Home / Pemuda / Cerpen / Oh… Ternyata Dia Adalah Ketuaku

Oh… Ternyata Dia Adalah Ketuaku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Aku pernah bertemu dengannya sebelum hari itu terjadi. Aku juga tidak faham bagaimana hal itu bisa terjadi. Pertemuan dengannya seakan begitu cepatnya melesat bagai busur panah yang lepas dari panahannya.

Namanya abdul, abdul seorang anak yang cerdas, tegas, dan wajahnya tampan kelahiran Lhouksumawe provinsi NAD. Seorang anak yang dulunya aku kenal sangat menyebalkan, cuek dan penuh emosi dan merasa dirinya selalu benar tanpa bertanya sesuatu hal tentang apa yang dilakukan dirinya kepada orang lain. Sedangkan aku bernama Nabilah. Aku dikatakan orang adalah anak yang cuek, serius dan terkadang bisa lucu dan jarang tersenyum, padahal ya.. menurutku sendiri aku orangnya care walaupun terkadang juga cuek kalau lagi ngurusin kerjaan yang banyak dan dikejar deadline seakan dunia milik sendiri. Serius, hmmmm..kalau ini ada benarnya juga, tapi aku selipkan bahan bercandaan agar tidak terkesan terlalu serius jadinya. Jarang tersenyum,..jelas saja aku tak mau senyum duluan karena khawatir salah orang, maklum juga aku menggunakan kacamata yang minusnya sudah mencapai 2. Dari penglihatanku ketika tidak menggunakan kacamata sangatlah tidak mendukungku untuk bisa melihat orang dalam jarak yang lebih dari 2 meter. Sampai juniorku bilang, “idih, kakak nih..awak udah senyum selebar mungkin tetap aja kakak nunduk dan gak bales senyuman awak”, tukas windy salah satu juniorku. “jelas aja kakak gak senyum dek, kakak kan gak pake kacamata. Kakak pake kacamatanya waktu mau kuliah aja itu pun karena papan tulis dah gak kelihatan lagi apa bacaannya”, jelasku kepadanya sambil tersenyum diawal penjelasan tentang kekuranganku.

Aku masuk organisasi di dalam kampus dan di luar kampus dan aku temukan sesosok laki-laki yang super cuek itu tergabung di dalamnya. Aku tadinya belum mengenalnya dengan baik. Setelah 1 tahun aku berkecimpung di organisasi luar kampus dan dia adalah ketua departemennya. Terus terang saja aku juga mendapatkan posisi sebagai seorang sekretaris juga di organisasi di dalam kampus, dengan ketua yang berbeda yaitu teman satu jurusan dan satu angkatan denganku. Dua posisi yang strategis, namun aku lebih menguasai dan tertarik dengan amanah yang ada di dalam kampus karena sesuai dengan keahlianku sedangkan di luar kampus, aku mendapat amanah yang sama sekali tidak aku sukai. Dari dua amanah tersebut, jelas aku tidak bisa memegang keduanya karena bisa merusak kepengurusan ketika berjalan. Aku memutuskan memilih salah satunya agar bisa berjalan maksimal. Sedangkan di dalam kampus aku meminta kepada Dewan Pembina agar aku diangkat sebagai anggota saja yang bisa juga memberikan kontribusi yang sama porsinya, walaupun peranku tidaklah terlalu besar.

Di awal kepengurusan bersama dengan ketua yang satu itu, si Abdul aku sangat berang melihatnya karena kecuekannya denganku yang aku juga tidak mengerti mau jadi apa ketika ketua dan sekretaris selalu berantam atau bertengkar. Setiap hari, ada saja kelakuannya yang membuatku jengkel, marah dan kalau lagi kesal sms dan telponnya tidak pernah aku hiraukan apa yang dikatakannya, itu salah satu sifat kekanak-kanakan ku yang buruk.

Seiring waktu berjalan, aku ibarat sahabat baginya. Setiap saat selalu sms-an terkadang membahas tentang persiapan rapat, persiapan program kerja yang akan berlangsung dan terkadang ngalur ngidul entah ke arah mana. Aku juga mendapat julukan darinya yaitu tomat dan aku juga julukin dirinya melon. Tadinya aku gak pernah suka dan menerima kehadiran yang namanya melon Karena rasanya hambar dan menurutku ya.. memang tidak enak, tapi aku suka tomat karena bisa dibuat jus ala nabilah dengan di rendam dengan air panas, dikupas kulitnya dan di beri gula pasir sedikit, akan terasa lebih yummmi…serrr.

Karena aku dan abdul  setiap harinya selalu berkomunikasi apapun itu, kalau satu hari saja tidak ada sms-an dan bertengkar seperti ada yang kurang rasanya. Lama kelamaan aku memiliki rasa padanya karena intens untuk berkomunikasi dan satu sama lain sudah mengetahui jelas karakternya masing-masing dan sudah bisa mengontrol emosinya masing-masing. Abdul yang tadinya cuek yang membuatku berang selalu ketika berhadapan dengannya, kini menjadi seseorang yang sangat menyenangkan bagiku karena aku punya teman yang mengerti keadaan diriku. Di lain tempat ternyata aku mengetahui hal yang sama dari temanku yang juga laki-laki, ia mengatakan bahwa abdul sampai curhat kepada temannya Cipto bahwa dirinya juga memiliki hati juga padaku dan temanku pada saat itu Handi ada disana pada saat abdul bercerita panjang lebar. Langsung saja si Handi mengintrogasi diriku, “ada apa dengan kalian?, dan aku pernah membaca sms dirimu di hpnya abdul pada saat aku meminjam hpnya yang abdul memanggil dirimu dengan sebutan tomat dan dirimu memanggil abdul dengan sebutan melon. Sontak, hatiku mengatakan “tidak ada apa-apa dan perasaan apa-apa yang terjadi antara kami berdua, kami hanya berteman dan sebagai seorang ketua dan sekretis biasa saja. Di luar dari amanah ya, hanya komunikasi biasa aja sebagai seorang teman dan gak lebih. Dag..dig..dug ser, akhirnya masalah ini pun berakhir dengan adanya konfirmasi dari ku dan dari abdul.

***     4 tahun kemudian     ***

Aku sudah merantau di kota lain, sedangkan abdul aku tak tahu kabarnya lagi karena selepas tidak menjabat di departemen yang sama komunikasiku pun sudah tidak ada lagi ke abdul begitu juga sebaliknya. Aku mendapatkan studi S-2 di UGM untuk jurusan Fisika Nuklir dengan banyak kegiatan kuliah dan mengajar juga. Alhamdulillah aku mengajar Science SD dan SMP di Pesantrennya Ustadz Yusuf Mansyur yang ada di Yogyakarta. Karena kesibukanku yang padat, aku sempatkan jalan-alan ke toko buku dan terkadang ke rumah teman untuk Silaturrahim.

Ahad pagi, aku berencana mengelilingi Malioboro untuk mencari beberapa keperluan. Dari kejauhan aku melihat sosok seseorang yang aku kenal wajah dan suaranya. Dia sedang asyiknya menikmati berbagai kerajinan tangan dan sambil juga menikmati santapan yang khas ala Yogya yaitu Sego kucing. Langsung saja aku menghampirinya dan menyapanya, “ehem ehem, assalamu’alaikum ustad lagi ngapain dan sejak kapan ada disini?” Tanya ku kepadanya dengan wajah tersenyum karena bertemu saudara satu kampung di Yogyakarta. Obrolanku dan abdul panjang karena sudah lama tidak bertemu dan kami pun saling bertukar nomor Hp karena tidak lagi menggunakan nomor yang lama.

2 minggu kemudian ada telpon masuk yang aku tidak mengenal siapa yang menelpon karena nomornya tidak ada di list kontak.

“Assalamu’alaikum, apakah ini dengan Nabilah”, suaranya dari kejauhan menyapa diriku.

“Ia benar, maaf ini siapa ya? Tanyaku tentang kejelasan siapa yang sedang berbicara denganku.

“Saya Abdul dari Medan”, jawabnya.

“Oh Abdul, bagaimana kabarnya, sudah dimana sekarang dan bagaimana kabar keluarga di Medan?”, Tanyaku panjang padanya.

“Wah, banyak sangatlah pertanyaan nabil ini”, jawabnya.

“hehe”, sambungku.

Setelah lamanya basa-basi dengan kabar dan lain hal tentang aktivitas, abdul mulai berbicara serius dengan nada suara yang serius tanpa ada candaan lagi.

“Nabil, saya boleh bertanya sesuatu pada dirimu?, tapi kamu harus menjawab pertanyaan saya ya?”, tanyanya.

“Ok boleh, kalau pertanyaannya perlu jawaban saya akan menjawabnya, jika tidak ya… saya juga tidak bisa memberi jawaban pada dirimu” jawabku masih dengan bercandaan juga.

“Apakah kamu sudah siap menikah? Apakah kamu sudah punya calon dan sudah punya ikatan dalam waktu dekat ini?”, tanyanya.

Wah, jantungku terasa mau copot karena digilir dengan pertanyaan yang seperti halilintar menyambarku dan secara bergiliran menyerangku.

“eeee, mau tau banget atau mau tau aja?” Candaku lagi.

“Mau tau banget?” jawabnya.

“Saya jawab ya.., saya sudah lama mencari pendamping hidup melalui teman dan ustadzah, namun belum ada jawaban sampai sekarang. Entah kendala apa itu yang ada. Jadi pertanyaan kamu sudah saya jawab semuanya sekaligus”.

“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu”.

“Ada apa rupanya?”, Tanya ku polos.

“Berarti sasaran saya bisa langsung di tembakkan ke arah yang dituju ya”? Tanyanya lagi.

“Maksud kamu?”

“Saya ingin segera menyempurnakan separuh dien ini, namun permaisuri hatiku ini masih berlabuh di dalam hati saja. Saya belum bisa mengatakan perasaan sebenarnya pada orang yang tepat. Saya sedang mecari Ibu dari anak-anak saya nantinya dan sampai sekarang, saya belum bertemu dengannya dan merancang masa depan. Mendengar ungkapan status kamu itu, bersediakah kamu, jika saya datang ke rumah untuk melamar”? tanyanya dengan penuh semangat membara dan to the point pada sasaran.

“Hemmmmmmmmmm, kasih tau gak ya?? Hehe”, jawabku yang tidak serius juga.

“Kasih tau donk”, sambutnya.

“Baiklah, kalau benar-benar penasaran, saya akan menerima seseorang dengan beberapa persyaratan : dia harus hafal 2 juz ayat Al-Qur’an, pekerjaannya tetap, bersedia untuk membina keluarga agar menghafal al-Qur’an dan juga menggunakan kaca mata. Itu syarat dari saya”.

“Alhamdulillah, syarat-syarat yang kamu ajukan sudah ada di diri saya”. Dari kejauhan, wajahku tersenyum dan di dalam hati bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah.

“Jadi bagaimana neng, jawabannya?”.

“Hemm hemmm”, aku seakan kehabisan kata-kata karena semua syaratnya sudah dipenuhinya dan aku tidak ada kata untuk menolaknya lagi, apalagi aku juga pernah ada hati ke abdul..aku diam beberapa lama.

Dan abdul kembali bertanya, “bagaimana bil? Apakah kamu tidak suka pada saya atau ada hal yang tidak kamu suka dari saya? Atau jawab diammu menandakan setuju untuk lamaran saya?”.

“Hemmmmm”, hela napasku panjang. “iya Alhamdulillah saya tidak bisa……..”,

“tidak bisa menerima lamaranku bil? Apa yang salah dengan saya?”, jawabnya langsung cerocos tanpa ada spasi dan memberikan peluang untukku menyambung perkataanku.

“Saya belum selesai bicara, kamu semangat banget sih…”

“Saya tidak bisa………..”, aku memberikan jeda agar ia semakin penasaran lagi.

“Tu kan.. kenapa berhenti? Serius donk bil”.

“Ok, oke, saya tidak bisa…untuk… menolak kamu abdul, jujur saya pernah ada hati ke kamu dan tidak ada alasan saya untuk menolak dirimu karena semua persyaratan bisa kamu penuhi” jelasku padanya.

“Alhamdulillahi robbil ‘alamin..”, suara yang lantang dan sangat senang itu kembali aku dengarkan dari kejauhan dan beberapa menit aku tidak mendengar suaranya lagi karena ternyata ia melakukan sujud syukur atas jawaban yang aku sampaikan. Obrolan semakin serius dengan pembahasan yang serius pula merancang masa depan bersama. Seminggu setelah itu, keluarganya datang ke rumahku dan membahas lamaran dan persiapan akad nikah dan resepsi. Orang tuaku tidaklah orang yang terlalu suka bermewah-mewahan karena mereka sudah mengerti apa yang diajarkan oleh Rasullulloh SAW.

Setelah akad nikah, aku dan abdul banyak bercerita karena sudah lama tidak berkomunikasi semenjak lulus kuliah dan ternyata ketuaku adalah suamiku…oho..oho..oho. bercerita masa-masa kuliah, rapat dan tentang segala kelucuan dan kekanak-kanakan kita di sampaikan dan menjadi pengisi suasana di hari-hari kita. Tentang perasaan masing-masing yang dipendam dan semakin menambah keromantisan. Alloh memberikan bukan apa yang kita minta tapi Alloh memberikan apa yang kita butuhkan. Alloh tahu segala kebutuhan makhlukNya dan tahu kapan itu pantas harus terjadi. Rancangan Alloh sangat mengagumkan dan mencengangkan. Subhanalloh, walhamdulillah wa Allohu akbar.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nabilah Hurin
Guru SDN 4 Dendang Belitung.

Lihat Juga

Pernikahan - inet / arabe-media.com

Pembuktian yang Sebenarnya

Organization