Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Semangat Om Jay…

Semangat Om Jay…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Asnita Putri)
(Foto: Asnita Putri)

dakwatuna.comPeringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah alasan tepatnya mengapa para karyawan dan siswa meliburkan diri hari ini. Tidak seperti yang lain, SGI mengadakan perkuliahan PTK seharian penuh bersama nara sumber yang berhasil memukau dan membuat kami tak pernah menyesali mengadakan perkuliahan sebagai pengganti liburan kali ini.

Gemuk dengan peci bulat, mirip dengan postur tubuhnya yang terlihat kelebihan berat badan yang sedikit lagi hampir jauh dari yang dikatakan berat badan ideal. Sosok yang membuatku pertama kali berpikir bahwa ia adalah salah seorang anggota FPI, ditambah juga dengan latar belakangnya yang berasal dari Jakarta.

Berbanding terbalik dengan pasangan yang selalu setia bersamanya. Postur tubuh yang kecil dan serius. Sekilas tersirat bahwa ia adalah orang yang berdedikasi dengan pekerjaan yang digelutinya.

Sambutan yang cukup menggelitik ketika ia mengawali perkuliahan kali ini. Perkenalan yang penuh dengan guyonan yang membuat kami begitu rileks berkomunikasi dengan beliau. Walaupun sempat berpikir sesaat bahwa ini akan menjadi kuliah yang cukup membosankan karena melihat ekspresinya yang beringas dan begitu serius. Namun semuanya bisa tertangkiskan oleh senyumannya yang sangat manis tu.

Perkuliahan yang seru dan menarik, penuh dengan tantangan yang membuat semangatku makin terpacu. Penuh dengan teka-teki dan door prize. Salah satunya adalah ketika ia memberikan sebuah pertanyaan kepada kami tentang pencipta “Tut Wuri Handayani”. Ia meminta kami untuk mengirimkan jawabannya melalui SMS. Jadi bagi siapa yang mengirimkan SMS tercepat, maka ia akan mendapatkan door prize sebuah buku tentang pendidikan dan guru yang pastinya sangat berguna bagi kami nantinya.

“Ini akibat teknologi yang canggih ini… dekat saja harus lewat SMS J” celetuk Dana dengan gaya khas Maduranya.

Spontan saja semuanya tertawa mendengar pernyataannya itu. Cukup heboh dan kontroversi memang, cara yang ia gunakan itu. Padahal jarak kami yang begitu dekat bisa saja langsung menjawab pertanyaan yang diberikan dengan tepat. Namun, di sinilah tantangannya. Ia mengajarkan kami bahwa untuk mendapatkan suatu yang besar harus diikuti oleh usaha yang besar pula. Akupun merasa permainan ini menarik dan ingin segera menaklukkannya. Segera kukirimkan pesan jawaban dan berharap menjadi orang tercepat yang mengirimkan SMS balasan itu kepada beliau. Karena aku mengincar buku yang ia tawarkan itu.

Tak berapa lama kemudian, ia mengabarkan kepada kami bahwa pengumuman pemenang permainan ini akan diinfokan di akhir perkuliahan.

“Yaaa…….. si bapak paling pinter ne bikin penasaran kami….” ucapku melepas penasaran

Om Jay hanya tersenyum simpul menanggapi aksi mini protes kami itu. Ya, Wijaya Kusumah, M.Pd adalah nama lengkapnya. Pria Betawi asli yang sudah mengukir ratusan prestasi yang membanggakan. Bukan hanya orang tua dan kerabat saja yang ia banggakan, Kamipun yang baru beberapa jam saja mengenalnya merasa sangat bangga dengan hasil karya yang telah dihasilkannya.

Penelitian Tindakan Kelas ia sajikan semenarik dan semudah mungkin bagi kami agar kami dapat memahaminya dengan cepat. Ya, perlu diketahui, materi hari ini seharusnya adalah untuk materi 1 semester jika disajikan di bangku perkuliahan formal. Tentunya butuh usaha dan kerja keras juga bagi kami untuk mengembangkan potensi diri agar semuanya benar-benar memahaminya.

Disela-sela perkuliahan ia selalu memancing kami dengan pertanyaan2 atau memberikan games2 yang akan ia apresiasi nantinya. Dan aku adalah salah satu orang yang beruntung itu. Saat itu, kami diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang ada di slide yang beliau tampilkan. Awalnya kami menyangka ini adalah pertanyaan yang bersifat observasi terhadap penggunaan teknologi kepada kami. Jadi kamipun mengisinya dengan apa adanya. Begitu juga denganku. Jujur, saat itu agak malas memberikan alasan di mana pertanyaan itu sudah begitu sering dipertanyakan kepada kami selama kami berada di SGI ini.

“Mengapa Anda ingin Jadi Guru???”

Sesaat aku kehilangan ide untuk menuliskan apa yang hendak kutulis. Namun, tiba-tiba aku teringat akan siswa—siswaku yang ada di sekolah-sekolah yang pernah aku ajar sebelumnya. Senyuman dan wajah polos mereka menari-nari di bayanganku. Lalu aku kembali bertanya kepada diri sendiri, hal apa sajakah yang bisa kulakukan untuk mereka?

Dalam kebuntuan ide….pertanyaan itu seolah-olah mendera pikiranku begitu cepat. Dan akupun berusaha untuk menuliskan hal apa saja yang bisa kuupayakan untuk membuat mereka. Aku ingin selalu menjadi motivator terbaik bagi mereka dalam menemukan impian dan cita-cita mereka yang saat aku mengenal mereka, sama sekali tak mengerti dengan apa itu impian.

Tangan ini terasa bergerak secara otomatis menuliskan semua impianku terhadap mereka. Mengalir……. dan terus….. mengalir……. hingga aku tersadar bahwa seorang Asrulla sudah berada di hadapanku untuk menagih kertas yang kutulis tadi dan mengumpulkannya kepada Om Jay.

Cukup berakhir sampai di situ. Kamipun tak pernah memikirkan lagi apa yang ada di kertas itu lagi. Kami sudah larut dengan permainan kelompok yang dikomandoi Om Jay. Khusus kelompokku, kami mendapatkan tugas untuk membuat 30 Judul PTK, dan beliau meminta kami untuk mempresentasikannya di depan kelas dalam waktu 30 menit. Cukup menantang, namun kami yakin bisa menjadi yang terbaik di permainan kali ini. Jujur, aku sendiri kurang paham dengan PTK, karena skripsi dulu bukanlah PTK, dan aku agak bingung juga dengan pemakaian kata terhadap judul yang akan dibuat.

(Foto: Asnita Putri)
(Foto: Asnita Putri)

Aku lihat Epong dan Jayanti mempunyai pengalaman di sini, karena tugas akhir yang mereka buat pada saat kuliah adalah PTK, jadi wajar mereka memahaminya dengan jelas. Diskusi singkatpun kulakukan dengan Epong untuk memahami pemilihan kata yang akan digunakan dalam membuat judul PTK. Alhamdulillah, diskusi berbuah manis, dan akupun memahaminya dengan jelas. Alhasil ya 5 judul berhasil kuselesaikan tanpa hambatan berarti.

30 menit pun berlalu dengan indah. Cap…cis…cus….dari teman-teman yang presentasi berlangsung seru dan meriah. Kami pun puas dengan penjelasan yang disajikan dengan apik. Tiba-tiba Om Jay kembali berdiri ke depan kelas dan langsung mengumumkan kelompok terbaik beserta poin yang diperoleh oleh masing-masing kelompok. Dan….eng…ing…eng…….alhamdulillah, kami pun berhasil mendapatkan skor tertinggi di antara kelompok lainnya.

Tak puas begitu saja. Om Jay meluncurkan serangan berikutnya dengan mengumumkan 3 tulisan terbaik tentang alasan kami menjadi guru. Aku sichh….biasa saja, karena aku pikir tulisanku tidak masuk kategori dalam penilaian beliau. Makanya aku santai saja menanggapi pengumuman itu. Tak tahunya….e…e….aku mendengar beliau memanggil namaku sebagai peserta terbaik kedua untuk mendapatkan door prize… Wow…..ekspresi melongo dan sedikit terlihat bego mungkin, karena aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang beliau umumkan itu. Beliau memanggilku untuk ke depan dan memintaku untuk membacakan tulisan itu di depan semua temanku.

Subhanallah, bahagia luar biasa perasaan yang kurasakan. Sesaat aku tersadar bahwa benar apa yang beliau himbaukan kepada kami tentang membiasakan menulis setiap hari.

“Buatlah cerita harian gurumu, suatu saat hal yang kita anggap sederhana itu bisa menjadi luar biasa bagi orang lain”.

Dan benar saja, tulisanku yang tadinya kuanggap biasa saja, namun tidak bagi Om Jay yang memberikan penilaian pada sisi yang berbeda. Mulai saat itu, aku mengikrarkan dalam hati bahwa sesibuk apapun, aku harus bisa meluangkan waktu untuk menulis hal apapun yang kualami di kehidupan ini. Om jay saja yang begitu sibuknya, bisa menulis di blog nya setiap hari, bagaimana dengan diriku?????

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Asnita Putri
Asnita Putri Dewi, S.Pd, lahir di Padang tahun 1987. Penulis merupakan Anak bungsu dari 4 orang bersaudara yang bercita cita menjadi Guru profesional dan Motivator Indonesia tahun 2013. Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Lb. Alung ini menyatakan siap untuk mengabdi pada dunia pendidikan secara profesional semenjak bergabung dengan sekolah guru Indonesia (SGI). Bagi penulis dengan mengajar membuat eksistensinya sebagai manusia terasa lebih berarti. Mengajar di pedalaman dan mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat adalah salah satu impian penulis sejak masih di bangku kuliah. Perempuan berdarah Minangkabau ini aktif diberbagai organisasi dan perlombaan semenjak SMK sampai di perguruan tinggi, diantaranya pernah aktif di National University English Debate Contest (NUEDC) tahun 2010-2011. Menjadi juara I English Debate Contest tingkat SMK se-Sumbar tahun 2005. Menjadi utusan Tim Nasional NUEDC di Pekanbaru tahun 2010. Juara I NUEDC se- kota Padang tahun 2011. Mahasiswa terbaik ke-2 jurusan Bahasa Inggris di kampusnya tahun 2011. Menjabat sebagai, Tim inti English Debate Championship tahun 2004-2005, Sekretaris utama Forum Ukhuwah Remaja Islam 2008-2012, Koordinator Debate Bahasa Inggris, HIMA Kampus 2010-2011, Anggota LDK Kampus 2010-2011.Menjadi Guru Pembaharu, Menebarkan Semangat Impian Kepada Semua Siswa itulah Motto hidup yang ia pegang selama ini. Sekarang sedang berkarya dan mengabdi di SDN 1 Girimukti, Lebak, Banten.
  • Faisal VinividiVespa

    Subhanaallah….om jay tiada duanya….

    sangat bersahaja, mau menularkan ilmu yang dia miliki…
    kata2 nya yang meng inspirasi : ” menulislah setiap hari, dan lihatlah apa yang akan terjadi…”

  • BramSonata

    Kalau anda mampu membuang jauh-jauh dari diri anda : prasangka/praduga/ego/nafsu/fanatisama yg melekat pada diri anda, maka anda akan termasuk dalam daftar penulis kaliber dunia yg hasilkarya tulisannya mengabadi.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Twitter)

Zaid ibn Tsabit, Sang Penulis Wahyu dan Ahli Ilmu Waris