Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pentas Sunyi

Pentas Sunyi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com

Pentas Sunyi

Penghujung tahun 2011……..

“Kau cantik sekali” bisikmu sesaat sebelum pementasan perdana kita. Kalimat itu membuatku tak memerlukan perona pipi lagi. Kuperbaiki letak anting yang terasa berat ini.

“Sebentar lagi aku akan mementaskan tarian rindu untuk pertama kalinya” rasa cemas merayap perlahan memenuhi rongga dadaku. Kutemukan telaga dalam tatapan matamu yang meneduhkan sekaligus menguatkan. Memayungi semua kecemasan ini.

“Kelak aku ingin kau memakai pakaian seperti ini lagi tapi bukan untuk menari di atas panggung, aku ingin kau berdiri di sampingku. Mendampingiku dalam sebuah panggung yang mereka sebut Lamming, bersediakah kau?”

Aku belum sempat menjawab ketika dari kejauhan Andi Uni melambaikan tangan memberi kode bahwa berikutnya giliranku. Andi Uni adalah perempuan yang kukagumi suara eksotiknya ketika pertama kali kudengar saat menyusuri koridor Sastra kampus orange. Secepat kilat aku berlari menuju bibir panggung. Membaur bersama penari lainnya. Lagu Tulolonna Sulawesi memecah keheningan malam. Dibalik kipas aku menarikan tarian rindu. Kerinduan yang ingin kutuntaskan kelak bersamamu dalam sebuah panggung cinta yang kau sebut Lamming.

***

Nadiku kini berdegup lemah dan tak ingin habis
Melewati detik kumuh yang tak jua mau mengerti
Bibirku merintih meracau dalam sempit
Namun bisa mayamu terus memaksa hidupku menghimpit mati
 
Laksana sujud sinar rembulan di bawah telapak kaki
Menghamba pada kuasa tiga belas kata hati
Kucoba menangkap bayangan dalam gelap tanpa api
Menelan asa menyatu dalam keanggunan nurani
 
Tak mampu kulepas panah sang srikandi
Yang telah mengakar dalam seluruh guratan ari
Mencuri selaksa darah yang tersisa merindu hadir
Aura damai dibalik senyum terindah
 
Dan kala angin menjemput tiara sang putri
Kuyakin akan abadi sebuah janji
Cinta pertama tak pernah mati
Dan tak akan kubiarkan ia pupus tanpa arti

 “bilar nadi yang terasa perlahan mengering di dasar dermaga, antarkan siapa saja yang merasa diri paling berduka… Sebab ucap hanyalah jelantah lidah, bacakan syair perana lara…

Berharap bertemu di senja yang sama, tempat yang sama ketika kupilih matamu untuk menyimpan kisahku.
Tempat yang sama ketika kau menghujaniku dengan rentetan kisah masa lalu yang kau semai dalam jiwa yang salah.

Kutemukan puisi ini senja tadi di antara lipatan waktu yang melapuk bertahun-tahun. Puisi yang membuatku berada di sini, duduk membelakangi lampu sorot sebuah pementasan seni. Menyaksikanmu membaca puisi yang sama di atas panggung takdir. Kau dan aku bertahun-tahun merayu takdir agar mempertemukan kita pada panggung yang sama, panggung yang kau sebut Lamming. Tapi takdir menolak mentah-mentah dan meletakkanku pada panggung yang berbeda. Dua kristal bening pecah di mataku. Aku beranjak… bergegas sebelum kau sempat menyadari kehadiranku.

Ah, terkadang kita memang harus mementaskan tarian sunyi!!!!

(Pentas Seni Fort Rotterdam, 8 Desember 2011)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nur insani As Shabir
Guru Model SGI Dompet Dhuafa.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Kunci Surga untuk Bunda (Kisah Nyata Remaja Putri di Suku Akit)