Home / Berita / Perjalanan / At-Tabrani Islamic Center Pekanbaru Selenggarakan Kajian Menolak Perayaan Hari Valentine

At-Tabrani Islamic Center Pekanbaru Selenggarakan Kajian Menolak Perayaan Hari Valentine

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Fenomena memperingati dan merayakan VALENTINE DAY sudah biasa dan lumrah kita dengar di tengah-tengah remaja saat ini. Hari Valentine tersebut diistilahkan oleh remaja sebagai hari kasih sayang yang mana seorang remaja sangat mengharapkan bukti cinta dan kasih sayang dari pasangannya yang belum sah hingga terjerembab ke jurang kemaksiatan dan perzinaan yang sudah jelas sangat bertolak belakang dengan syariat Islam.

Sementara banyak dari kalangan remaja terutama kalangan remaja muslim tidak tahu bagaimana sejarah terjadinya hari tersebut.

Mengingat fenomena tersebut sering terjadi di kalangan remaja muslim, Divisi Muslimah, At-Tabrani Islamic Center, Pekanbaru mengadakan kajian khusus bertajuk: “Valentine Day: Pilih Coklat atau Akad?”

Kajian ini bertujuan untuk mencegah dan mengantisipasi terjadinya perayaan tersebut dengan menghadirkan ustadz, ustadz dan pakar pendidikan. Acara tersebut diadakan di Masjid At-Tabrani Pekanbaru pada hari Sabtu, 10 Februari 2017, pukul 15.00 – 18.00 dan dihadiri sekitar 419 orang muslimah.

Melalui video recording, Ustadz Tengku Zulkarnain (Wakil Sekjen MUI Pusat) selaku tokoh undangan menjelaskan sejarah terjadinya Valentine Day dan hukum merayakannya. Beliau menjelaskan bagaimana Valentine Day berasal dari nama seorang pendeta Nasrani yang memberikan izin kepada remaja-remaja yang tidak mendapat restu dari orang tua dan menikahkan mereka.

Kemudian pada suatu hari sang pendeta dibunuh bertepatan pada tanggal 14 Februari. Dari kejadian tersebut timbullah hari yang bersejarah bagi mereka yang mengidolakan sang pendeta dan mereka menyebutnya sebagai Valentine Day atau hari kasih sayang. Ustadz Tengku Zulkarnain menghimbau remaja Muslim agar mempelajari asal mula hari tersebut dan tidak ikut-ikutan merayakannya. Beliau mengatakan bahwa dalam Islam tidak ada perayaan hari tersebut. Beliau juga mengatakan Cinta bukan hanya sekadar dilambangkan dengan coklat. Tetapi cinta yang benar dan diridhai Allah adalah cinta setelah akad dan dalam bingkai pernikahan yang halal.

Pembicara kedua adalah Ustadzah Wiwin Oktasari, Lc, MHSc, alumni al-Azhar Mesir dan Kandidat Doktor UIA Malaysia, dengan tema “Perlukah ungkapkan rasa cinta?” Beliau membuka ceramah dengan menjelaskan bagaimana cinta adalah fitrah dan naluri yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada setiap manusia. Remaja Muslim yang telah mengalami fase pubertas atau baligh akan mengalami perubahan fisik, psikis (kejiwaan) serta fungsi-fungsi seksual.

Kebutuhan untuk diperhatikan dan ketertarikan kepada lain jenis mulai muncul dan perkara yang lumrah. Jatuh cinta bukanlah dosa namun remaja harus pandai menyikapinya. Remaja muslim harus tau bagaimana menempatkan cinta dan mengekspresikannya di waktu yang tepat. Seorang Muslimah tidak sepantasnya mengekspresikannya di khalayak umum ataupun social media. Seyogyanya wanita muslimah harus menjaga izzah dan rasa malunya. Cinta itu fitrah dan setiap orang berhak mendapatkannya, tapi kalau belum waktunya maka bersabarlah dan perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT sang pemilik hati. Tambatkan hati kepada sang Khalik sampai tiba masanya cinta hakiki tiba dengan adanya akad yang sah lagi halal.

Bukan hanya mengekspresikan cinta dengan kata rayuan gombal yang membuat hati melayang-layang dan kadang terjerumus kepada kemaksiatan dan bahkan mengatas namakan ‘’PACARAN ISLAMI’’. Bila sudah masanya cinta ada dalam ikatan perkawinan yang sah, maka cinta akan dirasa lebih indah karna ada berkah di dalamnya insya Allah. Cinta bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang tanpa ada ikatan dan hanya sekedar pemberian coklat, bunga dan boneka. Demikian disampaikan oleh ustadza Wiwin Oktasari.

Ustadza juga berpesan jika remaja dilanda cinta, tapi belum mampu menikah, maka sebaiknya ia menjaga pandangannya dan berpuasa. Adalah baik baginya untuk mencintai dalam diam, sembari memantaskan dirinya serta meng-upgrade diri dengan bekal ilmu agama. Karna wanita yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik, dan wanita yang buruk akan mendapatkan pasangan yang buruk pula.

Pemateri ketiga adalah salah satu Pembina Yayasan At-tabrani Islamic Center Pekanbaru dan Universitas Abdurrab Pekanbaru, DR. dr. Susiana Binti Tabrani dengan tema: “Jika anak jatuh cinta, biarkan atau nikahkan?” Beliau menjelaskan kepada audience terutama di kalangan ibu-ibu sebagai orang tua agar mengenalkan cinta yang sesungguhnya kepada anaknya, bahkan sejak mereka masih berada di bangku sekolah atau kuliah.

Beliau menjelaskan bila saatnya anak sudah baligh seorang anak harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri, karena apapun yang dilakukan akan menjadi pahala dan dosanya sendiri. Sebagai orang tua bila anak sudah ingin beranjak ke jenjang pernikahan, seyogianya mendukung dan tidak menghalangi. Sebagian masyarakat mempunyai mindset kalau ingin menikah maka anaknya harus siap dalam segala hal terutama hal finansial.

Padahal menikah adalah salah satu ibadah yang harusnya kita motivasi karena ada Allah tempat bersandar dan berdoa yang akan mempermudah segalanya. Begitulah penjelasan beliau memotivasi ibu-ibu agar tidak takut untuk menikahkan anaknya di usia muda agar terhindar dari perbuatan zina dan meraih pahala bersama pasangan yang sah.

Kajian ditutup dengan testimoni dari bintang tamu, seorang muslimah berumur 22 tahun, yang memutuskan untuk menikah di usia muda dan masih menuntut ilmu, Soraya Medina Ruza. Ia menjelaskan tentang proses ta’aruf, khitbah dan akad nikahnya yang relatif singkat dan sangat lancar. Kisahnya sangat menginspirasi remaja muslimah yang hadir.

Acara ini berlangsung hangat dengan diskusi dan tanya jawab yang dimoderatori oleh Ustadza Hafifah Rasheed, pengurus MUI Provinsi Riau dan Pengurus Wilayah BKMT Provinsi Riau. Kajian tersebut dihadiri oleh 419 orang peserta yang terdiri dari berbagai sekolah, majlis ta’lim (BKMT), organisasi muslimah dan masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya. Pada akhirnya kegiatan kajian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada remaja tentang adanya fenomena perayaan Valentine day yang sungguh tidak pantas dirayakan oleh remaja muslim dan tidak ada dalam syariat Islam.

Kajian ini adalah kajian Muslimah Seri ke-dua dan merupakan rangkaian kajian yang diselenggarakan tiap dua minggu sekali oleh Divisi Muslimah At-Tabrani Islamic Center Pekanbaru. Semoga Allah menjaga kaum muslimah dari terjerumus ke dalam kemaksiatan berupa zina yang merupakan perbuatan yang keji. (weliana/dakwatuna.com)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Menikahi Sepupu, Apakah Boleh dalam Islam?

Organization