Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Kamu: Hujan dalam Mendungku

Kamu: Hujan dalam Mendungku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSebuah puisi ini dipersembahkan untuk seorang sahabat, saudara penyokong kekuatan… Di saat jenuh dan keraguan menyerang saat berdakwah, saat rindu beku di perantauan membedah, seorang yang menyiramkan sejuk semangat saat lelah…
Untukmu, saudari-saudariku seperjuangan, semoga kita berjumpa dalam rangka membangun cinta kepada-Nya.

tadi sore di sini hujan..
kubilang lebih dari pertanyaan tentang mendung yang sering kau tanyakan
sampai saat ini aku masih menyenangi suasana ketika hujan, ketika tempiasnya mengenai tubuhku, ketika aroma tanah mulai membubuhi hidungku, sama seperti kamu yang selalu menikmati hujan..
dan ku yakin ketika memvisualisasikan tentang kesukaanmu, ya kamu selalu mengayuh sepedamu dengan lebih kencang.. persis ketika hujan datang menyerang ramai-ramai,
seperti yang biasa kau lakukan saat berpamitan di depan rumahku malam-malam, saat aku pulang. sirna begitu saja dengan segera, katamu ‘takut dikejar hujan!’

tapi ada hal yang membuatku kadang sebal dengan tingkahmu. karena senjatamu adalah diam, dan kamu juga selalu bilang ‘aku baik-baik saja’.
kamu pikir aku puas dengan kebiasaan gelagatmu itu?
menyembunyikan semuanya ketika aku pulang, diam dan seperti tak ada apa-apa. berharap aku tahu semuanya.
padahal aku pulang ingin mendengarmu, langsung dari rakitan kata-katamu.
sedang ketika aku kembali ke perantauan, mulai kau hinggapkan penasaran.
ah itulah kamu! dari dulu seperti itu!
mencari momen agar selalu ku merindukanmu, di setiap layangan suara dari arah yang berlawanan… untung-untung ceritamu tentang ibu, yang tetiba menjadikan hujan.

kuturuti apa-apa yang menjadi sesukamu, lebih-lebih ketika aku pulang…
agar ku setidaknya tahu ‘apa’ kamu sekarang, tapi kamu juga lebih banyak diam.
kecuali kalau tawaran ke menara harapan itu terlontarkan, itulah dirimu terkuakkan…
bahkan hingga malam, pengurus masjid sudah lewat masa bertualang, tapi bagi kita ini masih jam siang, ah dasar!

sebenarnya aku juga tak lebih banyak berbicara daripada kamu, menghias langit dengan menggabungkan ide kita lebih menyenangkan bagiku.
mungkin ini cara Tuhan men-skenariokan pertemuan rindu di antara kita.
kamu dengan pijakan tanahmu, dan aku juga dengan jajaran kaki di bumi yang sebenarnya sama.
kamu yang menawarkan pundakmu, meski tak begitu tebal tapi bagian dirimu yang kau tawarkan begitu hangat.
mengisi mozaik-mozaik dariku yang dipaksa alam untuk hilang.

guratan lelah dalam wajahmu tetap saja terlihat terang, kurus tubuhmu juga tak meragukan kekuatan, senyummu yang ikhlas selalu merubah haluan, tenang walau kau punya banyak tantangan. dan karena itu aku harus bilang kamu hebat.

kata-kata dalam pesan, kata-kata dalam rekaman, itu yang membuat hujan.
jatuh ke segala pelataran. kamu yang meyakinkan.

sekarang aku mau kamu lebih jujur!
agar siap tanah yang hendak kau tanjaki tahun ini dan berikutnya.
janji di bawah menara itu akan selalu tergema, kawan
agar ku bisa meng-gojlokimu nanti seperti yang kamu lakukan malam kemarin
saat nafasku tertahan dihalang air

kamu yang selalu menjadi hujan dalam mendungku, sesegera mungkin jatuh. basah dan meresap ke dalam tanah hati.

di balik pojok jendela penggambar kesepian langit, tanpa bintang dan hanya gambaran debu yang berlubang


Asrama Mahasiswa UI, Depok

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Suciati Zen Nur Hidayati
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sedang aktif di organisasi Forum Ukhuwah dan Studi Islam Psikologi UI. Mencintai Psikologi, Pendidikan dan Pembinaan.

Lihat Juga

Menunggu Hujan