Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Serpihan Cinta di Hollandia, Pelajaran Cinta yang Menerkam Rasa…

Serpihan Cinta di Hollandia, Pelajaran Cinta yang Menerkam Rasa…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Serpihan Cinta di Hollandia, Pelajaran Cinta yang Menerkam Rasa...".
Cover buku “Serpihan Cinta di Hollandia, Pelajaran Cinta yang Menerkam Rasa…”.

Judul Buku: Serpihan Cinta di Hollandia, Pelajaran Cinta yang Menerkam Rasa…
Penulis: Indah El hafidz
Penerbit: Diva Press
Cetakan: I, Mei 2013
Tebal: 300 halaman
ISBN: 978-602-7933-40-8

Pelajaran Cinta di Tengah Keberagaman Budaya

dakwatuna.com Perjalanan Husna ke Belanda dalam rangka mencari dan menyelidiki jejak Hasna, kakak perempuannya yang telah 2 tahun hilang tanpa kabar, menyisakan banyak pelajaran berharga tentang keberagaman budaya, hikmah, sekaligus ujian hidup. Demi rasa cintanya pada sang kakak, Husna rela mengambil cuti kuliahnya selama beberapa bulan.

Sesuai saran Maria, teman Hasna satu asrama sewaktu di Belanda, Husna akan menetap di rumah Bibi Barbara, di Groningen. Dulu, di sela-sela kuliah, Maria dan Hasna pernah bekerja part time di toko milik Bibi Barbara. Namun sejak Hasna aktif terlibat di organisasi kampus, ia tak lagi bekerja pada Bibi Barbara. Bahkan keberadaan Hasna tiba-tiba hilang tanpa kabar (hlm 54-58).

Meski awalnya ibu keberatan dan melarang Husna pergi ke Belanda, namun akhirnya hati ibu luluh dan mengizinkan. Diam-diam, ibu masih menyimpan harapan akan nasib putrinya yang telah 2 tahun hilang, segera bisa ditemukan (hlm 68-70). Dalam penerbangan, Husna dipertemukan dengan Pieter, lelaki tampan 27 tahun, yang mengaku bekerja sebagai pegawai di sebuah yayasan sosial di Belanda. Kendati penganut Kristen taat, namun Pieter seorang yang bijak dan tak mempermasalahkan identitas Husna, muslimah berjilbab. Keduanya terlibat obrolan seru hingga perjalanan panjang itu tak terasa membosankan (hlm 74-87).

Setiba di bandara, Bibi Barbara yang telah kehilangan suami dan anaknya saat kecelakaan, menyambut kedatangan Husna dengan ramah dan kekeluargaan. Bibi Barbara bahkan telah menganggap Husna (dan juga kakaknya) seperti putri kandung sendiri (hlm 88-97). Selama di sana, Husna membantu mengurusi toko buku Bibi Barbara. Usai bekerja, dengan diantar Bibi Barbara, Husna mendatangi asrama Menerworld, tempat kakaknya dulu tinggal. Ia berusaha mencari informasi pada teman-teman kakaknya yang masih bermukim di sana (hlm 109-114).

Dalam misi mencari kakak kandungnya yang belum kunjung diketahui kabarnya, Husna kembali dipertemukan dengan Pieter. Selama di negeri bunga tulip itu, Pieter berjanji akan membantu Husna menemukan keberadaan Hasna. Seiring bergulirnya waktu, diam-diam Husna mengagumi pesona Pieter yang selain tampan juga memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Begitu halnya Pieter, mengagumi kepribadian Husna yang cerdas dan berwawasan luas.

Dan di saat keberadaan kakak kandungnya mulai terkuak, Husna dihadapkan pada ujian berat. Ternyata, Pieter yang selama ini ia kenal dan sering membantu dirinya adalah seorang bangsawan Belanda, keturunan Pangeran Hendrick. Betapa pedih hati Husna saat mengetahui Pieter telah bertunangan dengan Putri Isabella, yang sama-sama dari keluarga bangsawan. Husna baru merasakan, bahwa cinta bertepuk sebelah tangan memang sangat pedih dan nyaris membuatnya hidup dalam keputusasaan. Untung, Husna segera tersadar, bahwa ia pergi ke Belanda bukan untuk mengejar cinta, melainkan mencari kakak kandungnya yang hilang. Ia berusaha tegar menghadapi gejolak hatinya yang tengah terluka karena cinta (hlm 194-203).

Husna shock bukan main saat menemukan keberadaan Hasna di Gereja Goethe, gereja tua yang sudah tak terpakai, di sebuah daerah terpencil, dalam kondisi memprihatinkan; tubuh kurus tinggal tulang dan hilang ingatan. Theodora, kepala asrama Menerworld, adalah dalang di balik kejadian tragis tersebut. Dua tahun silam, Hasna bersama beberapa temannya selalu berada di garis depan menentang berbagai peraturan konyol (yang dibuat sepihak oleh kepala asrama) yang menyudutkan mahasiswi muslim, salah satunya di larang shalat berjamaah di asrama.

Melihat kegigihan Hasna dalam membela hak asasi ratusan mahasiswa muslim di asrama, membuat kepala asrama berniat menyingkirkannya. Setelah berhasil menjerumuskan dua sahabat Hasna, Karem dan Zainab ke dalam penjara, Theodora lantas melancarkan aksi selanjutnya. Diam-diam ia memberikan obat penghilang ingatan kepada Hasna. Setelah itu, ia mengasingkan Hasna di sebuah daerah terpencil, tepatnya di Gereja Goethe dan menyuruh Suster Pien, wanita lanjut usia, untuk merawat Hasna (hlm 213-223).

Hasna lalu dibawa ke rumah Bibi Barbara. Di sana, Ia dirawat secara intensif oleh dokter pribadi yang diutus Pieter agar kondisi fisik dan jiwa Hasna kembali pulih. Kendati butuh waktu lama, tapi Husna berusaha sabar dan tak putus asa merawatnya. Ia baru akan pulang ke Indonesia bila kondisi Hasna mulai membaik. Namun, saat ingatan Hasna sedikit pulih, justru yang mampu diingat Hasna adalah Radit, tunangannya yang telah lama berpaling karena dijodohkan orang tuanya dengan gadis lain.

Banyak hikmah serta teladan yang bisa dipetik dalam novel menarik ini. Seperti; mengajarkan cinta damai, saling menghormati di tengah-tengah keberagaman budaya serta perbedaan keyakinan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sam Edy Yuswanto
Penulis lepas, bermukim di Kebumen Jateng. Lebih dari 100 tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang