Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Mari Berguru Pada Lebah

Mari Berguru Pada Lebah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ketika-rasul-bangun-kesianganJudul: Ketika Rasul Bangun Kesiangan

Penulis: Muslich Taman

Penerbit: Zaman

Tahun Terbit: April, 2010

Jumlah Halaman: 196 halaman

ISBN: 978-979-024-250-0

dakwatuna.com Rasulullah pernah menyampaikan bahwa setiap mukmin itu seperti lebah

sebagaimana dalam hadits berikut, “Orang beriman itu seperti lebah: hanya memakan

makanan yang bersih, mengeluarkan yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak

merusak tempat yang dihinggapi,” (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Bazzar).

Coba kita perhatikan, lalat adalah serangga yang akan mudah kita temukan di tempat

yang kotor, tempat sampah dan tempat yang berbau busuk. Sedangkan lebah, selalu berada di

tempat yang terpilih. Ia mendekati bunga-bunga, atau buah-buahan atau tempat-tempat yang

bersih yang mengandung madu. Maka sejatinya, seorang mukmin pun harus begitu. Selalu

berada di tempat yang membuatnya menjadi lebih baik dan kemudian menyebarkan kebaikan.

Apa yang ia masukkan ke mulutnya hanyalah kebaikan, apa yang ia dengar juga kebaikan,

dan apa yang ia lihat adalah kebaikan. Sehingga tempat yang disinggahi setiap mukmin

tersebut merasakan manfaat.

Selain itu kita tahu madu adalah produk istimewa lebah. Ia memiliki banyak khasiat

bagi manusia. Maka, seharusnya setiap mukmin pun begitu. Ia memiliki produtivitas dalam

berkarya dan kebaikan untuk kemanusiaan. Melakukan kesalehan ritual dan sosial.

Lebah juga pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”),

lebah pekerja membersihkan sarangnya untuk telur baru. Dan, setelah telur itu berumur tiga

hari, ia memberi makan larva dengan membawakan serbuk madu. Maka, begitulah juga

seorang mukmin. Hari-harinya penuh semangat berkarya. Lebah juga hidup dalam koloni besar, tidak soliter. Mereka bekerja secara kolektif

dengan tugas masing-masing. Ketika mendapatkan sumber sari madu mereka memanggil

teman-temannya untuk menghisap bareng-bareng. Begitu pula ketika ada bahaya, seekor

lebah akan mengeluarkan feromon, zat kimia yang dikeluarkan untuk mengundang temantemannya untuk membantu. Nah, seharunya setiap mukmin pun begitu dalam hidup saling

membantu, bagaikan satu shaf seperti dalam firmannya di surat al-shaff ayat empat.

Lebah juga tidak akan melukai jika tidak diganggu. Dia akan menyengat jika ada yang

mengganggunya atau terancam. Dan untuk mempertahankan diri, mereka rela mati dengan

melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Maka, begitu pula seharusnya mukmin,

tidak mencari musuh, dan melakukan pertahanan diri jika diganggu.

Hal ini terdapat dalam buku karya Muslich Taman di halaman 75-79. Selain kisah ini

buku ini juga terdapat 49 kisah lainnya yang menghangatkan jiwa. Ada kisah Rasulullah

yang datang terlambat ke masjid saat shalat shubuh dan membawa berita tentang kafarat. Ada

pula kisah tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang tahan terhadap godaan iblis. Kesemua

kisah dalam buku 196 halaman ini sangat menyentuh jiwa serta menghangatkannya. Tak

salah jika ini saya rekomendasikan bagi Anda untuk turut membaca dan mengambil

manfaatnya. Selamat membaca!

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Rasyid Ridho
Alumni Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso. Anggota Forum Lingkar Pena. Pendiri Klub Pecinta Buku Booklicious. Anggota Bondowoso Writing Club. Fulltime writer.

Lihat Juga

MA (kanan) dan ayahnya, Adnan Achmad (kiri). (Foto: tribunnews)

Siswa dan Orangtua yang Terlibat Pemukulan Guru di Makassar Jadi Tersangka