Home / Berita / Daerah / Dialog Kebangsaan di UIN Ar-Raniry Bahas Islam Solusi Persoalan Bangsa

Dialog Kebangsaan di UIN Ar-Raniry Bahas Islam Solusi Persoalan Bangsa

Dialog Kebangsaan di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Minggu,29/12/13 (Foto: M.Sufri)
Dialog Kebangsaan di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Minggu,29/12/13 (Foto: M.Sufri)

dakwatuna.com – Banda Aceh.  Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mengadakan Dialog Kebangsaan bertema “Dari Kampus Mencari Pemimpin Bangsa”, Minggu pagi (29/12/2013).

Hadir dalam dialog ini para narasumber seperti H.M.Nasir Djamil , S.Ag, politisi nasional ketua DPP PKS yang juga ketua Forbes DPR RI asal Aceh, Fachrul Razi, S.IP, M.IP Juru bicara Partai Aceh (PA), ulama muda Aceh Teungku H.Muhammad Yusuf A.Wahab yang memimpin pesantren Babussalam Bireuen, dan Ir Badrunnisa’, M.Si, kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB Kota Banda Aceh.

Saat membuka dialog ini, Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Dr Mujiburrahman, M.Ag menyorot persoalan kebangsaan dalam konteks lokal yang sedang dihadapi bangsa Aceh dewasa ini, bahwa Aceh belum memiliki tokoh yang bisa mempersatukan segenap masyarakat Aceh.

“Ini adalah bagian dari persoalan kebangsaan yang harus dicari solusinya”, ujar Mujiburrahman.

Dialog yang dimoderatori mantan ketua Senat Mahasiswa Pascasarajana IAIN Ar-Raniry yang juga tokoh muda Aceh, Teuku Zulkhairi, MA ini, menyorot panjang lebar seputar persoalan kebangsaan republik Indonesia.

Salah seorang narasumber dialog, Fachrul Razi mengatakan bahwa persoalan mendasar bangsa kita saat ini adalah sistem yang merusak. Sistem yang diterapkan di negara kita membuat orang-orang baik jadi rusak.

“Jika ingin membenahi bangsa ini, maka kita harus membenahi sistemnya”, kata Fachrul Razi.

Fachrul Razi menjelaskan, untuk membenahi sistem tersebut, maka kita harus membangun sistem baru yang berbeda dari sistem lama.

“Di  Aceh kita punya sejarah sendiri tentang sistem yang pernah dijalankan. Semua sistem itu berdasarkan konsepsi Islam. Misalnya, di Aceh punya falsafah hidup yang berbeda dengan trias politika yang diterapkan umumnya di Indonesia. Aceh punya falsafah hidup yang berbeda, yaitu adat bak po teumeruhomQanun bak Syiahkuala, Qanun bak Putro phang, reusam bak laksamana. Falsafah sistem yang berlandaskan konsepsi Islam ini dulu telah membawa Aceh dalam periode paling gemilang”, ujarnya.

Sementara itu, Teungku.H.Muhammad Yusuf A.Wahab mengatakan, bahwa persoalan mendasar bangsa kita yang mayoritas Muslim hari ini adalah karena Islam telah kehilangan pemimpinnya. Kepemimpinan Islam hilang mulai dari level atas sampai level bawah.

“Dan untuk keluar dari segudang persoalan bangsa hari ini, kita butuh pemimpin yang memiliki karakteristik Islam seperti sosok Rasulullah Saw. Rasulullah itu mampu memotifasi umatnya untuk menjadi semakin baik sehingga dengan kebersamaan dan persatuan bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi”, ujar Teungku H.Muhammad Yusuf.

Narasumber lainnya, H.M.Nasir Djamil memberi contoh, bahwa Amien Rais merupakan aktivis yang merupakan mantan aktivis kampus mampu menjadi pemimpin bangsa ini. Maka para dosen diharapkan mampu mengarahkan mahasiswa dengan baik, karena mereka calon pemimpin bangsa ini nantinya,” ujar  Nasir.

“Mahasiswa harus membuka sekat-sekat pemikiran yang selama ini membuat jarak. Para mahasiswa kampus seharusnya lebih terbuka karena dengan keterbukaan itu maka mahasiswa akan mampu terlibat dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan dan tampil sebagai tokoh  bangsa”, ujar Nasir yang pernah aktif sebagai jurnalis ini.

Selama berlangsung acara, ratusan mahasiswa dan masyarakat umum terlihat antusias berdialog. Puluhan mahasiswa mengajukan pertanyaan kritis dan berapi-api. (sufri/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 1,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini