum ke5 menurut
            anda?

    • sardy

      saya setuju,maulidkan syiar bukan di syariat,

      • Syarief Kate

        Jika komentator sebelumnya mengatakan bahwa maulidan itu: Ngaji, ceramah, baca kisah nabi. Tapi tentu kita ‘nggak’ bisa menutup mata terhadapa banyaknya orang yang biasa memperingati Maulid Nabi dengan melakukan ritual
        memandikan beda-benda pusaka seperti keris, tombak dan barang pusaka
        lainnya dengan air yang sudah diracik dengan ramuan bunga tujuh warna.
        Kemudian air bekas cucian benda-benda pusaka tersebut diperebutkan oleh
        masyarakat karena diyakini mengandung berbagai macam khasiat yang
        berguna untuk berbagai keperluan dan keberkahan.

        Tak sedikit juga yang merayakan Maulid Nabi dengan karnaval dan pagelaran
        kesenian yang biasanya dilakukan masyarakat dengan memainkan wayang
        kulit atau wayang golek sejak siang hingga malam hari. Masyarakat pun
        lalu berbondong-bondong menghadiri acara itu karena meyakini malam
        tersebut merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa atau melakukan
        aktivitas yang diyakini membawa keberkahan bagi hidupnya.

        Pada umumnya orang mengadakan Maulid Nabi dengan mendadani telur warna-warni, kemudian memperebutkan telur tersebut dalam selebarsi Maulid, Lalu, Apakah anda masih mau mengatakan hal-hal tersebut adalah Syiar?
        Wallahu a’lam, saya ‘nggak’ ngerti Syiar apa yang anda maksud, atau mungkin anda memahami syiar dalam perspektif yang lain..??

        • Hamba Allah

          Jadi ngak adan masalahkan sebenarnya memperingati maulidnya? atau cara memperingatinya?

          jika cara memperingatinya yang salah, maka itulah yang disalahkan.. Jika kaki anda kena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan menuluar, maka kaki itu yang dipotong, bukan anda yang dimatikan..

          perbaiki cara memperingatinya…..

          Coba kalau diperingati dengan cara yang saya sebutkan diatas… atau dengan membaca hadis bukhori di masjid, boleh ngak?

  • Abdullah Hasny

    MAU MERAYAKAN MAULID NABI ATAU TIDAK MAU JUGA TIDAK APA2 KARENA RASULULLAH TIDAK UNTUNG ATAU RUGI DENGAN KITA, TETAPI KITA YANG BUTUH RASULULLAH, SAMA JUGA KALAU KITA GA SOLAT ATAU SOLAT JUGA GA APA2, KARENA ALLAH SWT JUGA TIDAK UNTUNG ATAU RUGI DENGAN SOLAT KITA, YANG UANTUNG ATAU RUGI ADALAH KITA SENDIRI

  • rizal bagus

    Setiap tahun, Maulid Nabi, Isra Miraj, Perayaan Tahun Baru, selalu saja dijadikan pertentangan antar manhaj di dalam Islam.. Mengapa tidak saling berlapang dada, bertukar pemahaman thd Al Quran dan As Sunah, berdialog membangun sinergi Islam di Indonesia yg kontributif dan menggerakkan?
    Jika masih saja berdebat dalam wilayah bid’ah atau tidak, sy rasa tidak akan pernah sampai titik temunya.. Masing2 peringatan tersebut memiliki hikmah yg berarti, tanpa harus dengan–merasa paling benar–menyalahkan pihak lain. Yuk, kita eratkan persatuan seluruh umat Islam, bergerak selesaikan beragam permasalahan, agar musuh-musuh kita yg sebenarnya kewalahan. Insya Allah :)
    Salam Rindu, Islam yang Satu

  • geronimo

    mengutip perkataan Iman Syafi’i :

    “Segala sesuatu yang di ada-adakan dan menyalahi al qur’an, atau sunnah,
    atau IJMA’ atau ATSAR, maka itulah Bid’ah Dholalah, sedang sesuatu yang
    berupa kebaikan yang diadakan dan tidak menyalahi sesuatupun dari semua
    maka ia adalah yang terpuji “

    contoh kebaikan yang di adakan :
    1. penghimpunan alquran oleh khalifah abu bakar
    2. menghimpun jamaah tarawih dalam satu imam oleh khalifah umar bin khattob
    3. pendirian pendirian pesantren, majlis ta’lim, panti asuhan
    4. belajar ilmu tajwid, nahwu shorof
    5. termasuk anda berdakwah menggunakan internet
    6. memperingati kelahiran nabi dengan membacar al quran, shalawat, dan doa

    bahkan pamannya nabi pun karena gembira akan kelahiran nabi dengan membebaskan seorang budak

    jadi, yang mau jadi terpuji ..yuk sama sama memperingati maulid nabi

  • Abdullah

    Jika mencoba melihat kembali prinsip dasar Islam yang diajarkan oleh Rasulullah (seperti yang disampaikan penulis di atas) bahwa menjalankan ajaran Islam itu mudah, tapi bukan untuk
    dimudah-mudahkan.

    Artinya hal-hal yg gak penting, gak usah dilakukan lah. lagian juga gak ada perintahnya dan para sahabat juga gak pernah melakukannya.
    Jika melihat mayoritas orang-orang yg memperingati maulid di sebagian besar wilayah di Indonesia, tentu kita akan mendapati perayaan yang berbeda2, namun pada umumnya mereka merayakan dengan sebuah konsep selebrasi yang rumit banget dan banyak melenceng dari ajaran Islam yang sesungguhnya. apalagi jika membandingkan dengan perayaan maulid nabi di berbagai negara, tentu masing2 memiliki tradisi untuk memperingatinya.

    nah, dengan banyaknya perbedaan konsep selebrasi tersebut, menandakan bahwa peringatan maulid nabi memang tidak memiliki standarisasi berdasarkan hukum islam, Sehingga tidak perlu untuk merayakannya.

    • Hamba Allah

      itu pendapat anda, silahkan anda laksanakan. namun ingat, anda tidak memberikan dalil pengharamannya dari al qur’an dan sunnah. ya mau lakukan silahkan, dan yang ngak mau silahkan. karena sesuatu yang tidak bermanfaat bagi anda, belum tentu tidak bermanfaat bagi orang lain. Terus: tidak ada konsep? ya…acaranya terserah masing2x, selagi tidak bertentangan langsung dengan nash. dan jika ada pertentangan, maka perbuatannya yang salah, buka maulidnya..

      • Muhammad Kurniawan

        Memang tidak ada dalil pengharamannya tetapi kita bisa lihat hadist dibawah ini ya akhi.

        عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

        Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

        • tri yanto

          Silahkan baca lanjutah hadist tersebut, jangan digunting sampai disitu saja.

        • Hamba Allah

          Akhi Al karim Muhammd Kurniawan:
          Siapa yang mengatakan bahwa memperingati hari kelahiran rasulullah saw tidak ada perintahnya?
          Allah berfirman: Wazakkirhum bi ayyamillah!, artinya: ingatkanlah mereka tenang hari-hari Allah, maksudnya hari dimana allah menyelamatkan bani israel dari fir’aun dan lainnya ingat ini bukan khusus untuk ini karena mazhab yang benar adalah: Al Ibrotu bi ‘umum al lafzi la bikhusus as sabab”.
          dan hari kelahiran rasulullah adalah satu diatara hari2x Allah yang besar, yang dengannya manusia terbebas dari hari azab (yang beriman maksudnya).

          Ditambah lagi yang dilakukan di peringatan maulid ada dalilnya. yaitu keuniversalan perinah2x baca qur’an, hadis, tolab ilmi, memberi makan, silaturrahmi, dan lain sebagainya dan jika ada yang terlarang dilakukan waktu itu, maka yang salah yang terlarang itu, bukan maulidnya.

    • tri yanto

      Gembira dengan kelahiran sayyidina Muhammad nggak penting ?
      Terserah yang lagi gembira dong, mau sholawatan, mau dzikir dll
      Jangan usil dengan orang2 yang gembira dengan kelahiran Sayyidina Muhammad saw

      • amrih

        kalo untuk sholawatan ataupun dzikir itu sangat diperbolehkan, yang dimaksud penulis diatas jika peringatan maulid nabi dilakukan dengan selebrasi yang sudah melenceng dari ajaran islam seperti memandikan pusaka bukankan itu mengarah kepada syirik? terlebih jika yang mengadakan ritual atau mengikutinya mempercayai bahwa pusaka tersebut mampu memberikan keberkahan. jatuhnya jadi syirik. Allahu’alam

  • Abdullah

    Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Tiga hal yang menyebabkan amalan
    tidak akan diterima apabila disertai olehnya, yaitu; syirik, kekafiran,
    dan ra’yu.”
    Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud ra’yu.” Bilal bin
    Sa’ad menjawab, “Yaitu apabila dia meninggalkan Kitabullah dan sunnah
    Nabi-Nya dan beramal dengan ra’yu/pendapatnya sendiri.”

    • Hamba Allah

      Kalimatu haqqin yurodu bihi al bathil.

  • muhammad yazurri

    mhn pertimbangkan lagi pendapatnya, bukankah jg ada dalil yang menyebutkan barang siapa yang menunjuki jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang yang melakukannya… apakah tidak ada kebaikan sama sekali dalam peringatan maulid nabi? atau tata caranya yang perlu diperbaiki?

  • ROBIN

    Merayakan atau tidak, tidak perlu dipermasalahkan. Semua punya argumen yg benar. Yg merayakan juga tidak menganggap sebagai bagian sunnah Rasulullah, mereka juga paham. Ini hanyalah salah satu syiar Islam, dengan tradisinya masing2 di setiap daerah atau negara. Apalagi perayaan Maulid tidak ditentukan tanggalnya, mereka bebas, yg terpenting adalah hikmah dari Maulid tsb…Maulid hanyalah salah satu sarana dakwah di masyarakat…bukan menjalankan syariat sehingga dianggap bid’ah…

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Sejarah Al-Quran: Dari Tradisi Lisan Hingga Kodifikasi

Organization