Home / Berita / Opini / Galau PKS versus Galau Partai Demokrat

Galau PKS versus Galau Partai Demokrat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

galaudakwatuna.com – Pernyataan Ruhut memang menarik untuk dikaji lebih dalam terutama tentang kegalauan PKS. Disebutkan bahwa kicauan PKS soal menolak kenaikan BBM merupakan bentuk dari kegalauan atas kasus yang menimpa salah satu tokoh partai Islam tersebut. Menggelikan! itulah komentar Ruhut. Namun sebagai masyarakat yang cerdas tentu kita pernah pula menyaksikan kegalauan-kegalauan partai lain.

Berikut ini kegalauan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera menurut saya, dengan melihat perspektif pemberitaan yang ada di media massa:

Galau Pergantian Anas dan LHI

PKS mengalami badai hebat pasca penangkapan LHI sebagai tersangka dugaan kasus suap impor daging. LHI pun melepas mandat jabatan presiden kepada Majelis Syura PKS. PKS mengalami ‘kegalauan’ dalam menentukan pengganti kepemimpinan pasalnya ada 2 calon yakni, junior dan senior. Sebagian pengamat politik dan kader melihat sosok Hidayat Nur Wahid sebagai figur yang tepat di kondisi saat ini. Walau demikian, kandidat Anis Matta pun tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam prahara yang besar ini, PKS mampu menyelesaikan ‘kegalauan’ dengan singkat dan apik. Tak lama berselang, AM dipilih sebagai presiden PKS dan menguatkan konsolidasi partai dalam menghadapi badai politik yang kian memanas.

Ternyata PD juga mengalami kegalauan. Kasus yang menimpa Anas Urbaningrum menjadi polemik istimewa bagi PD. Mulai dari isu dugaan terkait kasus Hambalang, bocornya sprindik, dugaan pelengseran AU dan penandatanganan Pakta Integritas. Akhirnya AU mundur dari jabatannya. Namun kegalauan PD tidak berhenti sampai disini. Kekosongan jabatan ketua umum harus segera diisi mengingat pendaftaran Bakal Calon Anggota Dewan sudah di depan mata. Menjelang KLB di Bali, lagi-lagi muncul polemik galau dalam memilih figur yang tepat dalam memimpin PD menjelang Pemilu 2014. Hingga akhirnya SBY harus rela menyelamatkan partai sebagai ketua umum dengan beberapa syarat diantaranya penambahan struktur partai dan masa jabatan yang singkat.

Galau Pecah Koalisi/Setgab

Mendepak PKS dari setgab bukan lagi isu asing di media. Beberapa kali PKS diisukan akan dikeluarkan dari Koalisi namun tampak angin galau yang kencang. Entah angin ini berpihak pada siapa? Tetapi keduanya sama-sama dinilai galau oleh publik. Di satu sisi, kegerahan partai-partai yang berkoalisi dalam setgab terhadap ketidaksejalanan PKS dan PKS tetap berkicau hebat dalam menolak kenaikan BBM. Di sisi lain, kebimbangan setgab untuk mendepak PKS dari koalisi yang belum memutuskan apa-apa. Akankah kegalauan ini terobati?

Lembaran dan Bukti Galau

Kegalauan point ini mungkin sudah lenyap tertelan waktu. Karena isu tentang lembaran-lembaran pernyataan Anas belum terekspos sama sekali. Tetapi kegalauan lembaran-lembaran itu sempat menjadi kegalauan yang rumit pasalnya seperti terjadi adu statemen. PD siap menghadapi lembaran-lembaran AU. PD mempersilahkan AU membuka lembaran PD dan sebagainya.

Bukti galau PKS seperti ketidakjelasan status LHI dan bukti-bukti yang tidak jelas menyudutkan LHI. Sampai saat ini, Kasus LHI masih terus digoreng namun alot. Entah kapan ‘gorengan’ ini akan matang? Terlebih peristiwa penyitaan mobil di DPP PKS oleh tim penyidik KPK tanpa membawa surat penyitaan. PKS menilai ada festivalisasi dalam kasus yang menimpa mantan presidennya. (sbb/dakwatuna)

Kelihatan galau tidak?

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Suryadi firdaus
Pemerhati komunikasi penyiaran, Penggiat pendidikan

Lihat Juga

Pilkada DKI

Tak Usung Kader Sendiri, Ini Pertimbangan PKS Usung Anies-Sandi