Home / Pemuda / Cerpen / Ketika Si Abang Tersengat Virus Merah Jambu

Ketika Si Abang Tersengat Virus Merah Jambu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Buat para orang tua yang memiliki anak mulai beranjak remaja, semoga tulisan ini bermanfaat.

dakwatuna.com  – Tak terasa waktu berlalu cepat, aku sudah memiliki dua perjaka keren dan dua gadis menginjak remaja. Yach… sebagai orang tua, ternyata harus terus meng-upgrade diri supaya bisa mengikuti perkembangan anak-anak. Karena mereka hidup tidak sezaman dengan kita, maka pola asuh yang dulu kita terima dari orang tua kita, tidak serta merta dapat diterapkan kepada anak-anak kita.

Aku banyak belajar dari mana saja. Dari psikolog, seminar, bertanya kepada ahlinya, atau bertanya dari orang yang lebih dulu mengalaminya. Dari sana semoga aku bisa belajar menjadi orang tua bijak yang bisa mendampingi pertumbuhan anak-anakku yang hidup di zaman yang penuh tantangan informasi yang punya dua sisi bertolak belakang, bisa membangun atau merusak.

Kembali ke topik yang akan ku bahas seputar anak remaja yang mulai pubertas.

Ah si abang makin keren dan gaya (hehe..lebay si ibu muji anaknya terus). Ya biasalah namanya juga ortu suka “nyakepin anak sendiri (muji-muji anak sendiri bilang cakep, ganteng dsb)”. Aku jadi teringat masa-masa dia di SMK. Kebetulan dia bersekolah di jurusan desain yang kebanyakan diisi oleh siswi. Adapun siswanya Cuma dua gelintir, selebihnya kaum hawa.

Tentu saja abang “shock”, betapa beda pergaulan dia yang kala SMP “Nyantri” bila ketahuan  berhubungan dengan lawan jenis, walau sekedar titip salam, atau curi-curi pandang “Bah” bisa kena setrap wali asrama dengan berbagai hukuman tergantung berat ringannya pelanggaran. Yang paling berat adalah sangsi “dipulangkan“ alias DO, dikeluarkan dari pesantren. Ini pernah dialami teman anakku.

Kembali ke cerita soal si anak yang cakep ini. Pernah suatu kali dia sedang duduk di kantin minum jus buah , tiba-tiba datang cewek dari belakang langsung menyerumput jus buah yang sedang di genggamnya…Kontan abang kaget. Belum sempat dia menyadari apa yang terjadi si cewek kabur sambil tersenyum dan melampaikan tangan dan berteriak:

”Makasih ya jus nya…..!!”

Abang bengong dan memandangi jus dalam gelas di tangannya yang belum sempat dinikmatinya, separuh isinya sudah pindah ke perut orang lain.

Lain waktu saat jam pulang sekolah, para siswa berebut ke kantor guru untuk mengambil HP yang harus dititipkan selama belajar di kelas. Tiba-tiba ada cewek yang nyamber HP di tangan abang sambil berujar: ”ada nomerku ga di HPmu?” “Wah kok ga ada, aku masukin yaa!” Lalu si cewek menyerahkan kembali HP abang. Begitu dicek ada tertulis Yayang 08xxxxxxx

Ya itulah contoh beberapa kejadian yang bikin anakku shock menghadapi pergaulan di sekolahnya. Betapa para “Zulaiha” mencari perhatian sedemikian rupa untuk menggoda “yusuf

Begitu lulus SMK dia kuliah di jurusan iklan sambil kerja di perusahaan periklanan, ya sesuai dengan keahlian yang digeluti waktu SMK. Di tempat kerja dan kuliah dunia intertainment menyebabkannya merasa tertekan. Buat mereka anakku aneh karena tidak merokok, aneh karena sholat, aneh tidak pacaran. “Eh Lu Bencong??”

Waduh… kembali abang merasakan tekanan shock berikutnya. Ditambah lagi gelora jiwa remajanya sudah mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis. Perasaan tertekan itu butuh tempat/ pelabuhan. Untuk mengurai hentakan-hentakan emosi yang mendera. Kesibukannya antara kerja dan kuliah menyebabkannya jarang pulang hingga kami jarang bertemu fisik.

Kerja kelompok di kampus menyebabkannya dekat dengan teman sekelasnya. Ada tiga cowok yang berusaha mendekatinya dan menarik perhatiannya. Anehnya si cewek malah sering mencari perhatian kepada anakku. Memang banyak hal yang bikin cewek-cewek sering cari perhatian kepada abang, ini mungkin beberapa sebabnya:

  1. Abang pendiam, bikin cewek-cewek penasaran dan merasa tertantang untuk menaklukkannya.
  2. Abang keren, ke sekolah bawa moge (bisa beli dengan hasil keringat sendiri, walau sebenarnya motor kopling biasa yang dimodiv)
  3. Abang sudah kerja , jadi setidaknya ada sedikit jaminan masa depan.

Suatu kali ketika kami sedang jalan santai olah raga pagi, abang cerita soal gadis yang sudah mencuri hatinya. Wah… sedikit terkejut tapi aku berusaha tenang, agar dia bisa curhat seluruh isi hatinya. Aku harus menempatkan diri seperti temannya yang membuat dia merasa aman dan nyaman untuk curhat. Jangan belum apa-apa langsung di hardik ”AWAS. Bahaya Laten gak boleh pacaran dalam Islam bla-bla-bla”. Bisa kabur dia, dan aku malah tambah sulit menasehatinya.

Ini dialogku dengannya

Ibu: ”Pake jilbab gak tuh cewek”

Abang: ”Enggak… aku risih lah deketin cewek yang berjilbab, pasti dia juga gak mau dideketin, karena dia udah tau Islam kan melarang pacaran”

(point 1. Dia tau kalau Islam melarang pacaran, walau salah juga dia tertarik dengan yang belum berjilbab)

Ibu: ”Tapi kamu harus hati-hati, jangan suka diboncengin, nanti dia merangkul pinggangmu dari belakang,…. Iii awas Yaa!”

Abang:” Nggak kok… aku sekedar ingin merasakan aja, gimana sih rasanya punya pacar. Ha ha. Ibu kan juga dulu pernah ngerasain, masa aku ga boleh… Aku hanya ingin buktikan bahwa aku normal, tidak seperti yang dituduhkan teman-temanku… Aku juga baru menyadari ternyata ada orang lain yang suka padaku, padahal selama ini aku cuek, songong ga peduli dengan lingkungan sekitarku.”

(point 2.Ingin belajar menjadi manusia normal yang suka dengan lawan jenis. Bahaya kalau suka dengan sesame jenis.)

(point 3. Ingin menepis tuduhan teman bahwa aku bukan banci)

(Point 4. Manusia makhluk social membutuhkan orang lain. Dan butuh perasaan diterima oleh lingkungan, si abang baru menyadari ada orang lain yang suka dengan ku, berarti keberadaanku diakui, dihargai diterima sebagai teman, atau lebih dari teman)

Ya sudah… hati-hati ya… jangan lama-lama. Cukup sekedar kau celupkan jari untuk tau dunia pergaulan yang selama ini kamu penasaran. Jangan kau ceburkan dirimu terlalu dalam, nanti susah menarik kembali untuk keluar, atau putus darinya.

Si abang hanya tersenyum, wajahnya cerah.

Perjalanan waktu terus bergulir. Beberapa kali si cewek datang ke rumah, saat kerja kelompok, saat abang sakit. Ternyata lama-lama dia pake jilbab. Menurut si Abang, sebenarnya pacarnya itu hanif, sering tilawah Qur’an, hanya saja dia belum menemukan orang yang bisa membimbingnya kea rah pemahaman Islam yang mendalam. Dia merasa abang telah banyak membimbingnya, hingga dia berani memutuskan untuk menutup aurat.

Aku sendiri tidak melarangnya secara keras, hanya memberinya pandangan dan arahan agar bisa menjaga batas-batas. Karena pacar bukan berarti jodoh kita. Berapa banyak orang yang pacaran tapi menikah dengan orang lain. Berapa banyak orang lama berpacaran tapi begitu menikah hanya seumur jagung. Berapa banyak orang yang tidak menikah dengan pacarnya. Berapa banyak orang yang menikah tanpa pacaran dan hidup langgeng.

Aku member tanda petik dengan ucapannya sendiri. Bahwa “Aku sedang belajar, bergaul dengan orang lain, menikmati bagaimana rasanya mendapat perhatian khusus dari orang lain di luar keluarga kita.”

Oke… ku tunggu eksekusinya, kapan kau akhiri masa ”belajarmu”

Aku sendiri selalu berdoa memohon kepada Allah agar anakku selalu dalam lindungan dan hidayah Allah, “hanya kepada-Nya ku titipkan anakku”, aku memohon supaya dia segera putus dengan pacarnya. Supaya Allah memberikan jodoh yang terbaik.

Suatu hari anakku pulang sekitar jam 4 sore, aku masih berada di atas sajadah , masih dzikir ashar.

“Bu… ade udah cerita belum?” sapanya sambil menyalami tanganku

“Cerita apa…?” keningku berkerut. “Nggak tuh ademu ga cerita apa-apa.

“Sebentar deh… aku mau cuci muka dulu…” Jawab abang sambil masuk ke kamar mandi.

Sepertinya ada masalah yang berat dan serius yang ingin disampaikan. Dia seperti mempersiapkan diri, mengumpulkan kekuatan, untuk menyampaikan sesuatu yang penting, Kira-kira masalah Apa yaaa?” sambil menunggunya membersihkan muka, Aku berpikir keras menebak-nebak.

Abang duduk di depan sajadah menghadap ke arahku. Nafasnya panjang, coba menenangkan diri. Air mukanya keruh, mendung ku lihat matanya. Wajahnya muram.

“Aku sudah ambil keputusan….” Abang membuka pembicaraan.

Aku berusaha menguatkan hatinya, kupandangi wajahnya dan kuusap rambutnya. Kutunggu lanjutan ceritanya.

“Kemarin dua hari yang lalu, aku menemukan momen yang sudah lama aku tunggu. Momen untuk bisa memutuskan dia….” Suara abang parau. Mendung mulai jatuh menjadi butir-bening di pipinya.

“Dia kaget… dan pasti shock. Pasti sekarang juga dia sedang menangis curhat dikelilingi ortu dan kakaknya…. Dia tidak percaya. Sama seperti aku juga tidak percaya, akhirnya aku bisa melakukannya, mengakhiri hubungan kami yang sudah 2 tahun terjalin.

“Teman- teman juga ga ada yang percaya, karena mereka melihat kami pasangan yang akur, ga pernah rebut…” Bu biarkan dia menuturkan semua isi hatinya, dalam hati aku bersyukur… inilah jawaban Allah atas doa-doaku.

Abang mulai tenang… nafasnya kembali normal. Dia melanjutkan ceritanya.

“Waktu itu dia rada merajuk, hal sepele bikin dia marah… tiba-tiba saja terlintas dalam benakku, sekarang lah saatnya, lalu ku katakan : ”Ya sudah… kita balik aja kaya dulu…”

“Maksudmu…” dia ga percaya minta penegasan.

Dadaku bergemuruh… aku menguatkan diri: ”Ya… kita balik seperti dulu.. sebagai teman biasa”. Dia menangis… ga percaya dengan apa yang didengarnya. Aku ga tega melihatnya, aku tinggalkan dia, cabut ke kantor.

“Di kantor aku galau, aku ingin pulang ke rumah tapi ibu lagi sibuk melayani konsumen IO, di kantor juga lagi banyak kerjaan, baru dua hari setelahnya aku bisa nyempatin pulang. Jujur bu… aku menekan perasaanku… aku masih menyayangi dia, aku banyak member dia nasihat . Sejak kenal aku sholatnya jadi rajin, bahkan dia berani memutuskan untuk menutup aurat. Itu satu keputusan besar dalam hidupnya, karena dia berada dalam keluarga yang bebas, tidak menanamkan nilai-nilai agama seperti keluarga kita”

“Kamu hebat anakku….”aku memujinya dengan tulus

“Allah telah memberimu kekuatan, menunjukimu jalan yang lurus… memberimu kesanggupan mengambil keputusan besar yang melawan hati nuranimu sendiri.” Tuturku lembut.

“Kamu telah dewasa, kamu bisa memutuskan perkara yang rumit. Allah menyayangimu, dia selamatkan dirimu dari kubangan dosa…dia kuatkan dirimu untuk mengambil jalan yang lurus. Alhamdulillah….Doa-doa ibu telah diijabah Allah…” ujarku lirih

“Jujur… setiap sholat ibu berdoa supaya kamu putus dengan dia, ibu berharap Allah memudahkan jalan kea rah itu… dan sekarang… kamu sudah menjadi pemenang… kamu sanggup berbuat sesuatu yang melawan kehendak nafsumu. Ya.. kamu hebat, kamu pemenang.

“Tentang dirinya, serahkan kepada Allah, jika dia menutup aurat karena Allah , maka Allah akan membimbingnya kea rah hidayah, dia akan tetap menutup aurat. Tentang dirimu… pasti sudah Allah siapkan pengganti yang jauh lebih baik, lebih sholeha, karena Allah telah berjanji bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik, yakinlah itu”.

Tak terasa waktu hampir maghrib. Terlihat wajahnya mulai cerah.

Dua hari setelahnya abang sms.” Bu… aku belum berhasil jadi muslim yang baik… aku kerdil… aku ga tahan lihat dia boncengan dengan temanku… reflek aku marah… setelah itu aku baru sadar.. Dia sudah jadi teman biasa,….aku malu sendiri”.

“Sayang, syetan tidak akan rela melihat orang berbuat baik, setan membolak balok manusia untuk kembali maksiat, mohon kekuatan kepada Allah, kalau kamu galau sempatkan pulang, kita ngobrol bareng.” Demikian sms balasanku.

Beberapa hari setelah itu aku mengajak nya bersilaturahim dengan sahabat lamaku. Ternyata suaminya seorang penulis buku, akhirnya silaturahim itu membawa rezeki, anakku dapat job membuat cover dan lay out buku, sebuah pengalaman baru dari situ dia bisa dapat Rp.4,5 juta hanya dalam dua minggu, sama dengan gaji 3 bulan ditempat kerjanya. Ku katakana kepadanya:

”Inilah balasan Allah kepada hambanya yang bertakwa, dengan penuh kesadaran menjauhi maksiat.”

“Hah… selama ini… ternyata pacaran menyempitkan rezeki aku!!”serunya dengan mata berbinar.

”Astaghfirullah…, terima kasih ya Allah aku telah kau beri petunjuk”

Dari honor itu, dia tambah dengan gajinya dan sedikit tambahan dari kami, dia bisa beli laptop baru untuk menunjang pekerjaannya seharga Rp 11 juta. Dia makin yakin dengan jalan yang ditempuhnya…. Dia berusaha melupakan wanita yang telah mengisi hatinya.

Beberapa bulan setelah itu abang bisa pindah kerja ke tempat yang lebih baik. Dengan gaji yang lebih besar dan lingkungan kerja yang lebih islami. Paling tidak dia bisa hidup normal, tidak banyak begadang seperti di kantor sebelumnya.

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ibu dengan 4 putra putri, 3 di antaranya sedang memasuki usia remaja. Mahasiswa STIU (Sekolah Tinggi Ulmu Usuluddin) jurusan tafsir hadits semester 3. Aktif mengajar majlis taklim, punya usaha rias muslim. Beberapa tulisan pernah dimuat di Tarbawi di rubrik kiat.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang