Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menuju Cinta-Nya Melalui Untaian Kata-Kata

Menuju Cinta-Nya Melalui Untaian Kata-Kata

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

penadakwatuna.com

Bagi saya menulis itu dari hati. Tidak dibuat-buat, tidak dicari-cari, bukan hanya dilihat dari indahnya untaian kata-kata melainkan merupakan ekspresi dari sebuah pemikiran maupun keresahan. Pemikiran dan keresahan yang selanjutnya diniatkan untuk mengajak orang lain menuju kebaikan. Begitu juga dengan dakwah. Dakwah itu dengan keteladanan. Jika apa yang kita sampaikan tidak berasal dari hati, tidak menjadi kebiasaan kita sehari-hari melainkan hanya teori-teori yang seolah menjadikan kita begitu terlihat berisi, maka ada yang salah dengan dakwah kita. Berdasarkan firman Alloh dalam Q.S Aa-Saff ayat 2-3: Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Alloh jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Selama kita masih mampu melakukan apa yang kita sampaikan, maka lakukanlah karena satu keteladanan lebih bermakna daripada seribu kata-kata. Toh yang membuat objek dakwah kita mendapat hidayah dan berubah bukanlah kepiawaian kita dalam berdakwah, bukan pula kebaikan-kebaikan diri kita dalam rangka memikat hati sang objek dakwah. Hanya Alloh lah yang berkuasa membolak-balikkan hati hambaNya, menyelipkan hidayah di dalam hati mereka. Semua itu tergantung ridho atau tidaknya Alloh atas ikhtiar kita dalam berdakwah. Oleh karena itu ketika apa yang kita sampaikan hanya berakhir di kata-kata maka yakinkah Alloh ridho terhadap ikhtiar kita dalam berdakwah?

Di zaman yang makin berkembang ini tentunya metode dakwah yang kita lakukan juga harus menyesuaikan karakteristik sang objek dakwah. Layaknya sebuah seni membungkus tujuan sebenarnya dengan cover yang disukai objek supaya tujuan kita tercapai, juga bagaimana kita bisa mempengaruhi seseorang supaya pemikiran dan pemahaman mereka sesuai dengan kemauan kita, itulah politik dalam berdakwah. Misalnya saja Sunan Kalijaga menyisipkan ajaran Islam melalui kesenian Jawa karena beliau tahu objeknya menyukai kesenian dan tidak mudah bagi objek untuk menerima ajaran agama baru yang berbeda dengan apa yang diyakini selama ini. Begitu juga yang harus kita terapkan di zaman sekarang. Trend yang berkembang di masyarakat sekarang adalah dakwah melalui media elektronik misalnya Televisi dengan “ustadz gaul” dan karya tulis seperti novel. Jika kita amati, maka terdapat persamaan antara keduanya. Kedua metode itu sama-sama mudah diterima oleh masyarakat karena substansi yang akan disampaikan dibawakan secara ringan, fresh, menyesuaikan trend anak muda zaman sekarang, mudah dicerna dan tidak terkesan menggurui. Namun ada satu poin yang dimiliki oleh dakwah melalui tulisan yang tidak dimiliki oleh dakwah melalui media elektronik, yaitu poin keabadian. Nilai-nilai pemikiran, keresahan, ideologi dan apa saja yang kita dakwahkan dapat tetap hidup melalui tulisan walaupun sang penulis sudah meninggal dunia, tak lekang oleh waktu bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya. Berbeda dengan dakwah melalui media elektronik yang begitu menuntut eksistensi dari para da’i, ketika sang da’i sudah tidak diminati lagi oleh masyarakat maka kesempatan sang da’i untuk berdakwah melalui media elektronik pun terhambat.

Menulis bukan sekedar untuk menyalurkan keresahan-keresahan yang tertumpuk dalam dada maupun pemikiran yang berkecamuk di dalam kepala. Lebih dari itu, bagi saya menulis adalah sarana untuk menyampaikan kebaikan, membungkus ayat-ayat indah dari surat cintaNya agar mudah dicerna dan dilakukan oleh objek dakwah. Selain itu menulis merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kita terhadap ilmu yang kita peroleh. Terkadang, banyak ilmu yang kita serap, namun seberapa besarkah yang kita sampaikan pada orang lain? Hal ini merupakan salah satu tolok ukur kebermanfaatan kita bagi orang lain. Sesuai dengan firman Alloh dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 104: Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Wallahu a’lam bi shawab

About these ads

Redaktur: Aisyah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anak pertama dari dua bersaudara, merantau ke Yogyakarta, ingin belajar ilmu dunia dan akhirat. Mahasiswa Farmasi UGM 2011.