Home / Narasi Islam / Dakwah / Maiyyatullah dan Optimisme Kemenangan Dakwah

Maiyyatullah dan Optimisme Kemenangan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Suasana kota madinah begitu mencekam, di tengah kondisi paceklik tersiar kabar tentang rencana kedatangan pasukan besar kafir Quraisy, ditambah lagi persekongkolan mereka dengan penduduk Yahudi yang mendiami kota madinah. Kaum muslimin berada dalam posisi di mana mereka tidak hanya akan diserang dari luar, tapi juga menghadapi makar yang disusun dari dalam kota madinah. Di tengah-tengah kondisi demikian, orang-orang mukmin berkata “inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya pada kita”, janji yang dimaksud adalah keyakinan mereka akan kemenangan setelah kesukaran.

Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah keteladanan tentang optimisme dari milestone perjalanan Rasulullah bersama generasi awwalun.

Optimisme hanya akan muncul dari keyakinan akan maiyyatullah (kebersamaan Allah) dalam setiap aktivitas. Dalam sebuah kesempatan, seorang ikhwah bertanya pada mujahid Hamas tentang rahasia kemenangan mereka. Mujahid tersebut menjawab “karena kami bersama Allah, dan ini jugalah yang membuat kami dekat dengan Al-Quran serta selalu istiqamah ikut ta’lim tarbiyah imaniyah tiap pekan”

Beliau melanjutkan “Tahukah engkau, Syaikh Ahmad Yasin merupakan pemimpin ruhiyah kami, sungguh hingga akhir hayatnya. Ketika syahid, beliau tetap istiqamah untuk hadir dalam halaqah pekanannya di kota Gaza. Itulah rahasia mengapa beliau bisa istiqamah hingga akhir, menjaga rasa maiyyatullah dengan selalu bersama teman-teman yang shalih. Sebab ia adalah panggilan Allah untuk menghidupkan hatimu agar tetap istiqamah dan selalu optimis dijalan dakwah,

Maka bagaimana mungkin kita yang bukan pemimpin ruhiyah seperti Syaikh Ahmad Yasin bisa istiqamah dengan segala optimisme kita jika jarang hadir dalam agenda pekanan?

Untuk menghadirkan rasa optimisme dijalan dakwah, kita harus selalu menjaga agar rasa maiyyatullah, yaitu keyakinan bahwa Allah menyertai orang-orang yang berjuang dan membela agamanya. Mari kita tadaburi ayat-ayat cinta Allah berikut, yang menggambarkan betapa Allah selalu bersama kita

Allah swt berfirman dalam surah al An’am ayat 59

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Qs. Al An’am:59)

“dan tidaklah engkau (Muhammad) dalam menjalankan suatu urusan dan tidaklah engkau membaca suatu surah atau suatu ayat dari Al-Quran dan tidaklah kamu (wahai umat manusia) dalam mengerjakan suatu amal usaha, melainkan adalah Kami menjadi saksi terhadap kamu, ketika kamu mengerjakannya, dan tidak akan lenyap dari pengetahuan Tuhanmu, sesuatu dari sehalus-halus atau seringan-ringan yang ada di bumi atau di langit dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan tidak ada yang lebih besar, melainkan semuanya tertulis dalam kitab yang terang nyata” (Qs. Yunus: 61)

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan antara tiga orang melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. Mujadilah: 7)

Ayat-ayat di atas memberikan penegasan, jika sehelai daun yang gugur pun berada dalam pengawasan Allah, Dia mengetahui gugurnya daun dari pokok termasuk jumlah, masa dan seumpamanya. Allah juga mengetahui pergerakan makhluk lain termasuk jin dan manusia. Dia juga bahkan menjadi satu-satu nya pemilik kunci segala sesuatu yang gaib, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang hari kiamat yang tidak ada satu manusia pun yang tahu. Allah SWT menekankan pada kita bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, bahwa segala aktivitas kita, yang baik maupun yang buruk akan dicatat sepenuhnya dalam kitab yang terang benderang walau ia hanya sekecil biji dzarrah (seperti partikel debu). Allah juga menegaskan bahwa setiap ayat Al-Quran yang kita baca akan tercatat di sisi-Nya, itulah mengapa sebagai seorang da’i, kita harus senantiasa dekat dengan Al-Quran karena di sanalah sumber kedekatan dengan Allah bermula

Kisah Optimisme dalam sejarah

Selain kemenangan fenomenal yang dicatat pasukan muslimin dalam perang Ahzab, ada beberapa peristiwa yang semestinya menjadi pelajaran tentang optimisme akan datangnya kemenangan. Optimisme yang hadir dari kesadaran akan kebersamaan Allah

Besarnya perasaan keyakinan bahwa Allah menyertai, melihat dan bersama orang-orang yang berjuang membela risalah-Nya, melahirkan optimisme yang besar. Dan dengan optimisme yang bersandar atas kebesaran dan ke Maha Kuasaan Allah inilah lahir kerja-kerja produktif, inovatif, dan istiqamah, sehingga jika seluruh mujahid dan dai bersama-sama melakukan gerakan amal shalih untuk kemakmuran bumi Allah, maka akan datang dukungan dari-Nya, sebab Dialah pemilik bumi dan langit, bahkan seluruh penduduk bumi dan langit ikut berkhidmat bersama para mujahid dakwah atas keridhaan Allah terhadap amal shalih yang dikerjakan. Hal seperti ini yang kita saksikan dalam milestone sejarah para Nabi, Sahabat dan orang-orang shalih, betapa besarnya ta’yidullah (dukungan Allah) terhadap mereka.

1. Kisah Nabi Ibrahim ‘alayhi salaam

Saat membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail, hanya ada 5 orang yang bertauhid di muka bumi; beliau, kedua istrinya Sarah dan Hajar, serta kedua putranya yakni Ishaq dan Ismail, serta Luth. Mereka tinggal di padang gersang, belum terlihat harapan apapun, namun keyakinan bahwa Allah membersamai membuat Nabi Ibrahim berdoa dengan doa yang paling optimis “Ya Allah, utuslah seorang Rasul yang senantiasa membacakan ayat-ayat-Mu pada mereka, dan terus mengajarkan hikmah-hikmah. Serta senantiasa memikirkan kebersihan jiwa setiap manusia”. Mengapa doa ini menjadi gambaran paling optimis saat itu? Sebab Doa tersebut baru terkabul setelah diutusnya Rasulullah SAW, jarak doa dan pengabulan adalah 6000 tahun. Subhanallah, namun lihatlah bagaimana rasa empati beliau yang tinggi tentang kelanjutan dakwah generasi selanjutnya.

Karena keyakinan ini pula beliau sangat berani menghadapi tirani Namrud, bahkan menentang ayahnya sendiri. Ketika beliau dilemparkan ke dalam api oleh raja Namrud, dengan tenang beliau berkata “Hasbunallah wa ni’mal wakiil” Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Api tersebut tidak hanya seketika menjadi dingin, melainkan Allah perintahkan untuk memberi keselamatan pada Nabi Ibrahim ‘Alayhi Salam

“Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada Ibrahim.” (QS. al-Anbiya’: 69)

Lihatlah bagaimana api berkhidmat kepada sosok Nabi Ibrahim.

2. Kisah Nabi Nuh

Berapa lama sudah kita berdakwah? 10 tahun? 20 tahun? Pernahkah kita mengeluh tentang sedikitnya manusia yang bersedia bergabung dalam barisan ini? Demi Allah, Nabi Nuh ‘alayhi salam menghabiskan 960 tahun hidupnya untuk berdakwah siang dan malam, dan selama itu beliau hanya berhasil mengajak tidak lebih dari 100 orang untuk menyembah Allah. Ada juga yang berkata bahwa setiap 60 tahun beliau mendapatkan 1 orang pengikut. Seorang sahabat bernama Zaid Bin Aslam berkata “Nabi Nuh ‘alayhi salam bekerja selama 100 tahun hanya untuk menanam pohon, 100 tahun selanjutnya beliau menebang pohon dan mengeringkan kayu-kayunya, 100 tahun berikutnya barulah beliau membuat kapal dan selama itu pula beliau terus di hina” Subhanallah, tidak ada kalimat lain yang diucapkan oleh Nabi Nuh selain “Hasbunallah wa ni’mal wakiil”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Bayangkan betapa sabarnya Nabi Nuh dalam berdakwah, menghabiskan 200 tahun dalam proses pembuatan kapal selalu ditemani oleh ejekan dari kaumnya.

Nabi Nuh tidak pernah bertanya atau protes atas perintah Allah “Ya Allah mengapa kapal ini dibuat di atas gunung dan di padang pasir? Mengapa bukan di tepi pantai?” beliau terus menjalankan amanah Allah tersebut hingga datangnya ta’yidullah, saat banjir menenggelamkan kaumnya yang mendustakan Allah.

Lihatlah bagaimana air menjadi pendukung dakwah, menolong nabi-Nya atas izin Allah.

3. Optimisme Sa’ad Bin Abi Waqqash

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah memimpin sebuah penyerangan ke Persia di masa pemerintahan Umar Bin Khattab. Saat itu, pasukan muslimin dihadapkan pada sungai Tigris yang sedang meluap karena hujan deras. Jembatan sudah diluluhlantakkan oleh tentara Persia dan tak ada satu pun kapal yang dapat digunakan untuk menyeberang. Saat itulah Sa’ad bin Abi Waqqash berkata “sesungguhnya aku sudah berazzam untuk menyeberang sungai ini”. Beliau kemudian memerintahkan seluruh pasukannya untuk berdoa pada Allah dan bertawakkal. Saat itulah 20.000 pasukan berhasil melintasi sungai Tigris dengan tenang, begitu tenangnya mereka saat menghadapi luapan air sehingga banyak di antara mereka yang bahkan menyeberang sambil bercakap-cakap. Tidak ada yang mustahil atas izin Allah.

Pasukan musuh di seberang sungai Tigris takjub dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bayangkan 20.000 pasukan berkuda menyeberang sungai tapi tidak ada yang tenggelam. Mereka lantas berteriak “Gila…gila, kita sedang berperang dengan jin, bukan dengan manusia”

Akhirnya pasukan Islam berhasil masuk dan membuka benteng kisrah yang megah.

Lihatlah bagaimana sebuah sungai menjadi pendukung dakwah, bagi Sa’ad bin Abi Waqqash dan pasukannya

4.  Jenazah Sa’ad Bin Mu’adz diusung oleh puluhan ribu malaikat.

Sa’ad bin Mu’adz masuk Islam di usia 30 tahun saat ia telah dijadikan pemuka yang disegani dan disayangi oleh kaumnya dan hanya 7 tahun terlibat dalam dakwah, 7 tahun dihabiskan bersama Rasulullah. Tapi dengarlah kebenaran hatinya dalam berdoa “”ya Allah, Engkau maha mengetahui bahwa tidak ada yang lebih kucintai selain terlibat dalam jihad di jalan-Mu. Jika ada lagi peperangan melawan pasukan kafir, maka kuatkan aku agar bisa terus ikut serta”

Sa’ad bin Mu’adz syahid di perang Khaibar, saat mendengar kabar wafatnya Sa’ad, Rasulullah begitu terburu-buru mencari jenazahnya. Begitu terburu-buru nya hingga sahabat yang lain bertanya apa gerangan yang membuat Rasulullah bersikap demikian. Beliau menjawab “jika tidak segera kita mandikan, aku khawatir kita akan didahului oleh malaikat untuk memandikannya”.

Pertanyaan lain muncul dari para sahabat saat hendak mengusung jenazah beliau, mereka heran mengapa terasa begitu ringan padahal Sa’ad bin Mu’adz bertubuh besar. Rasulullah bersabda “sesungguhnya saat ini arasy Allah bergetar karena kematian Sa’ad bin Muadz, pintu langit terbuka, dan ada 70.000 malaikat yang turun mengusung jenazahnya di mana belum pernah malaikat turun sebanyak itu”

Subhanallah, 7 tahun bergabung dengan kafilah jihad, wafatnya telah mengguncangkan arasy. Sungguh besar kemuliaan dari Allah. Dan lihatlah bagaimana Allah menjadikan penduduk langit sebagai pendukung dari aktivis dakwah seperti Sa’ad bin Muadz. Bahkan ikut serta dalam iringan jenazahnya.

Benarlah firman Allah “sungguh Kami akan menolong para utusan-utusan Kami di dunia dan pada hari ditampakkannya segala rahasia”.

Itulah mengapa keyakinan ini harus selalu kita kuatkan, karena dukungan Allah tidak hanya selama kita di dunia saja melainkan juga di akhirat, yang dimulai pada hari di mana kita diwafatkan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah