17:12 - Sabtu, 25 Oktober 2014
Sofwan

Menjaga Pandangan dalam Al-Qur’an

Rubrik: Tafsir Ayat | Oleh: Sofwan - 03/12/13 | 16:57 | 29 Muharram 1435 H

Menjaga pandangan (inet)

Menjaga pandangan (inet)

dakwatuna.com Allah swt. membekali manusia dengan dorongan seksual bukan tanpa tujuan. Allah  swt. berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Artinya: “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (An-Nahl: 72)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa’: 1)

Sedangkan pandangan adalah salah satu jalan untuk membangkitkan hasrat seksual baik pada laki-laki maupun perempuan. Dalam waktu 10/3 detik apa yang ditangkap oleh mata akan terkirim ke otak untuk membuat perubahan-perubahan anatomi dan fungsi, yang akan menyebabkan perubahan pada sikap.

Ghaddul Bashar dalam Al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (An-Nur: 27)

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur: 30)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu.  Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nur: 58)

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

Artinya: “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Ash-Shaffat: 48)

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19)

Ghaddul bashar adalah menundukkan atau menjaga pandangan, sehingga pandangan tertuju ke tanah, tidak diangkat ke atas. Maksudnya adalah menghindarkan pandangan dari menikmati wanita yang bukan mahram beserta perhiasan-perhiasannya. Sehingga terhindarkan dari pandangan yang menjadi sumber godaan bagi seorang laki-laki. Sebagaimana diperintahkan kepada laki-laki, ghaddul bashar juga diperintahkan kepada perempuan.

Pandangan adalah Titik Lemah untuk Jatuh pada Godaan

Ada saluran yang sangat kuat antara hati dan mata. Apa yang tersembunyi di dalam hati seringkali dapat dibaca pada kedua mata. Allah swt. berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19)

Dalam surat An-Nur: 30 di atas, perintah menjaga pandangan diteruskan dengan perintah menjaga kemaluan. Hal itu karena pandangan adalah jalan bagi seseorang untuk jatuh pada perbuatan zina, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Artinya: “Setiap manusia sudah ditentukan bagiannya dari berzina. Hal itu pasti akan dirasakannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang. Zina kedua telinga adalah dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berucap. Zina tangan adalah dengan memukul. Zina kedua kaki adalah dengan melangkah. Hati itu bisa suka dan berkeinginan, sedangkan kemaluan bisa melaksanakan hal itu atau pun tidak melaksanakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, semua hal yang disebutkan dalam hadits di atas bisa menjadi jalan menuju perbuatan zina. Dan yang paling kuat pengaruhnya adalah mata, sehingga disebutkan paling awal. Namun tentunya memandang wanita yang bukan mahram tidak diharamkan secara mutlak dalam semua kondisi. Dalam kondisi-kondisi tertentu, memandang wanita yang bukan mahram diperbolehkan, misalnya seorang dokter yang akan mengobati pasien wanitanya; seorang hakim yang akan harus mengenali wanita yang sedang menjalani persidangan; dan lain sebagainya. Namun dalam kondisi-kondisi itu pun niatan dalam hati harus tetap dijaga, sehingga memandang mereka saat itu tidak membangkitkan syahwat.

Dalam surat An-Nur ayat 27 seperti yang disebutkan di atas, seorang yang akan bertamu diharuskan meminta ijin sebelum masuk rumah. Ketika sedang menunggu, dia tidak diperkenankan berdiri menghadap pintu, melainkan di pinggirnya saja. Dan jika penghuni rumah menanyakan siapa yang mengetuk pintu, maka sang tamu diharuskan menjawabnya, dengan menyebutkan namanya secara jelas. Muhammad bin Al-Munkadir ra. meriwayatkan, “Aku pernah mendatangi Rasulullah saw. untuk membayar hutang ayahku. Setelah aku mengetuknya, Rasulullah saw. bertanya dari dalam, “Siapa itu?” Aku menjawab, “Saya.” Kemudian beliau kembali berkata, “Saya, saya?” Seakan-akan beliau tidak senang dengan jawaban seperti ini. Karena jawaban ini tidak bisa mengidentifikasikan siapa sebenarnya orang yang datang tersebut. Oleh karena itu, sebenarnya beliau harus menyebutkan nama, atau kun-yah beliau yang terkenal sehingga bisa diketahui siapa beliau. Karena untuk maksud inilah disyariatkan kewajiban meminta ijin.

Dalam sebuah hadits disebutkan,  “Ada seseorang (menurut perawi, dia adalah Sa’ad) datang kepada Rasulullah saw., kemudian berdiri menghadap pintu untuk meminta ijin masuk. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw. berkata:

فَإِنَّمَا الِاسْتِئْذَانُ مِنْ النَّظَرِ

Artinya: “Meminta ijin itu adalah meminta ijin untuk melihat.” (HR. Abu Daud)

Imam Muslim meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajilli ra., beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang pandangan yang mengagetkanku. Beliau memerintahkanku untuk mengalihkannya kea rah yang lain.”

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah ra., dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib ra.:

يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

Artinya: “Wahai Ali, janganlah engkau lanjutkan pandangan pertamamu (pandangan yang mengagetkan) dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya pandangan yang pertama itu untuk kamu, sedangkan yang kedua tidak demikian.”

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ

Artinya: “Kalian hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata, “Tapi kami memang harus duduk-duduk di sana untuk membicarakan banyak hal.” Rasulullah saw. kembali berkata, “Kalau memang harus begitu, maka berikanlah jalan itu haknya.” Mereka kembali berkata, “Apa itu hak-hak jalan?” Beliau menjawab, “Menjaga pandangan, tidak menyakiti orang lain, menjawab salam, memerintakan yang makruf dan melarang yang munkar.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idy ra. bahwa ada seseorang mengintip salah satu kamar Rasulullah saw., dan saat itu Rasulullah saw. sedang memegang semacam sisir dari besi. Ketika mengetahuinya, beliau berkata, “Kalau aku tahu bahwa kamu mengintipku, pasti matamu sudah kutusuk dengan ini.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang wanita berdekatan-dekatan dengan wanita lain, kemudian dia menceritakan kepada suaminya tentang wanita tersebut. Karena hal itu membuat suami seakan melihatnya sendiri.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir ra. bahwa Rasulullah saw. melihat seorang wanita, maka beliau kemudian menemui Zainab ra. yang sedang menyamak kulit binatang. Beliau menggauli Zainab ra. Kemudian beliau menemui para sahabat, dan berkata:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

Artinya: “Sesungguhnya wanita itu, dari depan bisa digunakan setan untuk menggoda, dari belakang juga bisa digunakan setan untuk menggoda. Maka jika seseorang melihat wanita, sebaiknya segera mendatangi isterinya. Karena hal itu akan menghapus pikiran-pikiran tadi.”

Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Anjuran untuk menyegerakan menikah. Karena menikah adalah sarana yang paling tepat untuk menundukkan syahwat. Jika memang belum mampu menikah, hendaknya sering melakukan puasa.
  2. Menjaga pandangan.
  3. Bagi wanita, hendaklah mengenakan hijab, dan menutup perhiasan-perhiasannya (bagian tubuhnya yang membangkitkan birahi)
  4. Hendaknya tidak berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan.
  5. Dan anjuran bagi seorang suami agar segera menggauli isterinya, jika melihat dan memikirkan wanita lain.
  6. Seorang isteri dilarang menceritakan secara detail tentang wanita lain, karena hal itu membuat seorang suami seakan melihat wanita itu dengan mata kepalanya sendiri. (msa/dakwatuna)
Sofwan

Tentang Sofwan

Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Sofwan

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (11 orang menilai, rata-rata: 7,09 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
76 queries in 2,276 seconds.