Home / Narasi Islam / Sosial / Menilai Secara Proporsional

Menilai Secara Proporsional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ilustrasi-wajah-kepala-orangdakwatuna.com Di antara kebiasaan yang sering kita lakukan adalah, lebih senang menilai orang lain daripada menilai diri sendiri, dan terkadang cara kita menilai orang lain tidak proporsional dan terkesan berlebihan. Sedangkan di dalam Islam kita selalu diajari untuk menilai diri sendiri dibanding menilai orang lain. Secara makna hal seperti itu sudah tersirat dalam ungkapan khalifah Umar bin Khattab “Hasibu anfusakum qobala antuhasabu”, introspeksi diri kalian, nilai diri kalian sebelum kalian dinilai di sisi yang maha menilai yaitu Allah. Ungkapan sang khalifah yang penuh dengan makna ini mengajarkan kita sebuah kaidah yang sangat berarti, bahwa terbiasa menilai diri sendiri itu jauh lebih mulia dan lebih baik dibandingkan sibuk dengan menilai orang lain.

Suasana gemar menilai orang lain secara tidak proporsional terkadang menjadikan kita buta dengan kebaikan yang berada di baliknya. Dan itu menjadikan cara pandang kita sempit dan susah menerima kebenaran yang ada. Itu semua bisa kita qiyaskan dalam kehidupan berjamaah, bahwa dosa personal tidaklah boleh kita bebankan kepada seluruh anggota jamaahnya secara umum, karena itu semua akan mengantarkan kita kepada sebuah perilaku yang zhalim, disebabkan kita meletakkan kesalahan kepada yang bukan pelakunya.

Di dalam al-Qur’an Allah mengungkapkan dua ayat yang sangat indah sebagaimana artinya:

“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan”, QS: al-Baqarah: 141.

“Bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (An-Najm: 38-39)

Dua ayat yang sangat berbeda dengan Latar belakang turunnya yang juga berbeda, akan tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Allah mengajarkan kepada kita tentang sebuah penilaian atau cara pandang kita kepada orang lain, dan cara pandang itu juga akan menggambarkan sifat kita. Kita sering menghujat kesalahan orang lain seakan-akan kita manusia suci yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tugas kita adalah mengambil ibrah dari kesalahan itu, adapun sanksinya itu urusan Allah.

Anis Matta: Di antara kegagalan Negara kita di era reformasi adalah, kita terlalu sibuk dengan kesalahan masa lalu dan kita tidak pernah mau memaafkan mereka. Padahal Allah saja maha pemaaf, dosa mereka biarkanlah itu urusannya dengan Allah karena kita tidak qadhi yang menghukum dosa orang lain.

Jangankan orang yang belum tentu bersalah, orang yang bersalah sekalipun tidaklah boleh kita bebankan kesalahan itu kepada orang yang tidak bersangkutan. Seperti itu juga Rasulullah dan para sahabat memandang kesalahan personal, apakah Rasulullah memikulkan kesalahan Ubay bin Salul kepada keluarganya? Apakah para sahabat membebankan kekhilafan Kaab bin Malik yang tidak mau ikut berperang bersama Rasulullah kepada istri dan anak-anaknya? Apakah Nabi musa membenci istri fir’aun karena kedurhakaan suaminya? Tentu jawabannya tidak, itu semua menggambarkan bahwa kekhilafan ataupun kesalahan personal tidak akan pernah diperbolehkan ditanggung orang yang tidak bersangkutan dan cara pandang itu adalah keadilan. Seperti juga Allah tidak akan menghukum kita karena kesalahan orang lain.

Fenomena yang kita lihat sekarang, orang berbondong-bondong mencaci maki pimpinan sebuah partai Islam yang terduga bersalah dan menghukum para kadernya dengan dugaan yang dituduhkan. Padahal di satu sisi banyak manfaat yang mereka nikmati dari kinerja partai tersebut.

Ketidakproporsionalan kita menilai orang lain akan mengantarkan kita kepada kezhaliman dan itu merupakan perbuatan dosa. Yang lebih utama dari itu adalah bagaimana kita selalu menilai kekurangan diri dan memperbaikinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Ma'had Ali An-Nuaimy Jakarta angkatan ke3. Guru bahasa Arab di Pondok Pesanteren Khalid bin Walid Rokan Hulu Riau.

Lihat Juga

Masihkah Uang Menjadi Alat Penyimpanan Nilai yang Ideal?