Home / Pemuda / Essay / ‘Baju Baru’ Untuk Lebaran

‘Baju Baru’ Untuk Lebaran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

anak-anak-baju-koko-sarung-jilbabHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al-Baqarah: 183)

dakwatuna.com “Ummi…Hana mau punya baju baru buat lebaran…teman-teman Hana dah punya baju baru mi…”, kalimat seperti ini mungkin pernah mampir di telinga. Kita sering menjanjikan pada anak-anak, jika full puasanya maka diberikan hadiah baju baru untuk lebaran. Walau dalam kenyataannya, ketika anak tidak full berpuasa, para orangtua tetap menghadiahkan baju baru. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun tak mau ketinggalan mempersiapkan baju baru menyambut lebaran. Segala upaya dilakukan untuk menyediakan baju baru tersebut. Ada yang rela lembur kerja, menyisihkan sebagian tunjangan hari raya (THR), atau membobok uang dari tabungan. Pergi ke pasar atau pusat perbelanjaan walau harus berdesak-desakkan dan melelahkan. Ini demi anak dan keluarga tercinta.

Sah-sah saja bagi kita menyambut lebaran dengan baju baru. Begitu pula baju bersih dan rapih yang tidak baru lagi. Dalam berpenampilan yang lebih diutamakan yaitu berpakaian terbaik. Sebagaimana disampaikan dari Anas bin Malik ra., ia menceritakan “Pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, Rosululloh saw. memerintahkan kami untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki dan memakai wewangian terbaik yang ada pada kami, serta berkurban dengan binatang yang tergemuk yang kami punyai.” (HR. Al Hakim)

Hal terpenting pula dalam kita berpakaian (terutama kaum wanita) untuk bijak memilih pakaian. Tak sekedar mementingkan mode tapi pada dasarnya mengikuti kaidah Islam. Menutup aurat, menghindari berhias dan bertabarruj, serta tidak berlebih-lebihan, menjadi rambu kita berpakaian, sebagaimana Alloh berfirman

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

“Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku (bertabarruj) seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzab: 33)

Saat hendak menggunakan pakaian, sepatutnya juga kita memohon pada Alloh agar pakaian yang digunakan membawa berkah. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., dia menceritakan jika Rosululloh saw. memakai baju senantiasa berdo’a

“Ya Alloh, untuk-Mu segala puji, karena Engkau telah memberi pakaianku dengannya. Aku mohon kebaikan dan kebaikan dari apa yang dibuat untuknya. Dan aku berlindung dari keburukannya dan dari apa yang dibuat untuknya.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Imam Ahmad)

Baju lebaran, baju setelah kita menapaki bulan suci Romadhon. Selayaknya bukan hanya baju lebaran untuk fisik saja, tapi lebih dari itu. Baju taqwa lah bagi jiwa dan diri kita seutuhnya. Baju terbaik yang seharusnya kita rancang di bulan Romadhon ini. Mungkin kita dapat bercermin dari seorang anak asal Persia, Husein Tabataba’i. Diusia 7 tahun (1998), ia telah menjadi penghafal Al Qur’an dan dinobatkan sebagai Doktor cilik. Dalam suatu kunjungan ke Arab Saudi ia pernah ditanya oleh seorang jama’ah, “Apa pakaian yang kau sukai?” ia pun menjawab, “Pakaian taqwa itulah yang paling baik.” sebagaimana QS. Al-A’raf: 26,

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Jadi baju taqwalah yang patut kita sukai. Baju taqwa dalam ayat ini memiliki beberapa makna menurut ahli tafsir. Salah satunya, menurut Ibnu Jarir, Barang kali makna yang benar libas Taqwa ialah jiwa yang taqwa kepada Allah dia berhenti dari perbuatan dosa berusaha semaksimal mungkin mengamalkan perintah Allah.Yang demikian itu meliputi Iman, Amal sholih, Takut kepada Allah dan berwajah cerah sebab orang yang takut kepada Allah tentu dia beriman, mengamalkan perintah Allah senantiasa takut dan merasa diawasi

Jika demikian, sudahkah kita ‘menjahit’ baju taqwa kita selama Romadhon ini dengan iman, amal sholih, takut dan merasa diawasi Alloh, menjalankan perintah-Nya, dan berhenti dari berbuat dosa? Berapa banyak waktu kita isi dengan tilawah Al Qur’an? Menghindari tontonan yang sia-sia? Zakat, bersedekah atau berbagi untuk orang terdekat kita? Bermunajad dengan Alloh dalam tahajjud atau I’tikaf kita? Atau kita lebih banyak berinteraksi dengan ‘kotak pintar’ di rumah kita? Atau masih ada kaki-kaki ‘tak berbadan’ di warung makan saat siang hari? Atau berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan dibandingkan menghidupkan sepuluh malam terakhir? Maka layakkah saat kita menyambut kemenangan Idul Fitri dengan baju taqwa kita yang sudah kita ‘jahit’ selama bulan Romadhon ini?

Subhanalloh, Maha Suci Alloh, marilah kita merenungi sejenak. Alloh Yang Maha Agung telah mengatur kehidupan hamba-Nya dengan begitu sempurna. Kita sebagai hamba diwajibkan melaksanakan rukun puasa yang tidak sebatas sampai kata “qutiba a’laikumush shiam…” (diwajibkan atas kamu berpuasa), yaitu berpuasa menahan lapar dan dahaga saja. Tapi berlanjut hingga “laa’llakum tattaqum…” (agar kamu bertaqwa). Hal ini menandakan puasa mengajarkan kita menahan lapar dahaga juga mengelola hawa nafsu serta mengisi Romadhon dengan amal sholih hingga berujung manis pada ketaqwaan.

Selepas Romadhon, Idul Fitri pun menyambut. Hari raya Idul Fitri adalah saat-saat ummat Islam mensyukuri kesuksesan melaksanakan ibadah Romadhon. Ia adalah hari berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin ketika berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan kepercayaan terhadap janji-Nya untuk mendapatkan anugerah dan ampunan-Nya. Saatnya pula untuk kita mengenakan ‘baju taqwa’ saat Idul Fitri dan bulan berikutnya. Jadi sudahkah kita mempersiapkan baju baru untuk lebaran? Wa Allohu a’lam.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 2,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.

Lihat Juga

anak-di-rusia-bicara-7-bahasa

(Video) Luar Biasa, Anak Kecil Ini Mampu Bicara Dengan 7 Bahasa