Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Menembus Komunikasi dengan Tuhan

Menembus Komunikasi dengan Tuhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Doaku Tidak di KabulkanJudul: Doaku Tidak Dikabulkan

Penulis: Fahruddin Ghozy

Penerbit: DIVA Press

Cetakan: Pertama , Mei 2013

Tebal: 248 Halaman

ISBN: 978-602-7933-41-5

dakwatuna.com Memang tak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri, melainkan berdampingan satu sama lain, saling melengkapi, saling membutuhkan guna memenuhi keberlangsungan hidupnya. Selain itu hal lain yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan mereka adalah hijau kelabu problematika hidup yang selalu bermunculan dan mengalir deras hingga membanjiri ketenteramannya.

Disaat manusia diberikan kuasa mengatasi permasalahan tersebut, bisa dirasa betapa sedikit hikmah yang dipetik dari apa yang telah dialaminya karena tidak adanya rasa ketergantungan terhadap-Nya. Lain halnya ketika manusia itu telah mengerahkan kapabilitasnya semaksimal mungkin untuk segera merampungkan permasalahan tersebut, sedangkan Dia memiliki ketetapan lain. Maka seberapa besar perjuanggan yang telah dilakukannya tidak akan bisa mematahkan ketetapan-Nya.

Akhirnya satu-satunya jembatan yang dapat menuntunnya adalah lepas tangan dan bersimpuh penuh kepasrahan dihadapan-Nya. Dan di saat itu pula dia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tak memiliki kehendak untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri melainkan bergantung pada-Nya. Sehingga tahap awal langkah penyelesaiannya adalah pasrah dan berserah diri kepada Dzat yang Maha Kuasa itu, atau yang sering disebut dengan doa.

Eksistensi dan kehebatan doa bagi seorang mukmin bagaikan sebuah senjata yang sangat ampuh untuk menyelesaikan semua problematika yang menghadang dan mencoba menumbangkannya. Sebagaimana sabda nabi yang mengatakan bahwa doa adalah senjata bagi orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi. Tetapi sungguh dilema, dewasa ini sebagian bahkan kebanyakan orang yang mengaku dirinya mukmin ketika lama menunggu dan merasa tidak kungjung terkabulkan doanya sering kali menyangsikan doa.

Sebagai hamba yang baik, tentunya diharapkan agar tidak memiliki presepsi-presepsi buruk terhadap-Nya, bahkan menyangsikan-Nya lantaran beranggapan bahwa selama ini doa-doa yang di panjatkannya tidak pernah didengar dan diperhatikan-Nya. Ada banyak faktor yang berkaitan dengan doa yang harus kita kaji terlebih dahulu. Karena doa ibarat sebuah senjata, tidak sekedar menengadahkan tangan di hadapan-Nya kemudian memohon dan meminta penuh harapan agar dikabulkan sesegera mungkin. Itu semua adalah salah besar!

Seperti halnya senjata-senjata yang lain, keampuhan sebuah senjata tergantung pada seorang yang mengoperasikannya. Bukan hanya membutuhkan ketajaman saja dalam artian terus-menerus diasah dan dilakukan setiap hari atau “konsisten” dalam mencapai tujuannya, melainkan kekuatan lengan yakni “keyakinan yang kuat” untuk mengayunkan senjata adalah suatu kebutuhan yang saling melengkapi.

Berdoa tidak sama dengan melafalkan mantra berkomat-kamit layaknya mbah dukun yang bisa diucapkan begitu saja tanpa mengetahui dengan jelas artinya. Berdoa juga tidak seperti seorang yang sedang tidur kemudian mengigau tak jelas dengan mengucapkan kata-kata diluar kesadarannya. Tetapi doa adalah salah satu dimensi spiritualitas yang tinggi dalam sebuah hubungan ikatan komunikasi antara seorang hamba kepada Dzat Agung yang telah menciptakan-Nya.

Di dalam substansi doa, juga terkandung berbagai unsur keruhanian yang seharusnya bisa dirasakan oleh orang yang sedang memanjatkan doa. Ibarat sebuah komunikasi, doa merupakan sebuah komunikasi yang sangat urgen, sehingga setiap kata yang terucap harus benar-benar dipahami betul dan dipertimbangkan dengan matang-matang, bukan sekedar kelakar tanpa makna yang terucap dari segerombolan seorang yang sedang kehilangan akalnya.

Selain itu hal yang perlu diperhatikan setiap kali memanjatkan doa adalah seorang yang berdoa seharusnya berkonsentrasi penuh, memfokuskan apa yang sedang diucapkannya, serta berusaha melibatkan hati agar doa tidak terasa kering dan hampa. Namun, bila ia berdoa dengan bahasa yang tidak dipahaminya dan hanya bermodalkan dengan hafalannya, sebagaimana akhir-akhir ini yang banyak terjadi dikalangan orang awam. Maka, dapat dipastikan sulit baginya untuk mennghadirkan hati dan kekhusukan tatkala bermunajat dengan-Nya.(hal 41-42)

Melalui buku “Mengapa doaku tidak dikabulkan juga ya?”, karya monumental dari Fahruddin Ghozy, telah mengupas tuntas mengenai eksistensi doa seorang hamba. Buku setebal 248 halaman ini juga terbagi dalam beberapa bab yang tertata dengan rapi sehingga dengan pembagian tersebut dapat memudahkan pembaca dalam mencari sebuah topik pembahasan yang di maksudnya. Selebihnya buku ini juga dilengkapi penjelasan mengenai kapan waktu-waktu mustajab untuk berdoa itu berada dan etika ketika seorang hamba berdoa. Bahkan yang menjadikan buku ini tampak berbobot adalah penyertaan dalil-dalil akurat yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits serta argumen-argumen para ulama.

Buku ini layak dibaca oleh akademisi yang sedang menjajaki dunia perkuliahan, pebisnis dalam menjalankan usahanya, seorang karyawan, bagi pelajar dalam segala tingkatan, dan siapapun tanpa terkecuali. Selamat membaca!

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pegiat Farabi Institut, anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus