11:21 - Selasa, 23 September 2014
Dr. Fuad Abduh Muhammad Bakrain Ash-Shufi

Memanen Hikmah dari Momentum Tahun Baru Hijriyah

Rubrik: Sirah Nabawiyah | Oleh: Dr. Fuad Abduh Muhammad Bakrain Ash-Shufi - 12/11/13 | 14:59 | 08 Muharram 1435 H

Madinah Al-Munawwarah tempo dulu dalam lukisan (inet)

Madinah Al-Munawwarah tempo dulu dalam lukisan (inet)

dakwatuna.com – Beberapa hari yang lalu kita telah memperingati peristiwa hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Sebuah momen peringatan yang mampu merefresh dan mempererat hubungan seorang muslim dengan sejarah Islam dan kejadian yang dilalui Rasulullah saw. Tidak ada yang memperdebatkan lagi bahwa peringatan hijrah Rasulullah saw. Adalah peringatan besar yang perlu diperingati dan diambil hikmah-pelajarannya.

Kaum Muslimin di Makkah melewati masa 13 tahun dalam kondisi yang sulit; penuh dengan ujian, cobaan, tekanan dan kezaliman dari kaum kafir, namun mereka menghadapi semua itu dengan penuh kesabaran dan pengorbanan sampai tibalah pensyariatan hijrah.

Siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw. telah sampai pada puncaknya dan sudah sangat kelewat batas. Terlebih setelah wafatnya paman beliau (Abu Thalib) dan istrinya (Khadijah ra). Siksaan ini juga dialami semua sahabat-sahabat Rasulullah saw. Hal ini mengharuskan mereka meninggalkan harta, keluarga dan tanah kelahirannya untuk menyelamatkan agamanya. Mereka berhijrah setelah mendapatkan ijin dari Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. termasuk orang yang paling terakhir hijrahnya.

Kaum Quraisy merasa telah gagal dalam semua usahanya menghentikan penyebaran dakwah Islam dan memutus laju pertambahan orang yang masuk Islam. Karena itulah mereka merancang sebuah rencana busuk, yaitu membunuh Rasulullah saw.

Upaya pembunuhan yang dilakukan kaum Quraisy pun gagal, dan Rasulullah saw. keluar dengan selamat menuju rumah sahabatnya (Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.) untuk menjalankan tahap pertama dari proses hijrah. Rasulullah saw. pun bergegas pergi dan menyadari hal ini kaum Quraisy pun berupaya untuk menyusul dan menangkap beliau. Mengetahui dikejar kaum Quraisy beliau bersembunyi di dalam gua selama 3 hari kemudian beliau melanjutkan perjalanannya sampai ke Madinah setelah melalui perjalanan panjang yang penuh dengan kesulitan dan marabahaya. Beberapa mukjizat bermunculan dalam perjalanan beliau, hingga akhirnya beliau sampai di Madinah, dan bertemu dengan para sahabatnya untuk memulai membangun pondasi daulah Islamiyah di sana.

Untuk mengetahui proses hijrah secara detail dan mendalam alangkah baiknya jika para pembaca yang budiman merujuk pada kitab-kitab Sirah dan Fikih Sirah supaya bisa mendapatkan hikmah dan pelajarannya secara mendetail.

Melalui artikel ini akan penulis kupas secara singkat dan global hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari hijrahnya Rasulullah saw.

Pertama; Mempopulerkan sistem penanggalan Hijriyah dan menampakkan kesakralannya karena ia merupakan sistem penanggalan Islam yang berhubungan dengan momen hijrahnya Rasulullah saw. dan karena penanggalan bulan Hijriyah merupakan penanggalan bulan Qomariyah yang berhubungan dengan rotasi bulan, dan Rasulullah saw. Mengajarkan kita menggunakan bulan-bulan ini dalam masalah ibadah dan lainnya. Ada ibadah puasa bulan Ramadhan, puasa pertengahan bulan (ayyamul bidh), dan sebagainya.

Kedua; Mengingatkan kembali umat Islam pada peristiwa hijrah, dan menautkan mereka pada hikmah dan pelajarannya agar mereka mengetahui sunnatullah dan karakter dari dakwah Islam.

Ketiga; Mempertegas rekayasa dan tipu daya musuh-musuh Islam zaman dulu dan sekarang yang tidak ada henti-hentinya mengerahkan segenap daya, upaya dan usahanya untuk menjauhkan umat manusia dari dakwah Islam.

Keempat; Memperkenalkan kepada generasi muda akan momen kepahlawan dari generasi muda sahabat dalam momen hijrah dan momen-momen lainnya dalam sejarah Islam. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang tatkala itu masih berusia belia mempunyai peran penting dan pengorbanan besar dalam kesuksesan hijrahnya Rasulullah saw. Beliau berperan bak kelinci percobaan yang ditugaskan untuk menggantikan posisi Rasulullah saw. di atas tempat tidurnya yang seyogyanya menjadi tempat kejadian kejahatan besar.

Kelima; Menegaskan kedudukan mulia bagi Abu Bakar ra. dan keluarganya di sisi Rasulullah saw. atas peran besar yang dilakukannya pada momen-momen sebelum hijrah dan setelahnya. Demikian juga kedudukan mulia para sahabat khususnya sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan lebih khusus lagi adalah keempat khulafa`ur-rasyidin.

Keenam; Menegaskan perhatian Rasulullah saw. akan pentingnya berusaha. Beliau bersama Abu Bakar ra. telah mengerahkan segenap usahanya untuk menyusun strategi dan persiapan. Namun, meskipun begitu beliau tetap bertawakal kepada Allah swt. bukan kepada usaha yang telah dilakukannya.

Ketujuh; Menegaskan betapa besar perlindungan dan penjagaan Allah swt. kepada Rasulullah saw. dalam perjalanan panjang itu yang ditakdirkan-Nya dilakukan dalam kuasa manusia biasa tidak sebagaimana yang terjadi pada perjalanan Isra` dan Mi`raj.

Kedelapan; Menambah kepercayaan kaum muslim akan kebenaran ideologi dan akidah yang dipegangnya. Tidak memperdulikan segala macam isu-isu yang bertujuan menghentikan laju dakwah. Saat itu Rasulullah saw. sangat percaya akan kesuksesan hijrah, dakwah dan sampainya beliau di hadapan para sahabatnya di Madinah, meskipun beliau akan melalui marabahaya dan kesulitan besar dalam perjalanannya.

Kesembilan; Menegaskan perhatian besar syariat Islam pada lingkungan yang kondusif dan bagaimana menyiapkannya. Dahulu kaum muslimin di Makkah sudah mengetahui pentingnya pertemuan mereka dalam suatu pertemuan pekanan untuk melaksanakan shalat Jum`at bersama dan Rasulullah saw. Maka setibanya di Madinah beliau langsung mendirikan shalat Jum`at untuk pertama kalinya bersama dengan para sahabatnya.

Kesepuluh; Menegaskan kembali pentingnya menghidupkan kembali peran masjid dan menguatkan hubungan dengannya serta pencetakan kader-kader yang mampu memenej masjid dan mengembalikan peran utamanya untuk menyelesaikan permasalahan umat, tempat mentarbiyah umat,tempat menyadarkan umat dan mengaktifkan lagi perannya dalam mendirikan agama dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam.

Kesebelas; Pentingnya menghidupkan kembali semangat persaudaraan di antara sesama kaum muslimin dan menegaskan hubungan eratnya dengan keimanan kepada Allah swt. Semangat persaudaraan yang dihidupkan kembali adalah semangat persaudaraan untuk saling mengayomi dan membantu dalam kebaikan dan ketakwaan.

Keduabelas; Pentingnya menghidupkan kembali etika berinteraksi dengan orang lain dan penanaman etika-etika berinteraksi antar sesama manusia baik yang muslim maupun kafir. (msa/dakwatuna)

Dr. Fuad Abduh Muhammad Bakrain Ash-Shufi

Tentang Dr. Fuad Abduh Muhammad Bakrain Ash-Shufi

Pendiri dan direktur situs wefaqdev.net (Yaman). Konsultan pendidikan di Pusat Konsultasi Pendidikan dan Dakwah “Rahatak”. Konsultan pendidikan pada situs “Yanabie tarbawiyah”. Pendidikan di: Diploma Neural programming 2004, Bachelor Syariah 1998,… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Sofwan

Topik:

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 9,40 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
89 queries in 1,741 seconds.