00:07 - Minggu, 20 April 2014

Hikmah di Balik Kudeta Mursi

Rubrik: Opini | Kontributor: Zaenal Muttaqin - 12/07/13 | 09:45 | 05 Ramadhan 1434 H

pendukung mursidakwatuna.com - Dunia dikejutkan dengan Kudeta Militer terhadap Pemerintahan Mursi, yang terpilih secara demokratis dalam Pemilu Mesir tahun lalu. Barat dan Amerika yang sejak semula mengkampanyekan akan keindahan system Pemerintahan berazaskan demokrasi, seolah menutup mata dan terkesan membiarkan, bahkan disinyalir AS memberikan arahan dan restu atas kudeta inkonstitusional ini.

Yang mengejutkan lagi, ternyata pihak-pihak yang terlibat secara aktif dalam pesta kudeta yang dimotori militer itu bukan saja pihak-pihak yang selama ini anti terhadap kubu Islamis yang ditampilkan Mursi. Partai An-Nur dan syabab Tahrirpun terlihat serius ikut membidani dan mensukseskan kudeta ini, dan sungguh mengejutkan, dua tokoh penting keagamaanpun ikut merestui lahirnya kudeta itu, yaitu Syaikh Besar Al-Azhar dan Uskup Agung Kristen Koptik Mesir.

Kudeta itu dirancang sedemikian rupa untuk menimbulkan pencitraan kepada public, bahwa memang Mursi benar-benar tamat, dan ide yang tertuang dalam scenario ini dikampanyekan ke seluruh dunia melalui media yang sejak awal masih terlihat memiliki hubungan kuat dengan pemerintahan rezim Mubarak dan respectable terhadap kepentingan AS dan Barat.

Komoditas yang dipasarkan dalam kudeta itu adalah membentuk pemerintahan baru Mesir bersama yang demokratis dan akomodatif terhadap seluruh elemen kehidupan di Mesir, yang menjunjung tinggi HAM dan demokrasi terbuka.  Road Map ini bertujuan memberikan gambaran kepada dunia akan masa depan Mesir paska kegagalan pemerintahan Mursi dalam masa setahun silam.

Ada sejumlah fakta yang perlu menjadi sorotan tajam atas kasus dan isu yang diusung dalam kudeta militer itu, setidaknya adalah sebabagi berikut.

  1. Standart Ganda. Inilah wajah asli dari kemunafikan AS dan Barat dalam memaknai demokrasi yang mereka pasarkan itu, yaitu demokrasi semu dalam bingkai, restu, arahan, dan sejalan dengan kepentingan mereka. Ketika produk dari demokrasi itu tidak sesuai dengan kepentingan mereka, maka mereka tidak segan segan untuk mengkhianatinya tanpa rasa malu sedikitpun. Sebenarnya sikap seperti ini dilakukan oleh AS dan Barat bukan hanya kepada dunia Islam, tapi kepada Negara atau kekuatan lain yang tak sejalan dengan kepentingan mereka, baik ditilik dari sudut kepentingan ekonomi, politik, maupun ideology.
  2. Pragmatisme Agenda Politik Rebutan Kue Jabatan. Terkuak hanya beberapa jam setelah kudeta itu, bahkan masterplan kudeta itu telah memetakan beberapa pos jabatan tertentu kepada para peserta kudeta, hal ini persis seperti yang dikeluhkan oleh Partai An-Nur, yang kemudian juga menjadi pembahasan serius oleh para actor kudeta itu. Bab inipun menjadi isu dominan yang seru paska kudeta, yang berbuntut perpecahan dalam koalisi peserta kudeta. Partai An-Nur kemudian menyampaikan pengunduran dirinya (setidaknya pengunduran diri ketua partainya) dari koalisi peserta kudeta setelah mereka merasa dikhianati.
  3. Manipulasi Fakta. Informasi yang diterima public Mesir merupakan dramatisasi dan festivalisasi bebrapa kasus yang telah dimanipulasi, sehingga mengesankan pencitraan yang buruk terhadap jalannya roda pemerintahan Mursi. Beberapa Isu itu adalah menyangkut upaya Ikhwanisasi Pemerintahan Mesir oleh Mursi, Mursi menutup pintu dialog terbukti dengan lahirnya Dekrit Presiden, kegagalan Mursi dalam mengendalikan perekonomian Mesir, dan kegagalan Mursi dalam mengendalikan keamanan Mesir, dsb. Isu inilah yang kemudian dipublikasikan secara dramatis oleh media, denga memelintir dan mengabaikan hal yang sesungguhnya terjadi dilapangan. Terhadap isu yang pertama, bahwa adalah hal yang wajar apabila kemudian anggota parlemen Mesir didominasi oleh kader ikhwan , karena memang pada kenyataannya mereka memenangkan pemilu secara mengejutkan dengan perolehan suara hingga 40 % lebih, dan dibidang kementrian juga adalah hal yang lumrah bila kemudian beberapa jabatan kementrian dipegang oleh kader ikhwan, sebagai konsekkuensi dari realitas politik dalam dunia demokrasi. Mursi dianggap anti dialog/demokrasi, padahal sebelumnya Mursi telah mengajak para oposisi untuk duduk bersama dalam menyelesaikan kasus yang berlarut-larut (Penyelesaian kasus hukum Husni Mubarak dan kroninya dalam pelanggran HAM dan korupsi, yang kemudian ditelikung oleh pihak judikatif; Pembangkangan terselubung pihak militer, dan mengarah pada kudeta) namun pihak oposisi menolak, dan kemudian ketika Mursi mengambil langkah berani dengan mengeluarkan dekrit, dengan tujuan untuk menegakkan supremasi dan kepastian hukum, maka sejalan dengan itu mereka menyebut Mursi sebagai anti dialog, otoriter dan menempatkan diri sebagai dictator baru. Ada upaya yang disengaja untuk mengesankan bahwa Mursi gagal mengendalikan perekonomian Mesir, salah satunya adalah rekayasa terhadap melambungnya harga BBM. Upaya ini dilakukan dengan dua hal, yaitu para kroni Mubarak membeli BBM dalam jumlah banyak dan menimbunnya tidak untuk dijual, dan disisi lain mereka membocorkan pipa pipa saluran BBM secara besar-besaran. Untuk kasus ini kemudian Mursi mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi pencabutan hak izin kepada mereka yang nakal, dan mengambil alih operasi SPBU oleh Negara untuk kepentingan rakyat. Kegagalan Mursi dalam mengendalikan keamanan ditandai dengan berbagai cara, diantaranya dengan serangan dan penangkapan terhadap beberapa anggota plisi Mesir, pemerasan, penyerangan dan penyanderaan terhadap para turis yang berkunjung ke tempat wisata Mesir. Untuk kasus ini sesungguhnya Mursi telah berhasil membebaskan tawanan tanpa pertumpahan darah, adalah sebuah prestasi negosiasi yang sangat baik. Semestinya public dapat memahami kenyataan sulit yang menyandera Mursi, bahwa meskipun Ia berkuasa dizaman baru, namun para birokrasi yang dipimpinnya masih merupakan orang-orang lama, warisan rezim Mubarok yang bobrok dan tak mau gampang berubah, dan bahkan cenderung melakukan perlawanan terhadap Mursi dan kebijakannya, dan sangat berpotensi melakukan kudeta. Kenyataan ini pula yang kemudian menyebabkan banyak hal yang telah direncanakan Mursi, tak mungkin atau akan sangat sulit dicapainya hanya dalam waktu satu tahun masa pemerintahannya. Melihat sisi kenyataan itu, yang sekaligus merupakan peta kelemahan Mursi, maka pihak oposisi, dan asing, akhirnya berhasil membujuk rekan koalisi Mursi untuk  bersama-sama militer mengkudeta Mursi, setelah sebelumnya mereka telah berhasil menciptakan opini dan pembusukan terhadap Mursi dan pemerintahannya melalui media secara besar-besaran. Bahkan ketika demo kudeta tengah berlangsung, sesungguhnya masa anti Mursi hanyalah bagian kecil dari masa pendukung Mursi, namun akibat peran media yang diskriminatif, akhirnya public dusuguhkan manipulasi data. Yang lebih mengerikan lagi bahwa kemudian masa anti Mursi dalam demo mereka melakukan berbagai aksi kemaksiatan, mulai dari mabuk-mabukan, melakukan tindak criminal, melakukan pengrusakan, pencurian, perampasan, pemerkosaan terhadap wanita-wanita hanya karena mereka diindikasi pro Mursi, dan pembunuhan terhadap pendemo pro Mursi secara biadab. Kemudian semua kenyataan buruk dan biadab yang dilakukan oleh pendemo anti Mursi tersebut, diberitakan oleh media secara terbalik, yaitu dilakukan oleh anggota Ikhwanul Muslimin atau oleh pendemo pro Mursi. Yang lebih menggelikan bahwa beberapa orang atau jamaah harakah Islamiyyah tertentu karena kecemburuan dan kebenciannya kepada IM, justru mereka mengimani semua informasi sesat dari media sesat itu, melebihi kepercayaan mereka terhadap kader IM yang selama ini terlihat santun, arif, soleh, dermawan, dan demokratis.
  4. Fenomena Pengkhianatan. Ini terlihat jelas pada sikap Jenderal Abdul Fatah As-Sysisi, perwira muda yang diangkat Mursi untuk mengamankan kekuasaannya, justru berbalik melakukan kudeta. Pengkhianatan berikutnya ditandai dengan turut andilnya Partai An-Nur, Kristen Koptik yang semula menjadi bagian dari koalisi pemerintah, yang kemudian terjun secara aktif menjadi actor aktif dalam kudeta militer ini. Dan masih ada pihak lain yang ikut berkhianat, namun tidak berani menampilkan diri secara lugas.
  5. Pembuktian Misi Kejujuran, Ketulusan, dan Kesabaran. Hikmah lainnya yang juga sangat menarik dari peristiwa kudeta militer terhadap pemerintahan Mursi adalah agar dunia dan ummat Islam mengetahui, siapa yang benar-benar berjuang untuk rakyat dan bangsa Mesir, untuk Izzul Islam wal Muslimiin; dan siapa pula yang munafiq, serta siapa pula yang hanya menggunakan atau mengatasnamakan Islam untuk kepentingan politik dan kelompoknya sendiri. Mereka yang keras kepala, merasa paling pintar, merasa paling benar, dan sangat fanatic terhadap kelompoknya sendiri, dengan aroma ambisinya menebar kebencian, dan terror dengan menempatkan IM dan Mursi sebagai objek kebencian dan terror itu, tanpa memandang sisi-sisi positif dan kebaikan mereka. Peristiwa ini mengingatkan kita akan fenomena kaum Khawarij dimasa awal kenabian, agaknya mulai hidup dan muncul kembali di masa kini. IM terus bersabar dalam komitmen mereka untuk melakukan aksi damai, meski kader-kader mereka dicederai, difitnah, dan dibantai oleh pendemo anti Mursi dan ditembaki oleh militer secara brutal. Kudeta ini juga menjadi sebuah peristiwa yang memisahkan antara mutiara dan imitasi, antara iman dan kemunafikan, antara ketulusan dan ambisi, dan antara kesabaran dan ketergesaan. Bahkan yang amat menggelikan, ada kelompok yang menamakan dirinya Gerakan atau Partai Pembebasan, ulama mereka menyerukan kudeta karena Mursi bukanlah mewakili Islam dan pemerintahannya yang berdiri diatas pilar demokrasi adalah batil, yang oleh karena wajib ditumbangkan sehabis-habisnya, dan kemudian mereka menganggap bahwa menumbangkan Mursi adalah awal dari misi suci (jihad fi sabilillah) dalam menegakkan Kekhilafan Islam yang mulia. Entah Islam yang mana yang sedang mereka perjuangkan, dan entah kebenaran mana yang sedang mereka usung, yang kemudian berujung pada peristiwa yang memilukan dan menodai kesucian arti dan makna Islam itu sendiri. Kudeta itu telah memberi warna dan kemudian telah memisahkan terhadap pihak yang baik dari pihak yang buruk, membuat polarisasi sesuai ragam karakter manusia sesuai gambaran Qur’an Surat Al-Baqoroh, kedalam beberapa ragam kelompok manusia, mulai dari Mukmin, Munafik, dan Kafir.
  6. Tentu masih banyak Hikmah lainnya yang tidak dapat penulis ungkap dalam tulisan ini, semoga ada manfattnya. Wallaahu a’lam bish-showab.

Redaktur: Aisyah

Topik:

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 7,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • abu jihad

    seleksi alam memisahkan masing2 karakternya ..

Iklan negatif? Laporkan!
56 queries in 1,113 seconds.