Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mendiagnosa Aktivis Dakwah Berpenyakit

Mendiagnosa Aktivis Dakwah Berpenyakit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Penyakit hati yang menjangkiti aktivis dakwah ternyata memiliki karakteristik yang persis dengan penyakit fisik. Mari kita bandingkan.

Tubuh bila sakit jadi sulit bergerak. Berdiri susah, berjalan apalagi. Aktivis dakwah yang ‘sakit’ juga begitu. Ia sulit bergerak, berat, malas.

Tubuh jika sakit makan jadi tak enak, rasanya pahit, tak doyan makan.  Aktivis dakwah yang ‘sakit’ juga begitu. Dakwah rasanya tak nikmat, tak semangat.

Tubuh jika sakit ada saja keluhannya, yang ini ngilu, yang itu nyeri. Aktivis dakwah yang ‘sakit’ juga begitu, ada saja ngeluhnya, semua terasa salah.

Tubuh jika sakit bisa menular ke orang lain. Aktivis dakwah yang ‘sakit’ juga begitu, jadi contoh yang buruk, lalu ditiru, menyebar, dan jadilah futur berjama’ah.

Kenapa dampak penyakitnya mirip dengan penyakit tubuh? Karena sebab-sebab munculnya penyakit hati aktivis dakwah juga mirip sama penyakit tubuh.

Tubuh bisa sakit bila kurang gizi. Semakin tinggi aktivitas seseorang, kebutuhan tubuh terhadap nutrisi juga semakin besar.  Aktivis dakwah juga begitu. Semakin banyak amanah, makin tinggi posisi, porsi pemenuhan gizi ruhiyah juga seharusnya semakin besar. Kalau nutrisi tubuh dipenuhi dengan makanan yang halal dan bergizi, maka nutisi ruhiyah aktivis dakwah tercukupi dengan ibadah wajib dan sunnah. Maka wajar jika ada aktivis dakwah yang malas salat sunnah, jarang tilawah, enggan sedekah, dan sepi amalan-amalan muaqadah, akan mudah menjadi ‘sakit’.

Tubuh bisa sakit kalau jarang olahraga. Akibatnya, saat dapat beban, tubuh jadi kaku, napas suka tersengal, otot mudah keram. Aktivis dakwah juga begitu. Kalau malas beramal, jarang berkorban, ketika amanah besar hadir, ia akan mudah kaget atau shock. Kemudian mendadak ‘keram’. Daya tahan tubuh berkembang dengan pembiasaan-pembiasaan dalam latihan. Daya tahan aktivis dakwah semakin tangguh melalui rangkaian ujian-ujian dalam amanah. Maka wajar jika ada aktivis dakwah yang selalu menghindari beban amanah, sehingga tak terasah, dan akan mudah ‘drop’ saat masalah-masalah hidup menghampirinya.

Tubuh bisa sakit bila jalani pola hidup tak sehat, hidup sembarangan. Makan, tidur, berhubungan, semuanya sembarangan. Aktivis dakwah juga begitu. Bila suka sembarangan masuk ke ranah syubhat dan syahwat, jadilah ia masuk ke dalam pola hidup maksiat. Akibat pola hidup tak sehat, tubuh bisa sakit karena virus dan kuman. Akibat pola maksiat, aktivis dakwah bisa ‘sakit’ karena dosa & nista. Maka wajar jika ada aktivis dakwah yang suka ghibah, fitnah, namimah, riya’, ghurur, taswif, dengki, berlomba terhadap dunia, akan mudah menjadi ‘sakit’.

Kini, setelah mendiagnosanya, adakah kita termasuk ‘aktivis dakwah berpenyakit’? Bila iya, segera obati. Bila belum, cegah sedari dini.

Laiknya tubuh yang tak mungkin 100% sehat tanpa penyakit, aktivis dakwah pun bukan berarti 100% terbebas dari dosa dan kesalahan.

Laiknya tubuh yang membutuhkan obat agar kembali sehat, aktivis dakwah pun memerlukan taubat untuk kembali pulih dan kuat.

Laiknya tubuh yang jadikan suplemen untuk penguat imunitas, aktivis dakwah pun memiliki kesabaran sebagai penguat daya tahan.

Sebab jika tubuh sehat, ada tenaga yang bisa membuatnya bekerja. Jika aktivis dakwah ‘sehat’, ada cinta yang mampu jadikannya berdaya guna.

Semoga, ‘kesehatan’ aktivis dakwah ini mampu menebarkan keharmonian, bergerak melalui amal-amal nyata, menjaga ikhlas cinta kepada-Nya.

Semoga, ‘kesehatan’ aktivis dakwah tetap terjaga, senantiasa terlantun dalam untaian doa:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)“. (Ali Imron: 8)

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak kecil menggemari segala jenis masakan. Hingga kini senang membaca dan mengakrabi aksara.

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers