Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Komunitas Futur

Komunitas Futur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Di kampung saya ada sekelompok orang yang ditengarai mengidap penyakit kronis. Tetangga-tetangga saya menamakan mereka sebagai “Komunitas Futur”. Telinga mereka tidak tuli, tetapi entah kenapa mereka tidak dapat mendengar suara adzan. Kaki mereka tidak cacat, tetapi entah mengapa para lelakinya sangat jarang tampak berjamaah shalat di masjid. Sekalinya ke masjid hanya saat shalat Idul fitri, itu pun dengan langkah terpincang-pincang. Tangan mereka tidak buntung, tetapi entah mengapa tidak bisa terulur untuk memberi sedekah, tidak pula bisa menengadah untuk berdoa’. Lidah mereka fasih bersia-sia, tetapi gagu saat membaca Al-Qur’an.

Komunitas futur ini sangat kompak. Romantisme mereka adalah “sakit satu, sakit semua”. Maka tidak heran, seluruh anggota komunitas tersebut mengidap penyakit pengerasan hati. Akibatnya, hati mereka kehilangan kemampuan untuk memproduksi empati serta kesulitan melawan infeksi virus cinta dunia dan takut mati. Komunitas ini juga terkenal tidak bertanggung jawab. Serahkan padanya amanah, dijamin akan dilalaikan. Jika penyakit tersebut tidak diobati, menurut dokter di Puskesmas kami, anggota Komunitas Futur dapat meninggal dalam kondisi mengerikan, yang secara medis disebut su’ul khatimah.

Menurut selentingan yang saya dengar, dahulu Komunitas Futur itu adalah orang-orang yang baik dan rajin bekerja. Sampai akhirnya ada wabah malas yang melanda kampung tersebut. Ada orang yang berusaha menyembuhkan diri, ada pula orang yang membiarkan virus malas ini beranak-pinak dalam dirinya. Atas dasar kecocokan, orang-orang dengan tipe kedua kemudian berkumpul. Dalam majelis mereka seringkali terdengar perbincangan-perbincangan tak berguna. Lama kelamaan, kerusakan pada sel-sel tubuh mereka semakin meluas. Bukannya meminta tolong untuk diobati, orang-orang ini malah mengisolasi diri dari jamaah. Ya sudah, jadilah namanya Komunitas Futur.

Sebenarnya saya pun sempat terjangkit penyakit futur ini. Namun beruntungnya, saya ditangani oleh dokter yang tepat. Dokter tersebut mewanti-wanti saya untuk sekuat tenaga menjauhi maksiat dan istiqamah dengan amalan-amalan harian. Katanya, amalan-amalan harian itu nutrisi untuk meningkatkan kekuatan rohani dan jasmani sementara maksiat itu zat antinutrisi yang menghambat penyerapan nutrisi. Kemudian untuk mempercepat proses penyembuhan, saya dikarantina dalam majelis orang-orang shalih. Lumayan, hati saya lama-lama melunak saking seringnya mendengar dzikrullah mereka. Di majelis tersebut juga sering didengung-dengungkan kisah nabi dan rasul yang tidak pernah lelah memperjuangkan agama Allah. Yah, bagaimana bisa saya tidak kecipratan semangat?

Setiap hari, dokter mengecek kondisi kesehatan saya. Kalau saya ada tendensi untuk bandel, saya ditakut-takuti dengan azab neraka. Sebaliknya, jika saya menampakkan perilaku yang baik, saya dihadiahi dengan cerita-cerita tentang kenikmatan surga. Oh ya, jangan dikira saat menjalani terapi ini saya seperti pesakitan yang dikerangkeng, disuruh kerja rodi, dan diberi makanan yang tidak layak! Justru saya dimanjakan dengan makanan dan minuman yang bergizi, didampingi untuk menjalankan aktivitas yang bermanfaat, serta diberi keleluasaan untuk beristirahat secukupnya. Saya juga diperbolehkan untuk bergurau, bermain, dan bertamasya ke tempat yang indah-indah.

Menjelang detik-detik kesembuhan, saya tidak sengaja melihat sebuah buku yang terbuka di atas meja praktik dokter. Ada kalimat yang ditulis dengan tinta emas. Saya yang penasaran membacanya,

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ali-Imran: 146)

Ah, saya jadi malu…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Menghabiskan masa kecil di desa, kuliah di Kota Kembang, hobi menulis dan bercerita.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November

Organization