Home / Berita / Nasional / Perayaan Tahun Baru yang Berlebihan Hanya Mubadzir

Perayaan Tahun Baru yang Berlebihan Hanya Mubadzir

Ketua PP Aisyiyah, Dra. Hj. Siti Noordjanah Djohantini
Ketua PP Aisyiyah, Dra. Hj. Siti Noordjanah Djohantini

dakwatuna.com – Yogyakarta. Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjanah Djohantini mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan pergantian tahun baru secara berlebihan. Pasalnya,  perayaan pergantian tahun yang dilakukan secara berlebihan tanpa makna merupakan perbuatan mubadzir atau percuma.

“Seharusnya lebih diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang membangun rasa solidaritas sosial dan kemanusiaan,”, Jumat (27/12).

Pihaknya juga prihatin dengan banyaknya event perayaan pergantian tahun yang digelar secara hura-hura. Hal itu harusnya tidak perlu. Kegiatan semacam itu kata dia, seharusnya diarahkan ke kegiatan sosial misalnya menggalang dana untuk membantu sesama atau kegiatan sosial lainnya.

Selain tanpa hura-hura, pergantian tahun harusnya juga diperingati dengan melakukan refleksi bersama atas apa yang sudah dilakukan selama setahun terakhir. “Refleksi ini penting apalagi bagi generasi muda pemilik masa depan. Pergantian tahun bisa dijadikan moment untuk menata apa yang akan dilakukan dimana mendatang agar menjadi generasi yang bermanfaat,” katanya.

Pergantian tahun kata dia, juga bisa digunakan sebagai moment bagi para pejabat dan pimpinan bangsa ini melakukan perenungan atas apa yang sudah mereka lakukan terhadap bangsa dan negara. “Sebagai ajang refleksi sehingga di tahun mendatang, mereka bisa lebih bersungguh-sungguh memimpin bangsa ini,” katanya.

Pergantian tahun masehi memang menjadi moment yang identik dengan hura-hura dan panggung hiburan, seolah-olah merefleksikan perjalanan hidup selama setahun penuh.

Tak terkecuali ibu kota Jakarta pun turut berhias dan menyambutnya dengan menggelar panggung hiburan di 12 titik sepanjang jalan sudirman hingga MH Thamrin. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Noer Ensa

    saya malah berharap ada edukasi bagi umat ini (Islam) secara intens yang sanggup mengantarkan kepada pemahaman, bahwa umat Islam tidak perlu terbawa atau terlibat dengan perayaan pergantian tahun masehi, dan sebaliknya kita antarkan untuk lebih memaknai penanggalan hijriyah. Jika kita sepakati bahwa tahun adalah kumpulan bulan, bulan adalah kumpulan hari, dan hari dibedakan oleh tanggal, maka sesungguhnya pergantian tanggal dan hari adalah pada saat matahari terbenam (saat adzan maghrib berkumandang), bukan pada tengah malam (jam 00.00).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Tahun Baru Islam, Momentum Perenungan Misi Ekonom Rabbani

Organization