Home / Berita / Internasional / Afrika / Kisah Tragis Ibu yang Anaknya Dibakar Militer Kudeta

Kisah Tragis Ibu yang Anaknya Dibakar Militer Kudeta

Ibu dan jenazah anaknya (fj-p)
Ibu dan jenazah anaknya (fj-p)

dakwatuna.com – Kairo. Dalam akun facebooknya Rabu (23/10/2013) kemarin, Dr. Saifudin Abdul Fattah, guru besar ilmu politik Universitas Kairo, memuat surat seorang ibu yang kehilangan anaknya saat pembubaran demonstrasi di Rab’ah pertengahan Agustus yang lalu. Ibu itu sengaja menuliskan surat itu ditujukan untuk menjawab tulisan terakhir Basim Yusuf, seorang liberalis, yang dimuat di harian Ashourouk. Basim, yang juga mempunyai progran acara di televisi tersebut memprovokasi rakyat Mesir untuk membenci para aktivis Islam. Berikut surat ibu itu:

“Aku adalah Nadia Mahmud Badran, ibu dari anak bernama Ahmad Abdurrahman Jalal. Tuan Basim, anakku termasuk orang yang mendukung pemerintahan sah Presiden Mursi. Dia berjuang membela keyakinan dan prinsipnya. Ahmad selalu ikut berdemonstrasi di Rab’ah Adawiyah. Selama di sana, aku selalu meneleponnya untuk menanyakan keadaannya dan memastikan keselamatannya. Setelah pembubaran demonstrasi secara paksa, aku juga meneleponnya, tapi teleponnya mati.

Aku tetap berpikir positif, bahwa anakku selamat. Ketika mendengar kabar ada banyak jenazah yang dikumpulkan di masjid Al-Iman, Makram Ubaid, aku segera bergegas pergi ke sana. Alhamdulillah jasad anakku tidak ada. Aku tetap berpikir anakku masih hidup.

Pada hari yang lainnya, aku juga pergi saat mendengar ada banyak jenazah yang tergeletak di jalanan dekat rumah sakit otopsi di Zainhum. Aku dan anak gadisku mencari-cari jasad Ahmad. Satu persatu aku buka kafan jenazah-jenazah di sana. Saat itu aku juga bersyukur, karena tidak menemukan jasad anakku. Tapi pemandangan di sana sungguh sangat membuatku merinding. Tuan Basim, seandainya saja Anda melihat apa yang kulihat di sana. Aku gambarkan saja kondisi sana, rumah sakit Zainhum saat itu kondisinya sama dengan Hari Raya Idul Adha di tempat penjagalan. Setiap orang membawa kambingnya ke tukang jagal untuk disembelih, dikuliti, lalu diterima lagi setelah dipotong-potong. Di Zainhum saat itu orang-orang membawa jenazah anggota keluarganya masing-masing, menunggu untuk diotopsi, lalu diterima lagi.

Demikianlah seterusnya, hari-hariku aku gunakan untuk mencari anakku di berbagai tempat. Aku mencarinya di daftar nama para tahanan. Aku menjadi akrab dengan penjara-penjara tempat para demonstran ditahan. Alhamdulillah ada beberapa anak muda yang membantuku melakukan itu semua. Lewat satu bulan setelah pembantaian Rab’ah, tidak ada kabar sedikitpun tentang Ahmad anakku.

Pada suatu hari, orang-orang yang membantu memintaku melakukan test DNA. Kata mereka, mungkin anakku termasuk salah satu jenazah yang sudah gosong terbakar. Saat itu masih banyak jenazah gosong yang belum diketahui identitasnya. Aku pun menurut. Kemarin lusa, setelah dua bulan mencari dan menunggu, akhirnya aku menerima Ahmad. Tapi Ahmad sudah menjadi jenazah yang gosong, rusak dan tidak bisa dikenali lagi.

Tuan Basim, tahukah Anda mengapa aku ceritakan kisahku yang menyedihkan ini? Aku ingin Anda membayangkan jika saja Anda dalam posisiku saat ini. Seandainya saja yang mati dan gosong terbakar itu adalah anakmu, apa yang akan Anda lakukan?

Aku memegang prinsipku sebagai seorang muslim. Seandainya saja aku membuat program acara yang memprovokasi rakyat Mesir untuk membenci orang-orang liberal seperti Anda. Lalu program itu mendapatkan rating yang tinggi, banyak pemirsa yang menyaksikannya. Tidak mau tahu, apakah acara itu menggunakan kebohongan, fabrikasi gambar, mencari-cari kesalahan, membuat-buat tuduhan dan sebagainya yang tidak sesuai dengan kode etik media. Yang penting program itu telah bisa memecah rakyat; sebagian kelompok rakyat mempunyai kebencian yang sangat besar kepada kelompok rakyat yang lain. Anak Anda membela prinsip dan keyakinan liberalnya. Dia berdemonstrasi dan menduduki tempat tertentu untuk berunjuk rasa. Akibat provokasiku, banyak orang yang akhirnya membenci anak Anda dan kelompoknya. Lalu aku juga memprovokasi agar anak Anda dan kelompknya dibubarkan dengan paksa dan kekerasan.

Akhirnya polisi dan militer masuk ke tempat anak Anda berdemonstrasi. Mereka mendapati anak Anda terluka, terkulai lemas di rumah sakit darurat. Lalu mereka membakarnya hidup-hidup. Anda kehilangan kabar tentang anak Anda, lalu mencari-carinya selama dua bulan. Selama itu Anda tidak menemukannya. Anda mengira dia termasuk orang yang ditahan. Tapi ternyata, akhirnya Anda menerimanya dalam bentuk jenazah yang sudah gosong, rusak dan tidak bisa dikenali.

Bagaimana  perasaan Anda? Apa yang akan Anda lalukan, Tuan Basim?” (msa/dakwatuna/fj-p)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Sejuki

    Wowwwww…… pertanyaan balik yg amat mengena sampai ke titik jantung terdalam. Hallo sdr. Basim, bagaimana tanggapan ente atas curhatnya salah seorang ibu yg anaknya dibakar oleh kelompok yg ente bela?

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini