Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Urgensi Pendidikan Akhlak Bagi Pemuda

Urgensi Pendidikan Akhlak Bagi Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa menjelmanya kehidupan dunia yang serba elegan dan instan telah membius kebanyakan pemuda ibu pertiwi. Sangat membanggakan sekali bila bius itu membawa mereka ke arah yang lebih baik, membantu membentuk kepribadian yang istiqamah dan membimbing mereka menemukan hakikat kehidupan, namun sayangnya malah tidak. Sebagian besar bius yang disuntikkan oleh kehidupan dunia malah bius yang belum disterilkan hingga di dalamnya masih mengandung virus-virus berbahaya, yang senantiasa menggerogoti moral para pemuda, membawa mereka pada aktivitas yang sia-sia, dan menjauhkan mereka dari kehidupan islami seperti yang telah Rasul ajarkan.

Lihatlah fenomena saat ini, canggihnya teknologi yang tidak diimbangi dengan pemahaman bijaksana tentang mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan membuat kebanyakan pemuda lupa akan hakikat terciptanya teknologi itu, sebagiannya malah menggunakannya untuk hal-hal yang mengundang setan dan kemaksiatan. Bagaimana tidak? Penggunaan internet yang super-duper bebas di kalangan pemuda tentu saja akan membuka peluang besar bagi mereka untuk mengakses apa saja, bahkan tayangan yang tak pantas sekali pun. Tentu saja hal ini bisa menggerus keimanan dan mengusutkan pikiran, akibatnya rasa untuk senantiasa takut dan merasa diawasi Allah akan berkurang dan kelalaian bertambah sejadi-jadinya, bukankah janji Allah itu pasti? Bahwa Allah akan menjauhi orang-orang yang menjauhi Nya dan dekat-sedekat-dekatnya pada orang yang selalu berusaha datang kepada Nya. Nah, mari kita jernihkan lagi pikiran, ternyata pembatasan tentang mana yang pantas dan tidak pantas di tengah-tengah maraknya perang pemikiran saat ini memang sangat penting. Agar generasi Islam khususnya, menyadari hakikat keberadaan mereka di dunia ini. Karena mereka, 10 – 15 tahun ke depan akan menjadi pemimpin-pemimpin besar. Lalu, mau dibawa ke mana negeri ini jika calon pemimpinnya saja masih belum bisa membatasi mana baik dan mana yang tidak baik.

Pengajaran tentang tingkah laku sungguh sangat mendapatkan tempat khusus dalam Islam, sebab sejatinya Rasul diutus untuk memperbaiki tingkah laku manusia. Seperti yang kita ketahui, akhlak merupakan karakter mendasar yang melekat pada diri seorang muslim. Semua kepribadian, sikap, dan sifatnya akan terbaca dari cara bagaimana ia bergaul, berbicara, berhubungan dengan orang lain dan lainnya. Sebagai pemuda muslim, seharusnyalah alarm kesadaran akan rambu-rambu perilaku yang jauh dari kemuliaan itu senantiasa dinyalakan, mengingat zaman yang semakin mendesak dan terdesak oleh kegiatan sia-sia yang selalu mengintai korban untuk dijadikan budak-budak kemaksiatan. Pemeliharaan akhlak tidak boleh dianggap hal sepele, boleh jadi hati yang sering berpaling dan condong pada hal-hal negatif karena hilangnya bimbingan bisa menjadi penyebab rontoknya akhlak mulia dari dalam diri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-tarmidzi menjelaskan bahwa Rasulullah bersabda: “mukmin yang paling sempurna imannya, adalah yang paling bagus akhlaknya”. Jelas sudah, urgensi pembenahan akhlak para generasi tidak boleh di belakangi lagi, sudah menjadi kewajiban siapa saja untuk sama-sama menyokong pembentukan dan pemeliharaan akhlak mulia di kalangan generasi muda.

Adalah hal wajar bila pemuda kita masih terlalu banyak berada di zona merah ketidakpantasan, seperti pacaran dan pegang-pegangan, meninggalkan shalat, bermalas-malasan, tidak punya visi hidup dan lain sebagainya, karena memang arus pembodohan karakter itu telah mereka ‘iya kan’ sebagai sebuah budaya kemajuan zaman. Boleh kita berkembang, beradaptasi dengan lingkungan dan kemajuan masa, tapi sehendaknyalah karakter sejati kita sebagai seorang muslim tidak hilang karena kemajuan-kemajuan itu. Miris sekali memang, melihat diskotik lebih penuh ketimbang masjid oleh para generasi, warnet lebih padat ketimbang TPA oleh anak remaja, dan bahkan tutur katapun sudah di luar rambu-rambu kepantasan, alias sering kali karena mereka merasa lebih gaul, lebih segar dan lebih trendi, berbicara dengan orang tua tidak lagi ada sopan-sapanya.

Bagaimana kondisi ini masih dianggap biasa saja? Hei, ayo pandang lagi, keadaan ini telah menggerogoti jantung keislaman generasi kita. Adalah tugas besar bersama bagi kita, yang hatinya masih terpilih dan bergerak di jalan Allah untuk menjadi pengubah paradigma kebanyakan pemuda yang masih belum menyadari betapa pentingnya kemuliaan akhlak itu, sebab tidak akan selamanya kita menapaki bumi ini. Ada kematian yang mengintai, senantiasa menghitung hari keberangkatan kita, lantas jika tidak juga mengerti pasti akan sulit nantinya. Akhlak menjadi pondasi dan cermin imannya seseorang, maka untuk memperkuat barisan Islam generasi penerus bangsa, akhlak yang masih jauh dari perintah Allah harus segera diluruskan, baik dengan penerapan penanaman karakter bagi remaja di sekolah maupun mahasiswa di kampus. Kegiatan-kegiatan positif untuk memanfaatkan waktu, dan yang penting metode pemurnian akhlak ini bisa didapat dari tarbiyah kita, seberapa sering kita menimba ilmu untuk mempelajari apa yang belum diketahui, sebagai bekal penuntun seperti apa hendaknya kita bertingkah laku.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Pa Moyo)

Saat Eskalasi Perang Suriah Menjadi Perang Dunia

Organization