Home / Berita / Silaturahim / Meski Gaji Kecil, Guru Honorer Ini Tetap Ingin Raih Keberkahan Dengan Mengajar

Meski Gaji Kecil, Guru Honorer Ini Tetap Ingin Raih Keberkahan Dengan Mengajar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ridho Wahyudi, Guru Honorer yang setia mengajar murid-muridnya
Ridho Wahyudi, Guru Honorer yang setia mengajar murid-muridnya

dakwatuna.com – Jakarta. Setamat kuliah nanti, Ridho Wahyudi (22 tahun) bertekad akan tetap istiqamah mengabdikan dirinya sebagai guru, baik di madrasah atau pun di sekolah umum. “Karena guru merupakan cita-cita saya sedari kecil, untuk memperoleh keberkahan hidup,” ungkap guru honorer yang gajinya tak lebih dari Rp270 per bulan tersebut.

Setiap usai shalat subuh, warga Jl Swadaya V RT 005/02 No 89 Jati Bening Baru  Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat,  membantu ibunya menyapu dan mengepel di rumah. Lalu bergegas ke Madrasah Ibtidaiyah Ziyadatul Huda di dekat rumahnya untuk mengajar.

Sedangkan setiap Sabtu dan Ahad, ia pun meraih tas gendongnya untuk berangkat kuliah ke kelas karyawan jurusan Tarbiyah Sekolah Agama Islam Az Ziyadah Tanah 80 Klender Jakarta Timur.

Sepulang mengajar, membuka kios pulsanya yang sederhana sambil mempelajari kembali materi kuliah atau menyiapkan bahan mengajar. Menjelang Maghrib, ia kembali membantu ibunya membereskan rumah. Usai shalat Maghrib ia kembali ke Ziyadatul Huda untuk mengajar ngaji di kelas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Saat ini, Ridho sedang mempersiapkan skripsi dan akhir Desember ini akan diwisuda. Tetapi, guru honorer yang gajinya Rp200 ribu per bulan ini terancam tidak bisa mengikuti wisuda di akhir tahun ini, sebelum ia dapat melunasi tunggakan biaya kuliahnya yang mencapai Rp7 juta.

Tiap kali pihak kampus menagih, Ridho hanya senyum-senyum saja sambil mengatakan sebelum wisuda insya Allah akan dilunasi. “Ketika di rumah, saya bicarakan dengan orangtua, namun perasaan sedih timbul karena keadaan orang tua yang telah berusaha membantu tetapi tidak bisa banyak,” akunya.

Maklumlah, ayahanda Badrudin penghasilan rata-ratanya sebagai tukang ojek hanya Rp1 juta perbulan. Dan itu pun kerap kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ibu dan ketiga adik Ridho. Sedangkan keuntungan ibunda Nurjanah sebagai penjual nasi uduk tidaklah seberapa.

Untuk mengurangi beban Ridho, melalui program Indonesia Belajar (IB), Badan Wakaf Al-Qur’an mengetuk hati kaum Muslimin agar mendonasikan sebagian hartanya,  sehingga Ridho dapat diwisuda akhir tahun ini, dan pahala buat Anda pun mengalir setiap kali mahasiswa yang bercita-cita jadi guru agama ini mengajar. Aaamiin. (bwa/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Badan Wakaf Al-Quran
Badan Wakaf Al Qur'an (BWA) adalah organisasi nirlaba (non-profit organization), berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat.
  • captainc

    nah, inilah muslim, gak ada disini yang minta alamat rekeningnya biar bisa dibantu, klau soal gaza, jilbab, dan kristenisasi aja baru bising.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku

Organization