Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Semangat Seorang Muslim

Semangat Seorang Muslim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Bismillahirrahmanirrahim

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa’idah: 3)

Seorang muslim sesungguhnya sangat beruntung, karena Allah SWT melalui agama Islam telah membekali kita dengan tuntunan Al-Quran dan Hadits, yang jika saja kita “mau” untuk mempelajari, mengkaji dan memahami secara aplikatif, insya Allah kita akan bisa menikmati kehidupan dunia sekaligus kesejahteraan di akhirat kelak. Berikut ulasan singkat beberapa semangat seorang muslim yang bisa kita petik intisarinya dari Al-Quran dan Hadits,

Visi

Tentu kita dengan mudah memahami makna sebuah visi, sederhananya sebagai sebuah tujuan/target yang ingin kita capai. Islam sesungguhnya telah memberikan pedoman yang sangat jelas untuk arah kehidupan kita. Dengan eksplisit (tertulis), dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa kita (manusia) diciptakan tidak lain adalah hanya untuk beribadah kepada sang Rabb, Allah swt (Adz-Dzariyaat: 56). Tentunya istilah ibadah di sini tidak cukup jika kita artikan secara sempit hanya sebuah ritual-ritual keagamaan atau diukur dari “lamanya” berada di dalam masjid, namun segala aktivitas bekerja, belajar dan seterusnya bisa menjadi sebuah nilai ibadah khususnya jika kita meniatkan karena Allah SWT.

Pada surat Al-Haj: 77, Allah SWT berfirman “…sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan…”. Dari ayat tersebut, kembali kita dapat memetik 2 poin yang bisa kita jadikan sebagai visi utama dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Pertama yaitu menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, dan kedua melakukan kebaikan atau menyebarkan manfaat.

Visi beribadah kepada Allah mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini sebaiknya kita melakukan segala sesuatu hanyalah untuk Allah swt. Tempatkan semua harapan, cita-cita, apresiasi, hanya dari Allah. Dengan visi itu Insya Allah kita akan mampu mempunyai mental yang kuat dan tidak mudah tergerus dengan romantika kehidupan dunia. Bandingkan jika kita berharap belas kasih atau balasan dari orang lain ataupun bangsa (pemerintah), semakin besar peluang kekecewaan yang akan menjumpai kita dan mengantarkan kita pada penurunan semangat hidup. Tentu tidak semudah membaca rangkaian kata dalam tulisan untuk mengimplementasikan visi ini dalam kehidupan kita, tapi juga tidak sesulit yang dibayangkan, jika masih belum kuat terpatri visi ini dalam sanubari kita, mungkin bisa kita cek dari yang paling sederhana seperti bagaimana kualitas shalat kita, dst.

Kemudian visi berbuat kebajikan, seorang muslim sepatutnya mempunyai semangat/motivasi yang lebih tinggi untuk menjadi insan yang mampu menebar benih-benih manfaat untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya. “…Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Thabrani), kembali dari hadits tersebut kita bisa melihat bahwa sesungguhnya motivasi menebar manfaat adalah semangat yang patut dimiliki oleh seorang muslim. Mungkin bisa kita latih dan uji coba menjadi insan yang bermanfaat dari skala yang paling kecil, yaitu mulai dari lingkungan keluarga, kerabat, organisasi, dst. Dan yang terpenting lainnya, sekecil apapun sebuah aktivitas (misal tersenyum) pasti memiliki sebuah nilai manfaat.

Tekad dan Kesungguhan

“…Maka Ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Al A’raf:69)

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman)

Jika kita mau dan mencoba untuk berpikir sejenak secara jernih, betapa banyak dan luasnya nikmat Allah swt yang telah kita peroleh termasuk kehidupan di dunia ini. Berangkat dari nikmat-nikmat tersebut, sepatutnya kita mempunyai keinginan dan kesungguhan yang kuat dan mantap yang biasa kita sebut sebagai sebuah tekad untuk meraih dan menjalankan visi kehidupan ini. Tekad atau kesungguhan menjadi penting, karena dengan hal tersebut motivasi kita menjadi maksimal dan langkah-langkah kecil kita dapat dijalankan dengan ritme yang berkelanjutan.

Seringkali kita memiliki keinginan yang besar dan impian yang hebat, namun tidak disertai dengan tekad yang kuat, berujung pada semangat kita yang menjadi kendor dan dibumbui dengan keluhan atau kegalauan. Poin pentingnya bukan pada larangan untuk mengeluh atau menggalau ria, namun perlu diberikan porsi yang sesuai, dan perlu disadari bahwa mengeluh itu merupakan salah satu strategi setan dalam membujuk manusia. Setan selalu berusaha memberikan kondisi dan tawaran pada manusia untuk mengeluh, dengan mengeluh seringkali terkoneksi dengan kemalasan dan kufur nikmat.

Alangkah baiknya jika kita meminimalisir segala potensi mengeluh tersebut dengan mengingat kembali nikmat Tuhan dan apa yang sudah kita miliki saat ini, bukan yang tidak kita punya. Karena sudah menjadi fitrah, manusia selalu ingin apa-apa yang belum dimiliki, namun setelah tercapai dengan mudah dilupakan, kemudian berminat pada hal lain yang belum dimiliki, begitu seterusnya. Tentu hal tersebut dapat diminimalisasi dengan belajar untuk terus bersyukur dengan selalu mengingat nikmat Allah dari yang paling kecil, selain itu dengan rajin bersyukur insya Allah nikmat yang kita peroleh ke depannya akan lebih besar seperti firman Allah, La In Syakartum La Aziidannakum Wa Lain Kafartum Inna ‘Adzaabi La Syadiid, “jika kamu bersyukur atas nikmat yang Ku-berikan kepadamu, maka akan Aku tambah nikmat itu, tapi jika kamu mengingkarinya, maka ingatlah bahwa siksa-Ku sangatlah pedih”

Kemudian nilai kesungguhan, yang kurang lebih sama maknanya dengan tekad, merupakan semangat yang sepatutnya dimiliki oleh seorang muslim. Dengan kesungguhan, kesuksesan akan mengikuti kita. Tentunya, kesungguhan adalah jalan yang tidak mulus, namun berliku dan kadang penuh dengan kerikil/batuan tajam, butuh pengorbanan.

Janji Allah sangatlah pasti bahwa seorang muslim yang memiliki semangat-semangat di atas didasari dengan taqwa kepada Allah dan rasul-Nya akan mampu meraih kemenangan atau keberuntungan (laallakum tuflihun). Kita jaga ibadah-ibadah wajib kita, kita belajar untuk rutinkan sunnah-sunnah yang ada dan terus bertaubat plus berdzikir di setiap kesempatan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa S3 jurusan Nanoteknologi, Insan LPDP.

Lihat Juga

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim