14:29 - Rabu, 17 September 2014

Tifatul: Uje Ustadz Muda yang Langka

Rubrik: Nasional | Kontributor: dakwatuna.com - 27/04/13 | 12:29 | 17 Jumada al-Thanni 1434 H

Ustadz Jefry Al-Buchory (inet)

Ustadz Jefry Al-Buchory (inet)

dakwatuna.com – Jakarta. Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring menilai Jeffry Al-Buchory atau populer disebut Uje adalah sosok ustadz yang langka karena disukai oleh lintas kalangan, baik dari orang muda maupun orang tua.

Tifatul seusai shalat Jumat dan shalat ghaib, di Mesjid Wisma Antara Jakarta, mengatakan dirinya merasa kehilangan atas kepergian Uje yang berpulang sekitar pukul 02.00 Jumat dini hari.

Kepergian itu terasa mendadak tetapi waktu dan tempat berpulang adalah rahasia Allah dan manusia hanya bisa menerimanya.

Dijelaskannya, dia mengetahui Uje wafat setelah melihat berita di internet seusai shalat subuh. “Saya kaget membacanya dan merasa kehilangan karena almarhum adalah sosok langka yang dikagumi dan disukai lintas kalangan, dari anak muda hingga orang tua,” kata Tifatul.

Menteri asal PKS itu menyatakan tidak terlalu dekat dengan Uje, tetapi mengikuti perkembangan dunia dakwah. Umumnya, dunia dakwah diminati kaum tua tetapi generasi Uje memunculkan fenomena baru dan almarhum cukup menonjol dan mewakili kaum ustadz muda.

“Almarhum sangat memahami jiwa dan psikologis anak muda dan berdakwah dengan bahasa mereka,” kata Tifatul.

Dia berharap muncul ustadz muda pengganti Uje. Dia memberi contoh, jika Nabi wafat maka pewaris adalah ulama.

“Kami berharap muncul Uje Uje baru yang dapat merangkul anak muda untuk gemar beragama dan meramaikan masjid,” kata Tifatul.

Usai shalat Jumat, Tifatul mengajak jamaah shalat ghaib mendoakan almarhum.

Uje meninggal setelah mengalami kecelakaan tunggal di Pondok Indah.

Sahabat ustadz Jeffry, ustad Mahdy Alatas mengatakan sebelum meninggal Uje sedang melakukan kegiatan bersama rekan-rekannya di komunitas motor gede.

Pada saat melakukan kegiatan tersebut, Uje sempat menyampaikan pesan terakhir kepada para sahabatnya yang sedang mengikuti kegiatan tersebut.

“Beliau sempat bilang kepada para sahabatnya bahwa hari ini adalah hari terakhir beliau menggunakan BlackBerry sebagai alat untuk berdakwah,” ujar ustadz Mahdy.

Para sahabat tidak mengetahui secara pasti mengapa Uje mengatakan hal tersebut. Namun dia mengenal Uje sebagai sosok yang bersahaja dan selalu berdakwah secara baik.

“Berdakwah itu biasa dilakukan beliau lewat apapun,” katanya.

Beberapa hari sebelum wafatnya, Uje menyampaikan sebuah pesan dalam twitternya dengan tulisan, “Pada akhirnya semua akan menemukan yang namanya titik jenuh dan pada saat itu kembali adalah yang terbaik. (utr/ant)

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Topik:

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 7,75 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
53 queries in 1,236 seconds.