Home / Narasi Islam / Sosial / Anti Prematurisasi Dalam Menilai dan Beropini

Anti Prematurisasi Dalam Menilai dan Beropini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

#opinidakwatuna.com Di awal tulisan ini saya mencoba membingkai pemikiran awal kepada pembaca terkait hasil analisis dan pengamatan saya terkait kondisi yang berkembang di media saat ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia memiliki banyak pengaruh dalam membangun cara berfikir dan menilai masyarakat terhadap sesuatu. Maka hal yang perlu kita sadari bahwa nuansa yang berkembang di dalam sebuah pemberitaan media saat ini memiliki kemungkinan tingkat ambivalensi yang tinggi. Artinya secara realitas mungkin memiliki nilai kebenaran tapi tidak memiliki nilai kejujuran. Di sisi lain, sebagian besar opini masyarakat merupakan buah dari rekayasa penyuguhan informasi yang dikemas oleh media. Sehingga menjadi penting bagi kita sebagai objek dari media untuk menghindari sikap prematur dalam menilai dan beropini terhadap sesuatu.

Sikap pertama yang harus dimiliki adalah meletakkan hak saudara muslim sebagai saudara seiman untuk senantiasa berprasangka baik selama ia masih memiliki iman dan tunduk dalam ketaatan kepada Allah. Biarlah beningnya hati yang memulai sebuah proses penilaian dan beropini kita terhadap sesuatu. Hal ini pernah dicontohkan oleh khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ketika ia mendapati gubernurnya di Hims yang bernama Sa’id bin Amir dilaporkan oleh rakyatnya terkait empat perkara. Pertama, setiap harinya, dia baru keluar dari rumahnya untuk melayani rakyatnya di kala matahari sudah tinggi. Kedua, di malam harinya ia tidak mau melayani siapapun. Ketiga, dalam satu bulan, ada satu hari dimana dia tidak melayani rakyatnya sama sekali. Keempat, dia sering sekali mendadak pingsan tak sadarkan diri.

Keempat keluhan ini benar-benar menggoncang perasaan Umar. Karena, Sa’id bin ‘Amir adalah salah satu sahabat Rasulullah yang terpercaya. Umar sangat mengetahui reputasinya selama ini. Rasanya tidak mungkin dia berbuat dzalim terhadap rakyatnya. Akhirnya, dia memanggil Sa’id bin ‘Amir sang gubernur guna dimintai keterangan mengenai keluhan-keluhan penduduk Hims atas kinerjanya selama ini. Bahkan, dia memanggilnya dan mengadilinya langsung di hadapan penduduk kota.

Mengetahui sang khalifah bertabayyun dengan santun dan penuh keseriusan. Sa’id bin Amir mengemukakan alasan-alasan dari keempat keluhan yang dialami oleh rakyatnya. Pertama, ia mengatakan “Aku tidak memiliki pembantu di rumah. Setiap pagi aku membuat sendiri adonan roti untuk keluargaku, kemudian aku juga yang memanggangnya hingga matang. Setelah semuanya selesai, aku  lantas berwudhu kemudian keluar melayani mereka”. Kemudian, jawaban kedua “aku telah mengorbankan waktu siangku demi melayani mereka,  jadi sudah sewajarnya bila waktu malamku aku khususkan untuk bermunajat kepada Allah ta’ala”. Hati Umar bin Khattab mulai tenang dan berbunga mendengar penjelasan darinya. Ketiga, “wahai amirul mukminin, aku tidak memiliki pelayan yang mencucikan pakaianku, dan juga aku tidak memiliki pakaian lain selain yang menempel di badanku ini. Oleh karenanya, aku mencuci pakaianku ini satu kali dalam sebualan. Pada hari itu aku mencucinya, kemudian aku menungguinya hingga mengering pada sore hari”, jawab Sa’id. Keempat, yang membuatnya sering pingsan karena ia mengingat kisah Khubaib Al Anshori ketika menemui ajalnya. Yang mengantarkan Sa’id untuk merenung menyesal karena ia tidak menolongnya dalam mengajaknya beriman kepada Allah karena saat itu Sa’id masih dalam keadaan kafir. Ia khawatir karenanya, Allah tidak mengampuni dosa yang telah ia perbuat.

Mendengar jawaban-jawaban Sa’id di atas, hati Umar berbunga-bunga. ”segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan penilaianku berupa prasangka baik terhadap dirinya meleset”, kalimat itulah itulah yang spontan terlontar dari lisannya. Betapa bahagia dia, ternyata tudingan-tudingan penduduk Hims tehadap orang kepercayaannya ini  hanya salah paham belaka.

Sikap kedua untuk kita mempertahankan objektivitas serta kejujuran dalam menilai keadaan adalah berusaha untuk melihat situasi dari berbagai perspektif. Dan keutamaan perspektif adalah pandangan yang berlandaskan dari Al Quran dan intuisi hati. Ketika Rasulullah mengatakan “istafti qolbak” bukan serta merta kita memberikan penilaian sepihak mengatasnamakan hati nurani. Namun sebaiknya kita bertanya, apakah penilaian kita sudah berdasarkan petuntuk yang Allah ilhamkan kepada kita melalui Al Quran? Karena Al Quran adalah sebaik-baiknya pandangan bagi seorang mukmin.

Terkadang kita jengah dengan para badut-badut politik yang berusaha untuk mengkamuflase keburukan menjadi kebenaran setinggi langit. Jenuh melihat pada sinden hukum yang banyak berbicara tentang penegakkan hukum namun tidak sedikitpun menyentuh pada ranah penegakkan keadilan. Tanpa sadar sebenarnya mereka melepas fitrah dua sisi mata uang yang tak pernah terpisahkan antara nilai kebenaran dan kejujuran. Ketika kita dalam kondisi seperti ini maka sebaiknya ada dua sikap di atas yang harus kita lakukan. Boleh jadi upaya kita untuk bersikap pun muncul keraguan dan kegamangan. Inilah keterbatasan ilmu dan wawasan kita sebagai manusia. Hanya satu yang harus kita yakini bahwa Allah Maha Mengetahui yang paling baik dan Dia memiliki cara untuk mengungkapkan kebenaran yang paling baik pula.

Saudaraku, telusurilah nilai kebenaran dan kejujuran dan berusahalah untuk menggapainya walau dengan keterbatasan yang ada. Bukankah jam dinding yang rusak sekalipun, ia setidaknya mengungkapkan kebenaran dua kali dalam sehari. Maka, tak ada alasan untuk kita bersikap lebih buruk dari sebuah jam dinding rusak.

 

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Solli Murtyas
Solli Murtyas atau biasa dipanggil Solli adalah seorang anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Tangerang 12 Maret 1989 dan bertumbuh di tiga kota berbeda Tangerang, Karawang dan Yogyakarta. Dengan tiga latar tempat bertumbuh yang berbeda, ia menjadi seorang yang memiliki pandangan hidup inklusif dan mencoba dekat dengan siapapun. Sekarang ia sebagai ketua FLP Wilayah Yogyakarta dan dengannya ia merasa hidupnya penuh warna karena berteman dengan banyak orang hebat dan inspiratif. Ia memandang bahwa hidup ini seperti halnya sebuah ajang lomba marathon. Tidak berfikir apapun pandangan para pesaing kita bahkan sorak sorai para penonton. Namun fokus kita hanya lari dan mencapai garis finish dengan cara terbaik yang Allah Ridhoi. Karya yang sudah diterbitkan sebagian besar berupa karya ilmiah paper, dan dengannya ia pernah berhasil menghadiri dan presentasi pada konferensi ilmiah di Bangkok-Thailand dan Michigan-United States of America.

Lihat Juga

Bagaimana Reaksi Dunia Arab dalam Masalah Kudeta Militer di Turki?