Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Istri & Putri Rasulullah SAW

Istri & Putri Rasulullah SAW

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul : Istri & Putri Rasulullah SAW
Penulis : Abdullah Haidir
Penerbit : Pustaka IKADI
Cetakan : Februari 2013
Tebal : xvi + 275 Halaman 

Parade Keluarga Rabbani

Cover buku "Istri & Putri Rasulullah".
Cover buku “Istri & Putri Rasulullah”.

dakwatuna.com – Di balik kesuksesan seorang lelaki, pastilah terdapat peran besar seorang perempuan di belakangnya. Baik itu pasangan hidup, ibu ataupun anak-anaknya. Fenomena ini merupakan sebuah pelajaran berharga bahwa siapapun yang hendak mencetak sejarah, tidaklah bisa mengesampingkan peran keluarga. Terutama orang tua, belahan jiwa dan juga buah hatinya.

Fenomena ini pula yang kita dapati dalam sosok Muhammad bin Abdullah. Sang Rasul keturunan Quraisy yang berhasil mencatat sejarah dengan tinta emas lantaran keberhasilannya dalam membimbing umat manusia dari gelap menuju cahaya. Bahkan, pada masanya, kaum muslimin yang awalnya buta aksara, berhasil mengaumkan potensinya hingga berhasil menaklukkan imperium besar peradaban yang didominasi oleh Romawi dan Persia.

Kecemerlangan tersebut terus berlanjut hingga masa setelahnya. Sehingga Islam yang beliau bawa berhasil menguasai dua pertiga belahan bumi. Rahmat Islam bagi semesta kala itu, benar-benar terwujud. Bukan sekadar retorika apatah lagi teriakan-teriakan ‘syari’ah’ di jalan-jalan raya sebagaimana kita temui belakangan ini.

Buku yang ditulis oleh ustadz Abdullah Haidir ini menjelaskan tentang peranan Tujuh Belas wanita luar biasa yang mendampingi Rasulullah. Wanita-wanita tersebutlah yang menemani Rasul dalam menyebarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Keberadaan mereka, tak ubahnya oase dalam terjalnya jalan dakwah yang dilalui oleh sang Nabi Teladan.

Ketiga belas istri Rasul sebagaimana dijelaskan dalam buku setebal 275 halaman ini adalah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Zum’ah, ‘Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Ummu Salamah binti Abu Umayah, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Zainab binti Jahsy, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti al-Harits bin Hazn, Juwairiah binti al-Harits bin Abi Dhirar, Shafiah binti Huyay, Mariah al-Qibtiyah binti Syam’un, dan Raihanah binti Zaid. Wanita-wanita mulia ini dijuluki dengan Ummul Mukminin.

Ketika menyelami lebih mendalam tentang kehidupan masing-masing istri Rasulullah, kita akan mendapati bahwa mereka semua memanglah pilihan Allah lantaran kesungguhan mereka dalam melayakkan diri sehingga bersanding dengan manusia paling utama. Kita juga akan mendapati bahwa kehidupan rumah tangga mereka tak ubahnya kehidupan kita pada umumnya. Ada konflik kecil, kecemburuan, kekurangan materi, hingga masalah-masalah serius yang sempat meruncing dan hampir menuju kepada jenjang perceraian. Bedanya, kehidupan Rasul ini sepenuhnya dibimbing oleh wahyu. Ketika salah, Allah langsung mengingatkan. Sehingga kita tidak akan mendapati cacat sedikit pun dalam hal ini.

Saudah binti Zum’ah, ‘Aisyah binti Abu Bakar adalah dua istri nabi yang hampir diceraikan. Sedangkan Hafshah binti Umar sudah sempat ditalak satu, namun dirujuk kembali karena perintah Allah. Hafshah dibela oleh Allah lantaran kebiasaannya melakukan puasa sunnah dan qiyamullail.

Kesemua peristiwa ini, jika dipandang dengan jernih, maka hanya akan menghasilkan sebuah pelajaran berharga. Bahwa sakinah, mawaddah warahmah bukanlah hasil instan. Dibutuhkan proses panjang untuk mencapai derajat itu.

Pelajaran berharga lain yang bisa kita urai dari rumah tangga nabi adalah adanya misi besar bernama dakwah. Bahwa Rasul diutus untuk menyadarkan umat manusia agar hanya beribadah kepada Allah. Agar mereka masuk Islam secara menyeluruh. Misi besar inilah yang membuat mereka bertahan dan tidak terpengaruh dengan riak-riak kecil yang terjadi dalam rumah tangga. Bahkan, masalah-masalah itu semakin menguatkan mereka bahwa ada Allah yang harus mereka nomor satukan. Ada amanah besar untuk mencerahkan umat manusia. Sehingga, mereka tidak punya waktu untuk meratapi hal-hal kecil itu.

Sedangkan keempat putri nabi yang dijelaskan dalam buku terbitan Pustaka Ikadi ini adalah Zainab al-Kubro, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah az-Zahra.  Di dalam menjelaskan profil istri dan putri nabi, penulis juga membahas tentang nasab, kronologi pernikahan mereka dengan Rasulullah, peristiwa-peristiwa penting yang mereka alami, kepribadian dan sifat utama, sampai waktu wafatnya.

Yang tak kalah menariknya, penulis juga menyajikan bantahan-bantahan untuk para Pencela Islam terkait kisah-kisah fitnah yang sering mereka perdagangkan. Disajikan pula tentang predikat-predikat ‘paling’ dari masing-masing istri beliau. Misalnya, Khadijah adalah istri pertama Sang Nabi. Beliau merupakan janda dua kali. Beliau paling sering dicembururi oleh ‘Aisyah lantaran Sang Nabi selalu menyanjungnya meskipun beliau telah berpulang ke rahmatullah. Beliau mempersembahkan seluruh harta, jiwa dan raganya untuk dakwah hingga akhir hayatnya.

‘Aisyah adalah istri yang paling pencemburu. Ia adalah satu-satunya perawan yang dinikahi oleh Rasulullah ketika usianya 6 tahun dan baru hidup bersama setelah menginjak usia 9 tahun. Ia paling banyak meriwayatkan hadits, dan sempat mengalami ‘konflik’ terhadap ‘Ali bin Abi Thalib lantaran hembusan fitnah kaum munafik dalam Perang Jamal. Kecemburuan beliau bukan hanya kepada Khadijah, melainkan juga pada Hafshah yang cantik, ahli ibadah dan juga keturunan bermartabat. Ia juga cemburu kepada Mariyah al-Qibtiyah lantaran kecantikan dan keturunannya yang terhormat dari bangsa Mesir. Sehingga nabi, ‘harus’ memisahkan Mariyah di rumah tersendiri untuk menghindari konflik.

Lain lagi dengan Zainab binti Zum’ah. Beliau dinikahi oleh nabi ketika hendak hijrah ke Madinah, setelah Khadijah wafat, saat Fathimah tengah membutuhkan sentuhan lembut seorang ibu. Fisiknya gemuk. Setelah ‘Aisyah hidup bersama nabi disusul dengan istri-istri lain, ia bersikap lapang. Meminta agar nabi tidak menceraikannya, sedangkan ia tetap bisa fokus beribadah dan menjadi Ummul Mukminin. Maka, ‘jatah’ Zainab kala itu, diberikan kepada ‘Aisyah lantaran beliau memahami bahwa Rasul tidak bisa menahan diri ketika bertemu dengan Putri Abu Bakar ini.

Terkait putrid beliau, kita mendapati fakta bahwa menantu pertama beliau, suami Zainab al-Kubro, adalah salah satu musuh dakwah. Ia belum bisa menerima Islam di Mekkah, terlibat dalam barisan pasukan musyrikin dalam perang Badar. Meskipun pada akhirnya masuk Islam setelah Badar usai. Sedangkan Ruqoyyah dan Ummi Kultsum harus menjadi janda lantaran diceraikan oleh suami masing-masing. Kedua suami dari putrid sang nabi ini adalah Utbah dan Utaibah bin Abu Jahal. Di akhir cerita, kedua putri nabi ini dinikahkan dengan Utsman bin ‘Affan sehingga beliau dijuluki dengan Dzun-Nurain (Yang memiliki dua cahaya).

Serta banyak lagi kisah-kisah inspiratif yang disajikan dalam Parade Keluarga Rabbani ini. Sangat disayangkan jika dilewatkan.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial