Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bidadari yang Ini Adalah Pelita, Bidadariku Juga

Bidadari yang Ini Adalah Pelita, Bidadariku Juga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal… tiada akan pernah sebanding tumpukan nikmat ini atas pendaran syukur yang belum maksimal, mudah-mudahan tetap diizinkan meniti sisa usia yang entah kapan kan berakhir.

Pagi tadi, begitu banyak kuasa Allah yang menghampiriku. Menghadiri majelis yang sangat bermanfaat, mengingat sunnah, mengingat bakti, mengingat mati hingga membayangkan lorong neraka dan sesekali terkibas panorama surga…

Iya, sepantasnya memang untuk tetap menjalani hidup ini dengan stir taqwa meski kedurhakaan pada-Nya kadang tak terkendali. Alasan kemanusiawian atau khilaf sebagai bantahan…

Aku ingin bercerita, cerita sederhana dengan topik yang hampir sama dengan sebelumnya. Maafkan jika bertambah dengan sampiran versiku, moga tak menjadi salah karena aku hanya ingin membagi ibrah.

“Aku bangga di lahirkan dari rahim seorang ibu biasa-biasa saja tapi caranya mendidikku dan saudara-saudaraku luar biasa” itu kalimat pertama yang terekam di memoriku di awal ceramah ustadz tadi pagi,

“bagaimana tidak, jika dihitung dengan semua yang meninggal, yang keguguran dan yang masih hidup hingga sekarang, ibuku telah melahirkan empat belas anak-anaknya, prestasi luar biasa yang tak tersanggah oleh naluri kemodernisasianku, prestasi berkelanjutan hingga akhir hayatnya masih kami akui, prestasi yang bukan hanya aku dan saudara-saudaraku yang memujinya atau tetanggaku, mungkin juga malaikat Allah, dan kuingin Allah pun membanggakannya kelak di surga. Aamiin” lanjut sang guru memaparkan ujung ceramahnya

Wah…Luar biasa. sejenak aku rindu dengan ibuku di kampung, di rumah sederhana kami, rumah petak empat yang sangat jauh dari kesan mewah, tapi damai, selalu damai apalagi sejak kecil  ibu tidak pernah meninggalkan kami, selalu rela berdiam di rumah demi kami, demi hidangan yang nikmat untuk anak-anaknya, demi senyum manis ayah jika kelelahan sepulang kerja. Rindu wajah zhahirnya, meskipun setiap hari wajah hatinya selalu bersamaku, meskipun doa-doanya tiap detik mengalir untukku, meski kecemasannya menjadikan paksaan untukku selalu jaga diri sebagai wanita yang porsi khawatirnya di bedakan dengan anak laki-lakinya. Ya… aku rindu sekali padanya.

Lagi-lagi, tak kan pernah habis tulisan menarik jika semua manusia bernyawa di suruh menggambarkan sosok bidadari istimewa miliknya, sama denganku… hingga topik tulisan bagaimanapun yang tersaji, aku masih sangat tertarik dengan topik “wanita surga” ini. Moga kelak aku jadi bahagian dari keindahan surga itu, tentu saja bersama ibuku, Aaamiin.

“Ibuku meninggal persis setelah menghantarkan semua anaknya lepas sarjana dengan kondisi yang sangat indah, khusnul khatimah menurutku, beliau menghembuskan nafas akhirnya di pelukan abangku, seusai tahajjudnya, kemudian mandi dan berwudhu menunggu shalat subuh. di saat adzan berkumandang, seketika itu ibuku, menggemakan pelan asma Rabbnya untuk terakhir kalinya di dunia ini, dibimbing dan disaksikan abangku dan kuyakin malaikat juga, semoga, semoga rahmat Allah melingkupi alam barzakh-Nya…”, tutur sang ustadz hampir di penghujung isi ceritanya.

Aku masih saja membayangkan kejadian itu. Menurut ustadz ini sang ibu adalah sosok luar biasa yang tiap bulan mengkhatamkan Al-Quran katanya untuk senter penerang putra-putrinya dalam mengarungi dunia fana ini, yang hampir setiap malamnya bermunajat pada Rabbnya untuk buah hatinya, kurasa hampir-hampir dia melupakan pinta pribadinya hanya untuk mengedepankan doa untuk sibiran tulangnya. Sederhana saja pintanya, ingin berkumpul denganmu di akhir usianya, hingga di surga nan indah kelak dia tetap hafal mana wajah-wajah yang rela dan ikhlas dilahirkannya ke dunia, hanya itu… selebihnya akan ada sisi sederhana nan memukau jika kau makin paham maunya. Itu saja, ya itu saja.

Allahummaghfir laha wa liwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa.

Allahua’lam…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sarika Lubis
Baru saja mengakhiri status mahasiswa di Universitas Riau, dan pernah mengaktifkan diri di BEM FKIP UR. menyibukkan diri bersama urusan indah itu adalah nikmat tak terkira. Dan investasi indah juga buat orang-orang tersayang. siapa lagi... siapa lagi...siapa lagi?

Lihat Juga

Kala Ibu Terlelap