Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Wanita itu, Halalkah?

Wanita itu, Halalkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Ada dua insan kehidupan yang pada dasarnya mengisi ruang-ruang kehidupan di dunia. Mereka adalah wanita dan laki-laki. Wanita sering disebut juga ‘Annisa (un)’ yang dalam terjemahan bebas ia adalah insan yang selalu ingin dibahagiakan, ia ingin selalu diperhatikan, ia ingin selalu mencari perhatian. Laki-laki sering disebut juga ‘Ar-rijal (un)’ yang dalam terjemahan bebas mempunyai makna insan yang berjalan, ia adalah pejalan, ia adalah pengembara, ia lebih suka untuk mengembara dan menunjukan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain dan ia senantiasa ingin melakukan yang terbaik untuk seseorang. Dalam konteks cinta dan mencintai, wanita lebih suka dicintai dan laki-laki lebih suka untuk mencintai.

Dua insan kehidupan ini juga pada dasarnya akan menyatu dalam satu kehidupan yang nyata sebagai suami-istri.  Dan inilah jalan yang benar yang semestinya ditempuh oleh dua insan ini.

Sejatinya, wanita adalah ‘haram’ bagi laki-laki manapun yang belum sah untuk menyentuh dan memilikinya, kecuali muhrimnya. Keistimewaan inilah yang seharusnya dijaga oleh seorang wanita di manapun dan kapan pun sampai ada akad yang sah untuk menyentuhnya. Ini juga berkaitan dengan kegiatan ‘mengeksplor’ segala keindahan tubuh wanita, bahwa itu adalah ‘haram’. Wanita itu istimewa dengan segala keistimewaan yang melekat padanya.

Lalu, apa peran Ar-rijal? Dalam sisi bermuamalah/aspek pergaulan sehari-hari, posisi laki-laki adalah penjaga. Penjaga kemaslahatan. Dia adalah ‘pengingat’ berjalan ketika sang istimewa tadi melakukan kesalahan/sudah kelewat batas yang tentunya sudah tahu batas-batasnya. Dilihat dari sudut keluarga, Dia menjadi seseorang yang lebih dari penjaga. Dia adalah teman sehidup-semati bagi sang istimewa itu. Dia adalah ‘penghibur’ di kala kesedihan menghantui sang istimewa itu. Dialah yang ada di garda depan kehidupannya. Dan dialah sang Ar-Rijal.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rizmoon Zulkarnaen
Mahasiswa UGM

Lihat Juga

Fahira Minta Anak dan Perempuan Korban Kekerasan ‘Melawan’