Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Tiga Kunci Kebahagiaan

Tiga Kunci Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

CoverJudul: Dahsyatnya Sabar, Syukur, & Ikhlas

Penulis: Abdul Syukur

Penerbit: Sabil

Tahun terbit: Cetakan I, Februari 2013

Tebal: 188 halaman

ISBN: 978-602-7724-44-0

Harga: Rp 32.000,-

dakwatuna.com Selama jantung masih berdetak, ujian akan selalu hadir dalam hidup semua manusia. Entah ujian yang menyangkut harta, cinta, cita-cita yang tertunda, atau kesuksesan dalam hal apapun yang belum memihak pada kita. Saat itulah kesabaran sedang diuji.

Seorang mukmin dianjurkan untuk senantiasa sabar ketika ditimpa kesusahan. Kesabaran menjadi salah satu kunci utama untuk meraih kebahagiaan di dunia. Sabar akan membuat seseorang merasa ringan dalam menghadapi segala bentuk dalam hidupnya. Karena ia paham benar bahwa roda kehidupan selalu berputar. Setelah datang kesusahan maka akan ada kemudahan setelahnya. Tidak mungkin seseorang akan selamanya mengalami kesusahan ataupun sebaliknya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sabar terbagi tiga yaitu sabar dalam berbuat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar menerima takdir Allah yang menyakitkan. Kesabaran bukanlah berpangku tangan dan pasrah tanpa melakukan ikhtiar. Justru dengan bersabar kita akan selalu berupaya untuk menyempurnakan ikhtiar dengan berusaha lebih keras lagi.

Jika hati sudah bisa bersabar maka rasa syukur pun akan mengiringi. Syukur adalah kunci kebahagiaan yang kedua. Bersyukur atas segala sesuatu yang ditetapkan Allah atas dirinya. Baik saat lapang maupun sempit. Allah berjanji akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur sebagaimana firmannya dalam surat brahim (14):7 “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih.” (halaman 18)

Ayat di atas juga mengandung arti bahwa seseorang tidak perlu menunggu mendapat nikmat terlebih dulu baru bersyukur. Justru dengan banyak bersyukurlah maka nikmat itu akan bertambah. Banyak manusia yang tidak bersyukur dengan nikmat yang sudah diterimanya. Sering menyalahkan orang lain atau bahkan berprasangka buruk pada Allah atas kesusahan yang menimpanya. Manusia yang seperti ini seharusnya sadar bahwa Allah tidak pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya dan mulai belajar untuk bersabar.

Banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup. Seperti misalnya siapa yang mampu menyediakan oksigen untuk dihirup sendiri? Siapa yang mampu menyediakan layanan aliran darah dalam pembuluh darah untuk tubuhnya sendiri? Allah memberikannya secara gratis. Pernahkah kita mensyukurinya? Itu baru contoh sekitar tubuh kita. Nikmat sehat yang sering tidak disadari. Belum nikmat-nikmat lainnya yang juga sering luput untuk disyukuri.

Kunci kebahagiaan yang ketiga adalah keikhlasan. Yang juga merupakan kunci diterimanya suatu amalan. Berapapun banyaknya amal yang dilakukan jika tidak diiringi dengan keikhlasan bahwa ibadahnya semata karena Allah maka semua akan sia-sia. Sesungguhnya amal itu hanya bergantung pada niat, dan seseorang hanya memperoleh  menurut apa yang diniatkan. Untuk itu perlu meluruskan niat tiap kali melakukan suatu amalan (halaman 145).

Kata ikhlas begitu mudah diucapkan tapi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari bukanlah sesuatu yang mudah. Meskipun lisan berkali-kali mengeluarkan kata ikhlas namun dalam hati belum tentu sepenuhnya ikhlas. Ada beberapa penyebab rusaknya keikhlasan manusia dalam beribadah. Diantaranya karena pamer (riya’ ), ingin dilihat orang (sum’ah) dan bangga diri (ujub) merasa ibadahnya lebih baik dari yang lain. Untuk menghindari penyakit-penyakit penghapus pahala tersebut ada 10 tips yang diberikan oleh penulis di halaman 131-132.

Buku ini juga menganjurkan kepada setiap mukmin untuk dekat dengan orang-orang yang baik akhlaknya. Sehingga kita bisa bercermin dari perilaku mereka. Banyak membaca kisah orang-orang yang ikhlas (mukhlis) agar mengenal pemikiran dan keimanan mereka. Sehingga diharapkan akan memberikan pengaruh positif kepada yang membacanya.

Tak lupa untuk memohon pertolongan kepada Allah dalam segala hal. Tidak ada ibadah kecuali untuk Allah. Tidak ada permohonan pertolongan selain kepada Allah. Jika mengalami suatu kesusahan yang teramat sangat ingatlah untuk menerapkan tiga kunci kebahagiaan di atas. Begitupun ketika bahagia datang jangan lupakan tiga kunci kebahagiaan. Dengan begitu semoga kebahagiaan akan senantiasa ada dalam hidup kita.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (mamhtroso.com)

Al-Fatihah, Kunci Pembuka