Home / Dasar-Dasar Islam / Sirah Nabawiyah / Akhlak Rasulullah SAW Bukti Kenabiannya

Akhlak Rasulullah SAW Bukti Kenabiannya

Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah (gattours.com)
Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah (gattours.com)

dakwatuna.com Selama ini mukjizat Rasulullah SAW adalah mukjizat hissiyah. Beliau membelah bulan; batu mengucapkan salam; batang kayu menangis; air mengucur dari celah jarinya; makanan sedikit yang didoakan sehingga cukup untuk banyak orang; daging bakar berbicara; Abu Jahal terpaku saat hendak menjatuhkan batu saat Rasulullah SAW sujud, dan sebagainya lainnya.

Kita juga mengenal mukjizat beliau yang sangat agung, yaitu Al-Qur’an. Mukjizat ini menantang setiap orang membuat sebuah kitab dengan kehebatan seperti kehebatannya. Kehebatan kitab ini terletak di antaranya pada sisi bahasa yang sangat indah; menceritakan sejarah yang benar di masa lalu; mengandung hukum adil dan mudah diterapkan; isyarat-isyarat ilmiah dalam berbagai bidang; dan sebagainya.

Namun jarang di antara kita yang menganggap akhlak Rasulullah SAW sebagai sebuah mukjizat. Padahal Allah swt. berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung.” [Al-Qalam: 4].

Akhlak beliau agung, berarti tidak ada seorang pun yang bisa mempunyai akhlak seperti akhlak beliau. Tidak ada yang bisa menandinginya. Hal ini bukan karena apa-apa, tapi karena beliau adalah seorang nabi. Berarti akhlak beliau adalah mukjizat, salah satu bukti kenabian Muhammad SAW.

Muhammad SAW Adalah Manusia Biasa

Rasulullah SAW adalah manusia biasa. Bukan manusia tuhan, atau setengah tuhan. Bukan malaikat, atau setengah malaikat. Beliau benar-benar manusia biasa, tapi dipilih oleh Allah swt. untuk mengemban risalah-Nya.

Ini adalah sebuah keuntungan bagi umat manusia. Bisa diteladani, karena kesamaan bentuk, karakter, kebutuhan, kecenderungan, dan sebagainya. Jika beliau berupa malaikat, manusia tidak akan bisa meneladani karena malaikat tidak makan, minum, berbuat dosa, dan sebagainya.

Tidak ada alasan untuk menolak ajaran yang dibawa. Kalau rasul berupa malaikat, banyak manusia yang menolak ajaran dengan alasan rasul bisa melaksanakan kewajiban karena dia malaikat, sedangkan mereka bukan malaikat makanya tidak bisa melaksanakan. Allah swt. berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku.” [Al-Kahfi; 110].

Dakwah beliau juga berbeda dengan dakwah yang lainnya; dimenangkan dengan usaha manusiawi, bukan dengan mukjizat luar biasa. Para penentang dakwahnya tidak dikalahkan dengan banjir seperi kaum nabi Nuh as., dengan laut seperti Fir’an dan pasukannya. Tapi dikalahkan dengan strategi hasil pemikiran manusia. Bahkan ketika malaikat gunung menawari Rasulullah SAW membinaskan kaum Thaif dengan ditimpakan gunung kepada mereka, beliau menolaknya.

Akhlak Bukti Kenabian Beliau

Beliau terkenal dengan julukan Ash-Shadiqul Amin. Jujur dalam berkata; amanah dalam menjaga dan menyampaikan. Akhlak bisa dijadikan bukti kenabian, karena orang yang berakhlak mulia tidak akan berbohong ketika mengaku menjadi nabi, tidak akan mencelakakan kaumnya ketika memerintahkan sesuatu, dan akan berjuang dan berkorban untuk kebaikan kaumnya.

Hanya sedikit sahabat Rasulullah SAW yang masuk Islam setelah melihat mukjizat. Hampir semuanya masuk Islam karena melihat akhlak Rasulullah saw. Bahkan ketika orang-orang musyrikin meminta diperlihatkan mukjizat, mereka tidak beriman setelah benar-benar melihatnya. Allah swt. berfirman:

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” [Al-Qamar: 1-3].

Ibunda Khadijah ra. mengetahui benar bagaimana akhlak mulia suaminya, misalnya menyambung tali kekerabatan, menanggung beban keluarga, menjamu tamu, membantu orang miskin, membantu dalam musibah, dan sebagainya. Saat beriman, beliau belum melihat satu mukjizat pun pada diri Rasulullah SAW Bahkan beliaulah yang menguatkan hati Rasulullah saw. ketika bimbang saat didatangi malaikat Jibril as.

Abu Bakar ra. adalah kawan karib Rasulullah saw. Tahu benar bagaimana kejujuran Rasulullah saw. Sehingga ketika mengaku menjadi nabi, Abu Bakar ra. langsung beriman dan mendakwahkan agama yang baru kepada musyrikin yang lain.

Raja Najasyi ra. Raja negeri Habasyah ini tidak pernah bertemu dengan Rasulullah SAW. Namun ketika mendengarkan sifat-sifat dan perjalanan dakwah beliau, Najasyi langsung meyakini bahwa Muhammad saw. adalah penerus Isa as. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (28 votes, average: 9,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir
  • idhuy

    Rindu ke Madinah lagi shalat disana sambil ziarah ke makam Rasulullah yg kucintai

Lihat Juga

Jeremy Helan, Pesepakbola Perancis yang Gantung Sepatu Demi Perdalam Islam