Home / Berita / Silaturahim / Surat Cinta dari Negeri Erdogan, “Kepada Sang Pengejar Ilmu”

Surat Cinta dari Negeri Erdogan, “Kepada Sang Pengejar Ilmu”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/06/2013-01-05-12.29.02-320x240.jpg" alt="Masjid Tua Haji Bayram Kota Ankara [dibangun 15 abad yang lalu], yang tidak pernah sepi dari jamaah shalat." width="320" height="240" /> Masjid Tua Haji Bayram Kota Ankara [dibangun 15 abad yang lalu], yang tidak pernah sepi dari jamaah shalat.
dakwatuna.com –  “Rasanya teringat masa-masa di Indonesia saat aku berlarian melawan hujan untuk menghadiri kegiatan belajar mengaji pekanan di sebuah rumah kakak berjilbab. Entah kekuatan apa yang membuatku melupakan suara dan menentang derasnya hujan demi berjumpa dengan kakak berjilbab lebar itu.”

Itu kejadian 7 tahun yang lalu. Saat aku baru mengenal seorang muslimah yang biasa di beri label akhwat, seorang dosen berjilbab lebar di kampus-ku. Entah kekuatan apa yang membuat aku begitu mencintainya dan selalu merindukan pertemuan dengannya.

***

Hari ini Kota Ankara dengan matahari terbaiknya bersinar sempurna panasnya. Memancar pada poros ubun-ubun yang mampu membawa terbang pada ingatan berlarian mengejar angkot Ibu kota di ujung pulau Sumatera Indonesia sana.

Duduk di dalam otobus dengan tembus pancaran suhu 36 derajat dari balik kaca jendela adalah hal yang istimewa di Kota Erdogan ini, meski tidak ada yang lebih istimewa selain peluh haru melihat hangat pertemuan dua kakek saling berpelukan di dalam otobus, “Sen otur, ben kalkarim.” Duduklah, biarkan saya yang berdiri. Begitu percakapan hangat itu di mulai dari seorang kakek bertubuh lebih mungil meminta temannya yang baru masuk untuk duduk di kursinya.

***

Bila saja jarak adalah ibarat benteng yang tidak bisa ditembus karena kokohnya, tidaklah akan ada tercatat kekuatan azam yang kokohnya mampu memecahkan dinding-dinding langit sejarah peradaban “aku ingin membuat meriam terbesar dalam sejarah yang mampu memecahkan dinding Konstantinopel.” [Sultan Al-Fatih II]. Bila di sana ada se milyar alasan untuk tidak bertemu dengan penabur cinta pada pertemuan cinta dalam pekanan, maka tidak begitu dengan teguhnya azam “Aku tidak akan mati sebelum menaklukkan kota.” [Sultan Al-Fatih II]

Jarak adalah titik kecil dari satu atau dua garis yang sambungannya tidak bisa dilihat, tapi bisa kita rasakan secara sederhana. Seperti sinar matahari yang jatuhnya pada kulit tidak ter jamah oleh mata, tapi panas dan hangat mentari nya menabur dengan sempurna.

Adakah pertemuan yang tanpa wajah dan jabat tangan? Maka adalah pertemuan kami yang tanpa berjabatan jasad. Adalah sebuah pertemuan yang wajahnya tidak bisa aku jamah, yang tangannya tidak bisa aku sapa dengan telapak tanganku, yang ayunan ujung jilbabnya tidak bisa aku lihat dengan mataku. Yang tawanya tidak bisa aku sambut dengan mataku. Dan meski begitu, pertemuan itu seperti kami sedang duduk saling berdampingan, atau saling berhadapan. Mendengarkan sudah berapa banyak hafalannya pekan ini, sudah berapa Juz ia tuntaskan pekan ini, sudah berapa Dhuha dan Qiyamulail yang berhasil ia menangkan pekan ini. Sudah apa dan apa pekan ini.

Adalah pertemuan yang kami saling rindu bertemu wajah dan bisa saling bergandengan, saling membimbing. Adalah pertemuan yang pada pekannya selalu diakhiri dengan do’a-do’a kerinduan semoga segera kami dipertemukan. Adalah pertemuan yang didalamnya ada semangat yang kokohnya ku dudukkan bersama azam Penaklukan Kota bersejarah. Maya adalah sahabat kami menaklukkan  jarak yang membentang di antara kami di negeri ini.

Adalah adik-adik ku, yang membuat aku ingin sampaikan kabar Semangat dari negeri Penaklukan. Adalah adik-adik ku yang berjalan mengabaikan panas, menembus peluhnya Kota-kota Turki pada Yaz di musim panas, meninggalkan teduh nya berbaring di sofa dengan sebotol jus lemon yang manis, meninggalkan nyenyak nya tidur dengan mendengar nasyid atau berbincang ringan dengan ranum nya buah elma di tangan, meninggalkannya demi mencari jaring-jaring sinyal WIFI gratis di kampus.

Adalah adik-adik ku yang lembur belajar hingga larut malam dan kembali bangun pagi untuk bertemu pada lingkaran kecil yang kami beri nama Halaqah [pertemuan]. Adalah adik-adik ku yang ketika sampai di kampus mencari Wifi gratis pustaka dan sayang sekali di sana di larang bersuara, maka kami hanya bisa membaca kerinduan di antara kami melalui ketikan-ketikan jari tangan, lewat bait-bait huruf saja.

Adalah adik-adik ku yang ketika menemukan jaringan gratis dan kenyataannya harus kembali menjumpai jaringan sedang tidak beroperasi, maka sekali lagi kami tidak memiliki pilihan selain memenuhi pertemuan itu dengan telepon tanpa kabel.

Aku ingin kabarkan kepada saudaraku di tanah air, sebuah kisah ketika berdirilah sang pengejar ilmu berjilbab sederhana di belakang kampus 4 tahun yang lalu, menahan dan mengokohkan hati ketika terpaksa harus menutup jilbabnya dan menggantikannya dengan WIG [Rambut Palsu] ketika akan mengikuti kelas-kelas perkuliahan, karena larangan berjilbab di kampus-kampus di pelosok negeri tempatku menuntut ilmu. Di sana berdirilah sang pengejar ilmu berjilbab sederhana menahan gelombang gerimis di hatinya ketika harus menahan diri terpaksa tidak lulus mata kuliah karena menutupi jilbabnya dengan memakai wig dan tidak mau melepas jilbab.

Itu 4 atau lima tahun yang lalu. Dan kini kebangkitan itu telah terbit dengan pilar-pilar buah manisnya keteguhan para sang penakluk negeri. Telah kembali mekar nya Adzan di bumi para Penakluk. Lihatlah semangat-semangat yang ter percik untuk mempelajari Islam yang gelombang nya juga mengalir dari kaki-kaki pengejar ilmu dari Timur, tanah air merah putih. Seperti sebuah semangat kebangkitan Islam negeri  Erdogan yang kelas-kelas kursus musim panas membaca Al-Qur’an di buka hampir di semua kota. Seperti semangat kebangkitan Islam negeri  Erdogan yang setiap Jum’at aku dapati masjid-masjid meski metro di bawah tanah selalu dipadati jamaah shalat Jum’at berjamaah.

Sekali lagi ini kota Atarturk Kemalis. Tapi saksikanlah semangat kebangkitan Islam yang tumbuhnya mekar nya teduh-teduh rimbunnya, seperti rimah-rimah getar nya suara adzan yang suaranya melambung sempurna di Fajar kota Erdogan ini.  Aku berharap kita pun akan menjadi bagian pembawa bendera-bendera kebangkitan Islam itu. Insya Allah. (sbb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Departemen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jambi. Menekuni bidang konseling, parenting dan education khususnya psychology anak dan remaja. Founder bidang pemberdayaan masyarakat dan entrepreneurship Suku Anak Dalam Jambi. Menghabiskan waktu dengan menulis, membaca, belajar, musik, photography, bahasa dan travelling. Saat ini tercatat sebagai pengurus pusat MITI Mahasiswa [Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia] Hubungan Luar Negeri dan pengurus Hubungan Masyarakat Lembaga Kajian Masyarakat Indonesia Turki. Inisiator dari FLP Turkey ini juga tercatat sebagai sekretaris umum FLP wilayah Turki yang saat ini tercatat sebagai Master Student Education of Psychology Ankara Universitesi, Turkey.

Lihat Juga

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Islammemo.cc)

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris

Organization