16:12 - Jumat, 25 April 2014
Maharani Yas

Jangan Pergi, Dinda…

Rubrik: Cerpen | Oleh: Maharani Yas - 11/02/13 | 11:30 | 29 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Sekarang aku hanya bisa melihat senyumnya dalam bayanganku saja. Tak pernah lagi aku melihatnya tertawa riang seperti dulu ketika ia tak begini. Jika pun ia tertawa, itu hanya lah ekspresi kegilaannya. Bukan lagi wujud kewarasan.

Aku harus bolak-balik ke panti rehabilitasi ini, melihat kondisinya yang seperti mayat hidup, antara ada dan tiada. Tubuh kurus, layu dan tatapan hampa. Ia seperti terbuai dalam mimpinya sendiri, entah apa. Ingin rasanya aku masuk dalam khayalnya itu, agar aku tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkannya.

Antara sedih dan marah tiap kali aku melihat sesosok tubuh tak bersemangat itu. Bayangku selalu tertuju pada reka adegan setahun silam, yang ketika ku teringat, hati ini bagai terhujam sembilu. Tangis tercekat di tenggorokanku. Perih!

***

            “APA kegiatanmu hari ini?” tanyaku padanya pagi itu.

“Aku akan pergi dengan Rio. Ada pesta kecil-kecilan di rumahnya. Hari ini dia ulang tahun.” jawabnya sambil terus berdandan.

“Siapa saja yang pergi?”

“Aku dan beberapa teman dekatnya.”

“Sampai jam berapa?”

“Sudahlah, Rika…. Berhentilah bersikap seolah kau adalah ibuku!”

***

Jam dinding menunjukkan pukul 22.50 WIB. Teman-teman kos yang lain sudah menikmati tidurnya. Hanya satu kamar yang penghuninya masih terbangun. Aku. Menunggu sahabatku yang tak kunjung pulang sejak pertengkaran kami sore tadi. Berulang kali aku menghubungi nomor ponselnya, tidak aktif.

Aku mulai risau. Tak biasanya dia begini. Aku bergegas mengambil jaket, tas dan kunci motorku. Melaju di kebingaran kota ini menuju tempat yang aku tak tahu pasti apakah seorang yang aku cari ada di sana. Hingga tibalah aku pada alamat yang ku tuju, tapi rumah besar bercat hijau itu tampak sepi.

“Assalamu’alaikum, Pak…” sapaku pada lelaki paruh baya yang kudapati tengah duduk santai di pos jaga rumah ini.

“Wa’alaikumsalam, Dek. Cari siapa?” jawabnya.

“Rio ada, Pak? Saya mau memberi hadiah ini. Hari ini dia mengundang saya ke pesta ulang tahunnya. Dia bilang pestanya diadakan di rumah. Tapi kenapa terlihat sepi ya, Pak? Apa pestanya sudah selesai?” jawabku agak gugup. Beliau melihat ke arah tanganku. Sebelum sampai ke sini, aku mampir terlebih dahulu ke toko penjualan berbagai jenis kado. Aku hanya membeli kotak kadonya saja. Hanya itu, untuk sekadar berpura-pura, jikalau seandainya aku menemui kejadian begini. Bertemu penjaga rumahnya.

“Pestanya ada, Dek. Di lantai dua. Tapi… “

“Tapi apa, Pak?”

“Kenapa adek baru datang jam segini, dan…. pakaian adek, apa tidak salah?” aku terdiam. Kembali memutar otak untuk menjawab kecurigaan bapak ini.

“Saya baru pulang dari kegiatan kampus, Pak. Belum sempat pulang untuk ganti baju, langsung buru-buru ke sini. Memangnya kenapa, Pak? Kucel ya?” Aku menjawab seadanya. Ya Allah, aku berbohong lagi…. Sebenarnya aku merasa takut, tak pernah aku keluar rumah semalam ini. Belum lagi perasaan bersalah. Apa pantas jilbaber sepertiku keluar rumah tengah malam begini? Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar khawatir dengan sahabatku. Allah, maafkan aku…. Doaku lirih…

“Bukan, tapi jilbabnya itu lho…. “

“Memangnya kenapa, Pak?” jawabku menyelidik. Malam itu aku mengenakan rok santika warna hijau, dan jaket model Army untuk menutup jilbab panjangku.

“Ya, aneh. Masa pergi pesta begini, dandanannya kaya mau pergi pengajian. Yang di dalam malah hanya pakai rok-rok pendek. “Kata beliau sedikit nyengir. Aku hanya cengengesan, menyembunyikan kecemasanku yang semakin menjadi-jadi. Pesta begini? Maksudnya?

“Bapak ini bisa saja… Memangnya pestanya, pesta bagaimana, Pak?”

“Ngga tau lah, Bapak. Tapi bapak sarankan adek jangan ikuti pesta ini. Kecuali kalau jilbab adek ini cuma topeng.” kata beliau sambil membuka pintu pagar.

Aku tersenyum getir, ketika mendengar kalimat bapak ini. Setelah pagar di buka, aku masuk sambil membawa motorku. Aku masuk lewat pintu bagasi setelah aku memarkirkan motorku tak jauh dari pos jaga, begitu arahan dari Pak Agus, bapak penjaga tadi.

Ruang yang pertama ku masuki ini adalah dapur. Tak ada siapa-siapa di sini. Masuk ke ruang tengah, terdengar suara music dari lantai atas. Cukup keras. Aku melihat ke lantai atas, Dengan agak gugup aku menapaki satu per satu anak tangga. Teringat akan kalimat Pak Agus tadi. Tapi bapak sarankan adek jangan ikuti pesta ini. Kecuali kalau jilbab adek ini cuma topeng.

Aku tiba di bibir atas tangga. Tanpa izin, aku bergabung dengan mereka. Pesta yang tidak beres ternyata, ku lihat botol minuman keras ada di mana-mana. Mungkin karena itulah mereka tak begitu menyadari kehadiranku. Remang. Ada beberapa wajah yang ku kenal, tapi yang ku cari tak kunjung ku temukan. Yang ada hanya sekitar delapan orang. Ada empat pasang muda-mudi yang “teler” di ruang tengah lantai atas ini. Aku terus mencari. Kususuri satu persatu sudut ruangan dengan tetap berdiri di bibir tangga. Mataku tertuju pada jam dinding yang cukup besar di ruangan ini, pukul 01 dini hari. Di pojok kanan, ku lihat ada kamar yang sedikit terbuka pintunya. Dengan lancang aku masuk tanpa memberi aba-apa, dan…

Tanganku dengan gesit menarik kerah baju seorang pria. Ku lihat ia hendak menyuntikkan sesuatu ke lengan gadis lugu yang ku kenal. Ku tarik sekuat tenaga hingga ia terhempas menghujam lemari yang berada tepat di belakangnya. Gadis ini duduk setengah sadar di sofa kamar ini. Dengan sigap aku membuka ikatan kain yang mengikat lengan kanannya. Tapi aku merasa ada yang datang dengan cepat dari arah belakangku, lalu….

Aku diam. Beku. Ku lihat ada aliran darah segar mengucur dari kepala gadis yang ku sayangi ini. Kakiku terasa lemas. Harusnya vas bunga yang hendak dihujamkan lelaki itu mengenai kepalaku, namun aku berhasil mengelak, tapi serangan itu akhirnya salah sasaran.

Aku berang. Ku dekati lelaki yang juga tengah terpaku itu secepat kilat. Ku layangkan kepalan tangan kananku menuju pipi kirinya. Ia sempoyongan. Ku pukuli lagi dan lagi. Suara music yang cukup keras dari luar membuat yang lain tak menyadari apa yang tengah terjadi di kamar ini. Aku lihat lelaki itu tak berdaya. Aku pun kelelahan. Sudah lama aku tak mempraktekkan ilmu karate sabuk hitamku, sejak aku memilih untuk berjilbab.

Aku menelepon seorang teman yang punya koneksi ke kepolisian di kota ini. Beberapa saat dua mobil polisi menyambangi rumah yang tengah mengadakan pesta miras dan narkoba tersebut. Rio si pemilik rumah jadi sasaran utama. Tak lupa aku meminta polisi-polisi ini untuk mendatangkan ambulance. Sahabatku butuh pertolongan.

“Maaf, Pak… Saya hanya ingin menjemput teman saya. Saya tidak tahu jika akhirnya begini. “Kataku kepada Pak Agus.

“Tidak apa, Dek. Semoga dengan ini, Rio jadi sadar. Bapak tidak bisa berbuat banyak. Orang tua Rio sebentar lagi akan kemari. “

Polisi memboyong seluruh peserta pesta untuk dimintai keterangan tentang kejadian malam itu, termasuk Pak Agus. Aku bergegas mengikuti ambulance yang membawa temanku ke rumah sakit. Ia mengalami pendarahan di kepalanya.

***

Aku menatap lekat wajah yang pucat pasi itu. Aku memeluknya dalam. Ku harap ia merasakan kerinduan di hatiku ini atas dirinya yang dulu, sebelum mengenal lelaki yang kini mendekam di penjara, sebelum mengenal pergaulan yang merusak cita-citanya, sebelum ia mengenal dunia yang ia katakan bisa menghilangkan kesedihannya ditinggal mati kedua orang tuanya, sekitar lima bulan sebelum kejadian malam itu. Tangisku berderai tak henti. Hati ini sakit menyesali kejadian malam itu. Mulutku merucau mengungkapkan penyesalanku. Isi hatiku yang tak terbendung mengharapkan kesembuhannya.

“Din, apa yang kini kau rasakan. Bicaralah… katakan padaku. Aku merindukanmu… aku rindu saat kita makan berdua, bercanda, belajar bersama. Bicaralah, Din! Sadarlah!” kataku sambil memegang bahunya dan sedikit mengguncang tubuhnya, berharap ada reaksi dari sahabatku ini. Tapi nihil.

Lama aku memeluknya sambil terus membelai punggungnya yang terasa ringkih. Aku sesegukan menahan sakit di hatiku ini. Aku mendekapnya erat. Lalu, ku rasakan basah dan hangat di bahu kananku. Aku melepaskan pelukanku padanya. Ku lihat ia menangis.

“Aku mau menyusul ibu dan ayahku. Kau ingin ikut, Rika?” Tanyanya datar. Aliran darah terasa deras ku rasa dalam tubuhku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia tersenyum, manis sekali.

“Jangan pergi, Dinda… Kau harus sembuh!“ bisikku. Aku memeluknya lagi sambil menahan haru. Asa ku tumbuh mendengarnya bicara. Lafazku tak henti berdoa, memohon kesembuhan kepada Sang pemegang nyawa. Lama, hingga kurasakan tubuhnya melemah. Lunglai. Dingin. Akhirnya beku dan kaku.

“Dinda……..!!”

Maharani Yas

Tentang Maharani Yas

Mahasiswi Universitas Riau Program Study Ilmu Administrasi Negara angkatan 2010. Saat ini aktif di organisasi dakwah kampus, dakwah sekolah dan organisasi kepenulisan FLP (Forum Lingkar Pena) Wilayah Riau. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (10 orang menilai, rata-rata: 9,80 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Dian

    sangat menyentuh sekali….. hebat……

Iklan negatif? Laporkan!
79 queries in 1,047 seconds.